Pernahkah kalian bertemu dengan orang yang berjalan sembari menundukkan kepala? Fenomena semacam ini sering kita temui di busway, kereta, mall, pasar dan area publik lainnya. Mereka berjalan sembari menudukan kepala dan berfokus pada gawai yang digenggamnya. Bahkan, secara sadar atau tidak mereka acuh dengan lingkungan sekitar. Kebanyakan dari mereka, menggunakan gawai tak lain untuk berselancar di media sosial.
Melihat story teman, postingan selebgram, atau informasi berita yang hari ini viral muncul mewarnai dan membanjiri media sosial. kebiasaan ini yang kemudian menjadi aktivitas berlebihan kita sehari-hari. Tak dapat dimugkiri memang, era digital telah memberikan ruang terbuka untuk mengekspresikan diri, akan tetapi keterbukaan itu akan berdampak pada rentannya kesehatan mental.
We are Social Network bekerja sama dengan Hootsuite, merilis laporan Digital 2021: The Latest Insights Inti The State of Digital yang diterbitkan pada 11 Februari 2021 lalu dan memaparkan bahwa masyarakat Indonesia rata-rata menghabiskan tiga jam 14 menit sehari untuk mengakses media sosial.
Dari total populasi Indonesia sebanyak 274,9 juta jiwa, pengguna aktif media sosialnya mencapai 170 juta. Artinya, jumlah pengguna media sosial di Indonesia setara dengan 61,8 persen dari total populasi pada Januari 2021. Angka ini juga meningkat 10 juta, atau sekitar 6,3 persen dibandingkan tahun lalu. Bahkan, nama Indonesia sendiri tercatat dalam daftar 10 besar masyarakat yang kecanduan media sosial.
Meskipun berbagai wacana untuk melek media sosial telah menjadi buah bibir di mana-mana, akan tetapi tingkat kecanduan mengakses media sosial pada masyarakat tidak berkurang. Mereka masih menganggap bahwa mengeskpresikan diri secara bebas melalui tulisan status, pesan yang disebarluaskan, atau penampilan foto serta video secara rutin akan membuatnya merasa nyaman. Bahkan, citra diri terbentuk bergantung apa yang dinilai oleh media sosial.
The Royal College of Psychiatrists dalam sebuah pernah memaparkan bahwa pasien-pasien gangguan kesehatan mental harus ditanya tentang berbagai hal terkait yang dikonsumsi selama mereka berada di media sosial, seperti kemungkinan material-material yang merusak. Beberapa contoh material antara lain foto-foto yang merusak dan konten yang mempromosikan perilaku yang tidak benar.
Berada di dunia maya tidak semata-mata menguntungkan karena malah menyebabkan kualitas tidur memburuk, perilaku yang menyimpang, dan mengonsumsi hoaks atau fitnah. Para peneliti mengakui bahwa media sosial tidak otomatis menjadi penyebab. Namun, mereka mengatakan, media sosial telah menjadi bagian terpenting dalam hidup sehingga bisa berpotensi merusak pada sejumlah situasi. Ada beberapa material di internet, terkhusus media sosial, yang sepertinya terlihat baik, tetapi juga bisa merusak
Kiranya, asumsi tersebut sejalan dengan yang diungkapkan oleh Sandra Ball-Rokeah dan Melvin De Fleur dalam teori yang dikembangkan yaitu Media Dependency Theory. Ball-Rokeah dan De Fleur berasumsi bahwa media massa, termasuk media sosial pada dasarnya hanyalah salah satu variabel yang menentukan efek dari sebuah proses komunikasi. Dalam teori ini, mereka menyampaikan sebuah hubungan yang integral antara khalayak, media, dan masyarakat yang lebih besar.
Pendapat teori ini juga memprediksikan bahwa khalayak akan bergantung kepada setiap informasi, konten dan fitur media yang didapat. Hal tersebut tentunya untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan tertentu. Media telah memberikan berbagai kebutuhan yang diinginkan dan kita akan membuat pilihan konten, fitur, dan informasi yang dikonsumsi. Dalam konteks ini kemudian menentukan seorang memiliki ketergantungan dalam mengakses media. Tentunya, faktor tersebut sangat berbahaya bagi kesehatan mental.
Sementara itu, terdapat empat hal untuk mengurangi bahaya media sosial terhadap kesehatan mental kita, di antaranya pertama batasi waktu dan tempat untuk mengakses media sosial. Menggunakan media sosial memang dapat mempengaruhi komunikasi langsung kita terhadap orang lain. Dengan mematikan notifikasi aplikasi media sosial atau menyalakan mode pesawat pada waktu tertentu setiap harinya.
Kita bisa berhubungan lebih baik dengan orang lain. Misalnya, tidak mengecek media sosial saat makan bersama keluarga dan teman, saat bermain dengan anak. Hindari mengakses media sosial agar tidak menganggu pekerjaan atau mengalihkan percakapan dengan kolega. Selain itu, jangan simpan ponsel atau komputer di kamar tidur, karena akan menganggu waktu tidur.
Kedua, jadwalkan periode ‘detoksifikasi’. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ‘detoksifikasi’ media sosial atau jeda selama beberapa hari dapat menurunkan level stress dan meningkatkan kepuasan hidup. maka dari itu, mulailah jadwalkan jeda harian dari media sosial selama beberapa hari.
Ketiga, gunakan media sosial dengan penuh kesadaran: mengapa saya lakukan ini? Apabila membuka media sosial telah menjadi hal pertama yang dilakukan pada pagi hari, apakah itu karena ingin mengetahui berita terkini atau hanya kebiasaan sebagai pelarian dalam menghadapi hari baru? Apakah justru memilih melihat unggahan di Instagram misalnya, ketimbang mengerjakan tugas yang sulit di tempat kerja? Jawablah pertanyaan ini secara jujur kepada diri sendiri. mengapa saya melakukan ini sekarang? Putuskan apakah hal tersebut memang yang harus dilakukan.
Keempat, kehidupan di media sosial bukan pengganti kehidupan nyata. Jean M. Twenge dalam jurnalnya Does Online Social Media Lead to Social Connection or Social Disconnection? (2013) menuliskan bahwa media sosial telah membangun ikatan yang dangkal dan lemah. Meningkatkan fokus diri (termasuk narsisme), dan dapat menyebabkan masalah kesehatan mental bagi sebagian orang.
Hal ini juga yang membuat saya sependapat, bahwa media sosial saat digunakan dengan penuh kesadaran dan pertimbangan merupakan alat tambahan yang berguna bagi kehidupan sosial. Namun, hanya kehidupan sosial nyata yang akan memberikan rasa keterhubungan dan keberadaan diri.
Bahaya yang diakibatkan media sosial membuat kesehatan mental kita menurun. Oleh karena itu, penting kiranya menjaga intensitas dan detoksifikasi media sosial. Hal ini diperlukan agar kita dapat melek media serta menjaga kewarasan bermedia sosial. Jangan sampai kesehatan mental kita terganggu dan kita abai dengan lingkungan sekitar.