Di era digital seperti sekarang ini, keberadaan media sosial (medsos) memang sangat dibutuhkan. Selain untuk bersosialisasi, kita pun membutuhkan medsos sebagai sarana mencari informasi, promosi, dan sebagainya. Namun, dengan segala manfaat tersebut, bukan berarti medsos hadir tanpa adanya dampak negatif. Sebab, tidak bisa kita pungkiri, bahwa konten toxic menjadi salah satu penampakan ketika berselancar di medsos yang dapat membuat kita risih atau tidak merasa nyaman, dan aman. Lantas, bagaimana cara menghindarinya?
Menurut Hudson (2020), sosial media sebagai alat yang memungkinkan pengguna untuk dapat berbagi konten secara cepat kepada khalayak. Media sosial memegang peranan yang sangat penting dalam kebutuhan bersosialisasi dan komunikasi. Hanya dalam satu genggaman, seluruh manusia di muka bumi kini bisa dengan mudahnya bertukar informasi, mengakses gambar atau video, hingga pengetahuan baru tanpa celah.
Beberapa media sosial yang kita gunakan karena kemudahannya adalah Instagram, Twitter, Youtube, Facebook, WhatsApp, dan lain-lain. Saking mudahnya, kita jadi sering lupa diri dan malah lebih banyak menghabiskan waktu untuk scrolling medsos. Bahkan, tidak sedikit yang menyempatkan main handphone ketika makan, kerja, dan pada saat bersama pasangan, orang tua, hingga teman. Ketika yang berseliweran dalam linimasa lebih banyak konten toxic, tentu dapat membuat mental kita sangat melelahkan.
Dalam studi berjudul Online Social Networking and Mental Health yang dimuat dalam jurnal Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking (2014), menjelaskan bahwa akibat buruk penggunaan media sosial yang terus menerus yaitu dapat meningkatkan risiko depresi, insomnia, citra diri (body image) yang buruk, penurunan kepercayaan diri, gangguan kecemasan dan gangguan makan, hingga perilaku menyakiti diri sendiri (self-harm). Semua risiko ini diduga kuat muncul sebagai wujud nyata dari kecenderungan alam bawah sadar kita yang jadi suka membandingkan diri dengan kehidupan orang lain sehingga tidak menikmati hidup.
Terkadang kita acapkali silau dengan kehidupan orang lain yang kita lihat di medsos, dan membandingkannya dengan kehidupan kita. padahal, semua yang tampil di medsos hanyalah kulit luar yang tidak kita ketahui isi sebenarnya. Tak dapat dipungkiri, ketika kita melihat postingan seperti selebgram, artis, dan semacamnya, kita kerap merasa insecure, dan membandingkan diri kita dengan mereka, baik itu karena kecantikannya, atau barang-barang bermerk yang dikenakannya. Hal ini tentu dapat membuat mental kita terganggu.
Bukan hanya itu, saat ini semakin marak terjadinya penyalahgunaan medsos seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan hal-hal fatal lainnya yang bisa merugikan banyak pihak, yang menunjukkan lebih jauh sisi gelap dari medsos. Terlihat sepanjang pandemi Covid-19, medsos berhasil menjadi alat untuk menyebarkan ketakutan. Hoaks yang bertebaran di medsos pun membuat masyarakat banyak yang menjadi salah kaprah dalam menyikapi pandemi. Belum lagi saat ini hoaks terkait vaksinasi yang masih marak ditemukan di berbagai platform media sosial. Tercatat 1.094 konten hoaks vaksin Covid-19 di media sosial yang telah di takedown oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemen Kominfo).
Kita mungkin sulit untuk betul-betul meninggalkan medsos karena banyak informasi yang bisa kita dapatkan, terutama di tengah pandemi yang membatasi kita untuk bersosialisasi secara langsung. Namun, di sisi lain, banyak unggahan atau komentar di internet yang malah membuat stress. Hal ini tentu menjadi masalah.
Media sosial pasti memiliki masalah, tetapi mari kita hadapi itu. Semuanya kembali kepada pribadi setiap orang. Kita dapat memilih konten apa yang ingin kita lihat atau tidak. Kunci untuk melakukannya yaitu membuat platform tersebut bekerja untuk kita, dan bukan sebaliknya. Menghindari, bahkan menjauhkan konten yang dianggap toxic dapat menjadi jalan keluar. Lantas, bagaimana caranya?
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghindari konten yang dianggap toxic dan bisa mengganggu kesehatan mental kita. Pertama, memfilter konten dan akun-akun yang diikuti. Penting bagi kita menyaring dan memilah ulang jenis konten dan akun mana saja yang perlu diikuti atau tidak. Jauhi akun-akun yang sekiranya kerap menyebarkan konten toxic, dan tidak memiliki kegunaan apapun. Ganti dengan mengikuti akun-akun yang bermanfaat, menghibur, atau kredibel yang justru bisa menambah wawasan, bukan kecemasan. Jangan takut untuk melakukan unfollow, mute, atau block orang yang kita kenal sekalipun, jika mereka memang sering mengunggah atau meninggalkan komentar yang negatif.
Kedua, membatasi waktu dalam bermedsos. Menurut psikolog, batasan wajar menggunakan medsos adalah 30 menit hingga 1 jam per hari. Hal ini dapat kita akali dengan cara membagi total 1 jam tersebut dalam beberapa sesi untuk seharian. Misalnya, 15 menit di pagi hari, 15 menit di siang hari, pada istirahat jam kerja atau kuliah, 15 menit saat perjalanan pulang di angkutan umum, dan 15 menit di malam hari. Hal ini perlu dilakukan agar kita tidak kebablasan yang menghambat aktivitas kita, dan akhirnya membuat tidak produktif. Kecuali urusan pekerjaan yang mengharuskan kita menggunakan medsos.
Ketiga, log out dari semua medsos. Ketika medsos sudah terlalu toxic dan membuat kita terlalu tertekan karenanya, kita bisa log out sejenak dari media sosial, dan lebih menikmati hidup dengan melakukan kegiatan sehari-hari, tanpa melibatkan platform tersebut. Selama meninggalkan medsos, kita bisa berusaha menenangkan diri dan meluangkan waktu untuk diri sendiri.
Terakhir, melakukan meditasi. Meditasi dapat kita lakukan untuk membuat diri lebih rileks, tenang dan mengalihkan pikiran dari konten-konten medsos yang tidak sehat. Meditasi sangat membantu kita memperbaiki stress ketika tengah jenuh dengan kehidupan. Dengan bermeditasi pula kita dapat membawa diri lebih positif dalam menghadapi lingkungan, termasuk saat terpapar konten di medsos. Misalnya, dengan mengubah dan menemukan pemicu perasaan negatif yang muncul ketika kita mengakses konten-konten tertentu.
Dengan demikian, media sosial sebagai media yang bisa digunakan untuk berbagai hal, baik untuk kepentingan positif, maupun negatif. Semuanya tergantung si pengguna. Ibarat pisau bermata dua, apabila kita tidak berhati-hati dalam penggunaannya, maka akan berdampak negatif bagi diri sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, kita perlu bijak dalam memanfaatkan media sosial. Medsos harus dimanfaatkan untuk pembelajaran, informasi edukasi, dan menyebarkan berbagai kebaikan serta pesan perdamaian. Dimulai dari sekarang, mari kita menjadi netizen cerdas dan bijak, dengan cara menghindari konten toxic yang tidak memberikan dampak positif.