Dunia IslamKolom

Mekkah Tanpa Ka’bah

3 Mins read

Untuk kedua kalinya selama pandemi Covid-19 menyerang, calon jemaah Muslim Indonesia gagal berangkat berhaji. Sepinya Mekkah dari pengunjung jemaah haji kian kentara, bahwa selama ini pesona Ka’bah menutupi ketandusan kota Mekkah. Oleh karena itu, kehadiran Ka’bah menjadi keberkahan melimpah dan daya magnet kehidupan untuk senantiasa dikunjungi oleh umat manusia.

Nabi Ibrahim bersama putranya, disebut-sebut sebagai peletak batu pertama pembangunan Ka’bah. Ajaran monotesime atau hanifisme yang disebarkan Ibrahim mengantarkan pada Ka’bah sebagai kiblat ibadah. Diramaikan dengan kisah heroik Siti Hajar yang berkeliling tujuh kali mengitari bukit Shafa dan Marwah mencarikan air untuk anaknya yang sedang kehausan. Sampai keajaiban tiba, sang bayi yang menangis kencang terus menghentak-hentakkan kakinyke tanah lalu keluarlah air.

Air yang diberi nama Zamzam artinya ‘melimpah’ sejak dulu hingga kini menjadi sumber utama kehidupan penduduk Mekkah, termasuk para jemaah haji juga tak pernah lupa membawa air tersebut sebagai oleh-oleh yang dipercayai umat Muslim mengandung sejuta keberkahan. Air Zamzam menjadi motivasi Mekkah atas kelayakan untuk ditinggali hingga Ka’bah terbangun dan membangun sejarah panjang monoteisme. Paham teologi yang menjadi cikal bakal Islam yang secara resmi dideklarasikan sebagai agama.

Dalam buku Mekkah Kota Suci, Kekuasaan, Teladan, dan Ibrahim (2018) buah karya Zuhairi Misrawi, terbangunnya Ka’bah sebagai implementasi dari perintah Tuhan tersebar dengan cepat di pelosok Arab dan dunia. Alhasil berita tersebut mendatangkan banyak orang dari pelbagai penjuru menuju ke Ka’bah lantaran gairah keberagamaan yang kian kuat. Haji di masa pra-Islam bukan hanya sekadar untuk ritual keagamaan, melainkan untuk transaksi perdagangan.

Konon, bukan hanya orang Arab, orang Hindu, dan Persia juga dikabarkan melakukan perjalanan ke Mekkah. Mereka meyakini, bahwa roh ‘shibwat’ salah satu dari dewa mereka melakukan perjalanan ke Hijaz dan rohnya ada dalam Hajar Aswad. Mekkah oleh mereka disebut Maksyisya dan Maksyisyana. Orang Persia juga meyakini roh Hermes berada dalam Ka’bah sekaligus mengklaim mereka mempunyai silsilah keturunan Ibrahim.

Dari sini dapat dilihat, ajaran monoteisme memiliki sejarah yang amat panjang bukan hanya bagi umat Islam, melainkan umat agama lain yang tidak pernah sepi dari penganut. Menjelang kehadiran Islam, Abdul Muthalib kakek dari Nabi Muhammad SAW telah berjasa besar mengantarkan Mekkah sebagai salah satu pusat zona perdagangan yang disegani di kawasan Arab sekaligus menghidupkan solidaritas yang baik. Atas kesepakatan sejak dulu pun, bulan Dzulhijjah dan Ka’bah menjadi waktu serta tempat yang aman dari peperangan, meski orang-orang Arab suka berperang tetapi mereka dapat menahannya untuk memuliakan kepercayaan itu.

Menyoal kapan Ka’bah resmi menjadi otoritas kekuasaan Islam, tepatnya yakni ketika turunnya wahyu yang memerintahkan Nabi agar melindungi Ka’bah dari praktik paganisme. Puncaknya pada saat Nabi SAW berhasil menaklukkan Mekkah (Fathul Mekkah) tanpa terjadinya pertumpahan darah sedikitpun sekalian penghancuran berhala di sekitar Ka’bah.

Mekkah dahulu dan kini masih mengandalkan obyek yang sama. Penduduk Mekkah sadar benar akan keberkahan yang dititipkan tuhan melalui kehadiran Ka’bah yang ada di tengah-tengahnya. Mekkah semakin dikunjungi banyak orang dengan jumlah yang membludak. Kawasan Ka’bah sekaligus Masjdil Haram merupakan satu kesatuan yang tak bisa terpisah terus melakukan operasi perluasan dan pembangunan, khususnya bagi pengunjung jemaah haji agar dapat merasakan kenyamanan dan khidmat dalam melaksanakan ritual keagamaan.

Mulanya Ka’bah sebelum renovasi hanya dilakukan perbaikan. Pada masa Umar bin Khattab renovasi dilakukan dengan cara membeli rumah-rumah penduduk sekitar Ka’bah pada tahun 638 M. Kemudian pada zaman kerajaan Arab Suadi berdaulat, oleh Raja Abdul Aziz bin Ali Saud menginisiasi untuk diperluas dan diperindahnya Masjidil Haram pada tahun 1948-1953.

Raja Sa’ud bin Abdul Aziz melakukan proyek besar dengan rentan waktu 20 tahun dengan menambah fasilitas Masjidil Haram, menambahkan marmer untuk shalat, penerangan, sound sistem, dan lift. Kemudian pada masa Raja Fahd bin Abdul Azis mengadakan perluasan paling masif. Sampai kini di zaman Raja Salman bin Abdul Azis luas masjid mencapai 356.000 m2 dengan menampung kapasitas jemaah sebanyak 820.000 orang.

Kendati ada banyak perubahan total yang terjadi di Mekkah, tetapi tidak mengurangi sedikitpun nilai-nilai kesakralannya. Berkat Ka’bah, ketandusan Mekkah tidak lagi terhiraukan. Ka’bah telah memakmurkan penduduk negeri yang telah merawat dan membangunnya demi melayani kepentingan umat yang merindukan kedekatan dengan Tuhannya.

Pada akhirnya, kita dapat mengambil pelajaran bahwa siapa pun yang dapat memberikan pelayanan terbaik demi kemaslahatan banyak orang, maka kita akan mendapat keberkahan di dalamnya. Karena adanya Ka’bah, Mekkah menjadi tempat yang senantiasa dirindukan oleh umat Islam dan orang-orang yang ingin melihat pesonanya, kendati tandus dan panas terik menyengat kulit, hal itu tak lagi dipedulikan. Tanpa Ka’bah, mungkin Mekkah tak ada bedanya dengan kota-kota lain. Oleh karena itu, Ka’bah merupakan fakta atas simbol keagungan rumah Tuhan yang pesonanya tidak pernah pudar sepanjang zaman.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2024)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…