Dalam kehidupan, saling menghargai antar sesama manusia sangat diperlukan, apalagi di saat bulan puasa. Bulan Ramadhan menjadi momen yang tepat untuk menebar virus toleransi antar manusia. Karena toleransi atau kerukunan antar umat beragama menjadi salah satu kunci penting dalam keberhasilan membangun perdamaian. Ketika berpuasa, kita diberi ujian untuk selalu bersabar dalam segala hal. Dengan adanya toleransi, kita dapat memperindah ibadah puasa yang akan kita jalani.
Ramadhan sekarang dan tahun kemarin terlihat berbeda. Jika di tahun kemarin Ramadhan banyak diwarnai aksi sweeping terhadap para pedagang secara sepihak, kali ini Ramadhan tercipta kedamaian yang tenteram. Lantaran, kelompok yang dulunya bertindak merugikan orang lain atau sweeping tersebut sudah resmi dibubarkan pemerintah. Setelah dibubarkannya kelompok tersebut, kita perlu menciptakan dan memperbarui pola kedamaian di bulan nan suci serta mulia ini agar melahirkan kehidupan yang adem, ayem, tenang dan sejahtera.
Aksi bom bunuh diri yang terjadi beberapa waktu lalu di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu (28/03/2025) lalu menandakan paham ekstremisme masih hidup bebas di sekitar kita. Peristiwa kemarin, akan menambah sejarah kelam tragedi mengerikan terorisme di negeri ini. Maka dari itu, untuk mencegah terjadinya kembali peristiwa serupa, kaum milenial harus mengambil peran dalam melakukan hal-hal baik. Karena milenial adalah kekuatan negara yang nantinya memegang teguh tongkat estafet kepemimpinan masa depan bangsa yang akan menuju ke peradaban lebih baik. Untuk itu, kaum milenial harus bersatu padu melawan terorisme agar ideologi tersebut tidak hidup bebas.
Ramadhan adalah bulan suci yang selalu dinantikan umat Islam. Pada waktu ini, Muslim yang mampu, diwajibkan untuk menunaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Bulan suci umat Islam ini menawarkan berlipat-lipat pahala dan pengampunan dosa bagi seluruh Muslim. Seseorang yang beribadah saat Ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya, karena Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia. Memperbanyak ibadah di bulan yang penuh berkah ini tentunya menjadi sebuah keharusan bagi umat Islam.
Kunjungan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj, ke Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, menandakan Kiai Said peduli akan keberagaman keagamaan di Nusantara. Sebelumnya, Gereja Katedral yang terletak di Makassar tersebut menjadi titik kebrutalan aksi terorisme. Kunjungannya tersebut merupakan bentuk nyata keindahnya toleransi di negeri ini. Maka dari itu, praktik toleransi yang dibawa Kiai Said tersebut perlu dijadikan dicontoh oleh semua kalangan masyarakat, agar kemajemukan di negeri ini dapat hidup dan dirasakan semua umat.
Beredar video yang memperlihatkan dua kelompok, antara masyarakat dan anggota Laskar Khusus Forum Umat Islam (FUI) saling bertikai. Peristiwa ini terjadi di Medan, Sumatera Utara. Hal tersebut terjadi, karena berawal dari anggota FUI yang seenaknya membubarkan kegiatan pertunjukan seni dan kebudayaan Jaran Kepang. Melalui informasi yang beredar, pembubaran acara tersebut, karena pertunjukan seni budaya Jaran Kepang dianggap syirik oleh FUI.
Melihat banyaknya kasus ustadz yang tidak memiliki etika ketika berdakwah, membuat miris kita semua. Berbahaya, apabila seseorang yang dianggap ustadz memiliki sifat angkuh, suka menantang, mengancam, dan sejenisnya, diberikan ruang untuk berkelana menyampaikan ceramahnya. Jika hal tersebut terjadi, nantinya akan merugikan kita semua termasuk negara. Mereka akan mendoktrin jamaahnya agar melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Untuk itu, dalam mencetak pendakwah, pemerintah harus segera membuat program sertifikasi ulama agar para pendakwah memiliki standardisasi. Hal ini perlu dilakukan demi mencetak ulama-ulama yang memiliki pemikiran moderat.
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, meminta jajarannya di Kementerian Agama untuk memberikan kesempatan doa versi agama selain Islam juga dibacakan pada setiap acara kementerian. Dia mengungkapkan, jika pembacaan doa hanya agama Islam, maka kesannya seperti kegiatan ormas Islam saja. Namun, kementerian yang dia pimpin saat ini bukan hanya urusan agama Islam saja, tetapi melayani seluruh agama yang ada di negeri ini. Itu sebabnya, pria yang biasa disapa Gus Yaqut ini menginginkan moderasi beragama timbul pada setiap kegiatan. Dari pernyataannya tersebut, kita semua menjadi bangga memiliki Menteri Agama yang menebar cinta.
Penangkapan terduga teroris oleh tim Datasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri semakin gencar. Dalam pembekukan terduga teroris di daerah sekitar Jakarta dan Bekasi beberapa waktu lalu, polisi menemukan barang bukti berupa atribut serta aksesoris yang berhubungan dengan organisasi terlarang Front Pembela Islam (FPI). Selain itu, beredarnya video pengakuan terduga teroris sebagai simpatisan FPI menandakan, bahwa organisasi ini adalah organisasi yang melahirkan individu penyebar teror mematikan. Maka dari itu, setelah penangkapan sejumlah pentolan FPI dan dicapnya FPI sebagai organisasi terlarang, kita harus berhati-hati atas propaganda yang dilakukan simpatisan FPI.
Peristiwa menggemparkan publik mengenai aksi terorisme di sejumlah daerah Nusantara akhir-akhir ini ternyata dilakukan oleh kalangan milenial. Banyak dari pelaku kejahatan keamanan negara tersebut berusia di bawah 30 tahun. Anak muda menjadi korban penyalahgunaan ajaran agama, sebab mereka mudah percaya dengan apapun dan tidak tepat dalam memilih guru. Karena itu, anak muda menjadi santapan empuk bagi pelaku cuci otak. Gencarnya milenial menjadi incaran predator ekstremisme, menandakan negara dalam bahaya. Maka dari itu, kita harus meningkatkan kewaspadaan atas fenomena cuci otak terorisme terhadap kaum milenial yang diprakarsai oleh pelaku kejahatan ekstremisme.