Kelompok pemuda yang bersemangat dalam berdakwah memang berkembang pesat dalam beberapa tahun belakangan. Trend ‘Ngustadz’ dari seseorang yang baru mencelupkan ujung kukunya ke dalam samudera Ilmu Islam, merupakan fenomena yang cukup memprihatinkan.
Islam mengajarkan kita untuk menghargai anugerah fisik kita, mempraktikkan kebiasaan hidup bersih yang baik, dan menjaga penampilan. Penampilan adalah bagian dari etika sopan santun kepada orang lain. Penampilan fisik bisa menjadi cerminan hati, sehingga kebersihan lahiriah juga harus menyertai kebersihan hati Muslim.
Deradikalisasi menjadi fokus pemerintahan dalam beberapa tahun belakangan. Salah satu tipe radikalisme ialah paham-paham yang ingin mengganti ideologi negara, seperti dengan menegakkan Negara Islam atau khilafah. Ini disebut juga radikal dalam politik. Ekstremis Muslim semacam itu mengklaim bahwa Islam memerintahkan umatnya untuk berjihad menentang dan melawan berbagai sistem, sampai ‘sistem politik Islam’ diterapkan umatnya. Penafsiran Islam yang secara eksplisit politis ini adalah kekeliruan memahami al-Quran. Ajaran ini sangat menyimpang keliru dan berbahaya.
Shalat sunnah di malam pertengahan bulan Sya’ban, adalah salah satu amaliyah yang kerap dituduh bid‘ah, munkar, dan tidak ada dalilnya oleh sebagian kalangan. Padahal, masyarakat Muslim di negeri kita sejak dulu cukup antusias dengan ibadah tersebut. Hal seperti ini yang kadang membuat sebagian Muslim sibuk berdebat di media sosial daripada mengejar keutamaan bulan ini. Memang ada beragam pendapat ulama tentang ibadah khusus di malam pertengahan bulan Sya’ban. Namun, amat disayangkan apabila sebagian Muslim masih saja memperdebatkannya dan bertengkar dan melewatkan banyak keberkahan bulan Sya’ban.
Di negeri ini, masih banyak orang-orang yang beragama secara emosional, tempramentil, dan jatuh dalam pikiran negatif yang cukup dalam. Padahal, Hati seorang muslim dituntut untuk bersih dari berbagai emosi negatif yang memicu krisis mental seperti ini. Pikiran turut andil dalam menentukan keadaan emosional, serta pada akhirnya memengaruhi perilaku lahiriah kita. Adanya kelompok religius yang suka rusuh dan marah-marah memang mengherankan. Sebab pada dasarnya, umat Islam senantiasa diajarkan untuk berperilaku baik, untuk itu, peran pikiran yang positif dan akal sehat sangat sentral dalam diri seorang Muslim.
Sebagian Muslim terlalu sering menanggapi kebencian dengan lebih banyak kebencian, dan terjerumus dalam siklus balas dendam. Apa yang dianggap sebagai pembelaan terhadap sekian aspek agama, berulang kali berjalan sebagai ajang pamer krisis spiritualitas. Belum lama ini misalnya, kita menyaksikan semangat ‘Bela Habib’ menginspirasi sekelompok Muslim berbuat onar di persidangan. Pernah juga terjadi aksi ‘Bela Nabi’ yang berujung pada penghilangan nyawa orang lain.
Hari ini pagi-pagi sekali, kita telah dihentak oleh kabar duka wafatnya seorang tokoh revolusioner perempuan, Nawal el-Saadawi, pembela hak-hak perempuan paling berpengaruh abad ini. Dalam budaya politik yang sangat konservatif, tinta el-Saadawi mengucur deras selama puluhan tahun, menerjang berbagai isu tabu yang menenggelamkan perempuan.
Ada riwayat hadis yang sekilas menyatakan bahwa hanya sedikit perempuan yang mencapai ‘kesempurnaan’. Ada banyak pria yang mencapai kesempurnaan, dan tidak ada yang sempurna di antara wanita kecuali Asiyah, istri Firaun, dan Maryam, putri ‘Imran (HR. Bukhari, no. 3230). Pemahaman yang salah kaprah mengklaim bahwa, menurut Islam kemampuan ‘agama’ wanita lebih rendah daripada pria. Sebab, hanya ada empat dari sekian banyak wanita yang mencapai status moral sempurna. Hal demikian merupakan kesalahpahaman yang tragis, sekaligus penyalahgunaan perkataan Nabi SAW.
Isu marital rape semakin mengemuka seiring banyaknya data dan fakta kasus pemaksaan dan kekerasan terhadap istri, yang dipublikasikan oleh Komnas dianggap ‘pemenuhan hak suami dan kewajiban istri’.Tidak heran, hingga saat ini perempuan setiap tahunnya. Sayangnya, tidak sedikit orang yang berpikir bahwa, persoalan istri ‘dipaksa melayani’ suami itu wajar dalam rumah tangga.
Arab Saudi adalah negara yang bersahabat dengan Indonesia selama lebih dari 70 tahun. Negara tempat kelahiran Islam ini, termasuk negara yang paling awal mengakui kemerdekaan Indonesia di mata dunia. Sejak tahun tahun 1950, Indonesia dan arab Saudi menjalin hubungan bilateral hingga sekarang. Duta besar ditunjuk silih berganti untuk menjaga silaturahmi ini. Yang terbaru Ialah Zuhairi Misrawi, cendekiawan Muslim muda, ditunjuk Presiden Jokowi untuk menjadi Kepala Perwakilannya di Arab Saudi.