Lonjakan kasus Covid-19 di berbagai daerah kian mengkhawatirkan. Hingga hari ini, lebih dari dua juta orang positif terpapar dan jumlah kasus harian terus bertambah. Kementerian Kesehatan melaporkan, penambahan kasus Covid-19 pada Senin (21/6/2024) mencapai 14.536 orang. Dengan penambahan ini, jumlah kasus Covid-19 di Indonesia mencapai 2.004.445 orang. Angka tersebut menunjukkan, betapa ganasnya penyebaran Covid-19 yang dimulai sejak Maret 2020 lalu.
Varian virus baru pun terus bermunculan, seperti varian Delta yang berasal dari India, Alpha dari Inggris, strain Beta dari Afrika Selatan, dan strain Gamma dari Brasil. Badan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengkonfirmasi, bahwa strain Delta telah menyebar ke 62 negara dan strain Alpha telah ada di 160 negara. Yang lebih mengkhawatirkan, strain Delta diyakini memiliki kemampuan infeksinya lebih mudah menyerang usia anak-anak.
Pemerintah telah melakukan pelbagai cara untuk memutus penyebaran Covid-19, salah satunya dengan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat skala mikro. Namun cara apapun yang dilakukan pemerintah, jika tidak diikuti dengan kesadaran dan kepatuhan seluruh masyarakat terhadap protokol kesehatan sendiri, rasanya sulit untuk berhasil. Bila untuk patuh pada protokol kesehatan saja enggan, tak bisa dibayangkan kita terus hidup berdampingan dengan Covid-19 di masa depan. Oleh karenanya, perlu cara-cara yang lebih solutif dalam menerapkan protokol kesehatan.
Amat disayangkan, tahun 2021 yang semestinya menjadi gairah baru menyambut masa depan yang gemilang, justru malah menjadi ruang lonjakan kasus Covid-19. Padahal, saat ini kita benar-benar telah bosan terkukung dengan keadaan yang serba dibatasi, ingin terbebas dari Covid-19 dan beraktifitas normal seperti sedia kala. Setidaknya, ada beberapa vaktor yang layak dibenahi agar masyarakat kembali disiplin protokol kesehatan. Pertama, melihat banyak alasan yang menjadi vaktor melonjaknya kasus Covid-19, maka kesadaran mematuhi protokol kesehatan harus dimulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar. Menurunnya kesadaran dan kedisiplinan masyarakat akan protokol kesehatan terjadi karena satu dengan yang lainnya acuh, tidak peduli dan tidak saling mengingatkan. Pada akhirnya, masyarakat kita menjadi gemar berkemumun dan tidak memakai masker ketika di luar ruangan yang imbasnya rentan meningkatkan penularan Covid-19. Penerapan 3D dan 5M kini hampir tidak terlihat dijalankan lagi.
Ditambah, kenyataan masyarakat kita yang sebagian besar masih takut untuk melakukan tes ketika memiliki gejala karena adanya stigma negatif di masyarakat. Disamping itu, masih ada kelompok-kelompok yang termakan berita hoaks perihal Covid-19. Akibatnya, Covid-19 menjadi suatu hal yang dinafikan keberadaanya. Padahal, kita telah saksikan pandemi Covid-19 yang hingga hari ini kita rasakan, telah mengubah tatanaan dunia. Pandemi Covid-19 memporak-porandakan perekonomian dan kesehatan nasional maupun dunia. Tak hanya itu, pandemi juga berdampak pada pendidikan, sosial, pertahanan dan keamanan. Kesadaran akan protokol kesehatan jangan dibiarkan terus menurun, agar dapat menekan penularan Covid-19.
Kedua, pemerintah, para pemangku kebijakan, dan para publik figur harus menjadi contoh patuh protokol kesehatan. Para pejabat negara dan publik figur yang melanggar protokol kesehatan harus ditindak tegas dan diberi hukuman yang setimpal. Penghakiman terhadap pelanggar kelas bawah dengan kelas atas harus dijalankan secara adil, sehingga tidak menimbulkan kecemburuan sosial ataupun nyinyiran sumbang sebagian pihak. Kita semua perlu bergotong-royong dan saling berkolaborasi melawan pandemi Covid-19 ini. Kebijakan pemerintah mesti terpraktikkan secara nyata dan merata di masyarakat, tidak terkecuali pejabat negara dan publik figur.
Peran serta generasi muda yang melek ilmu pengetahuan, sangat diperlukan untuk terus mensosialisasikan penerapan protokol kesehatan, bahaya Covid-19, dan pentingnya vaksinasi sebagai upaya menangkal Covid-19, harus terus dilakukan. Tidak patuhanya masyarakat pada protokol kesehatan banyak disebabkan karena ketidakpercayaannya pada virus corona serta vaksinnya. Kekolotan semacam ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Virus Covid-19 nyata adanya, dan satu-satunya penangkal virus tersebut adalah vaksin.
Saat ini masyarakat membutuhkan tokoh-tokoh yang dapat merangkul dan menjadi cerminan tetap di setiap daerah, dalam rangka tetap mematuhi protokol kesehatan. Masih dibukanya mall-mall, caffe, dan tempat wisata kemudian dijadikan senjata sebagian orang untuk memprotes pemerintah menerapkan protokol kesehatan. Belum lagi para pejabat negara dan publik figur yang kerap melanggar protokol kesehatan, hanya berakhir klarifikasi dan meminta maaf. Disatu sisi petugas kepolisian amat keras terhadap rakyat jelata yang melanggar protokol kesehatan. Ketimpangan sosial ini harus disudahi, yang bersalah harus dihukum secara adil.
Menurut saya melawan pandemi Covid-19 dimulai dengan menerapkan kembali protokol kesehatan secara ketat, guna menentukan masa depan yang lebih baik. Namun hal itu tidak mudah, karena kesadaran dan pola pikir masyarakat yang belum terbentuk satu pemikirian. Keseriusan pemerintah fokus mengatasi pandemi Covid-19 dan tidak terombang-ambing oleh goncangan persoalan yang lain, akan menjadi magnet masyarakat patuh protokol kesehatan.
Memang, penyebaran virus Covid-19 juga memicu munculnya virus-virus lain. Misalnya virus hoaks, teori konspirasi, hingga isu sosial seperti rasisme. Akan tetapi hendaknya hal tersebut tidak membuat kita menghapuskan disiplin dan kesadaran akan pentingnya menjaga protokol kesehatan. Menjaga pola hidup sehat harus diterapkan, ada atau tidaknya pandemi. Berhasil atau tidaknya kita menghadapi pandemi Covid-19, akan menentukan nasib kita di masa depan. Dengan mematuhi protokol kesehatan, saya yakin, kita bisa mengatasi pandemi ini dan momen pendemi Covid-19 menjadi pembelajaran di masa yang akan datang.