Kolom

Persatuan Menurut Bung Karno

3 Mins read

Bung Karno adalah salah satu pejuang kemerdekaan bangsa ini. Ia tidak mau bangsa ini dijajah oleh negara lain. Untuk itu, ketika berpidato di depan rakyatnya, Bung Karno selalu menyerukan persatuan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk memerdekakan bangsa secara bersama-sama demi lahirnya negara yang damai, aman, dan tentram.

Bung Karno pernah berkata, kita hendak mendirikan suatu negara “semua untuk semua.” Karena itu, jikalau tuan-tuan terima baik, marilah kita mengambil sebagai dasar negara yang pertama: Kebangsaan Indonesia. Kebangsaan Indonesia yang bulat! Bukan kebangsaan Jawa, bukan kebangsaan Sumatera, bukan kebangsaan Borneo, Sulawesi, Bali, atau lain-lain. Tetapi kebangsaan Indonesia, yang bersama-sama menjadi dasar satu nationale staat (Soekarno, 1 Juni 1945).

Dari perkataan itu, Bung Karno sangat menginginkan sekali mendirikan suatu negara damai yang berisikan perbedaan yang saling menghargai. Hal tersebut merupakan persatuan yang sesungguhnya. Sebenarnya, persatuan yang seperti itu bukan hanya keinginan Bung Karno saja, melainkan keinginan kita semua rakyat yang berdiri di atas tanah perjuangan para pahlawan bangsa.

Selain itu, ada juga bukti yang menyatakan Bung Karno adalah pemersatu bangsa. Dalam edisi akhir Agustus 1999 yang menampilkan 100 tokoh terkemuka abad ke-20, Majalah Time menurunkan tulisan menarik tentang Soekarno, “Soekarno adalah satu-satunya pemimpin Asia era modern yang mempersatukan rakyatnya yang memiliki latar belakang etnis, budaya, dan agama yang beragam tanpa menumpahkan setetes darah. Hal itu dibandingkan dengan rekor Soeharto penerusnya, yang membunuh atau memenjarakan ratusan ribu rakyat untuk mendirikan rezim Orde Baru.” Tulisan tersebut juga dikutip oleh Djoko Pitono HP, dalam buku Soekarno Jiwa Indonesia yang terus menyala.

Sementara itu, Bung Karno bisa mempersatukan dan memerdekakan negerinya tanpa kekerasan, menggunakan keterampilan pidatonya yang memukau dan memikat serta bahasa menggebu-gebu yang mudah dipahami. Kemampuan berbicaranya dapat membebaskan rakyatnya dari segala perasaan rendah diri dan membuat mereka merasa bangga jadi bagian dari Republik ini. Prestasi luar biasa yang didapatkan bangsa ini setelah terjajah sekitar 350 tahun lebih oleh Belanda dan Jepang. Bermodalkan lidah, ia dapat persatukan bangsa.

Lidah tajam Bung Karno yang mengobarkan semangat rakyatnya pada saat itu, menjadikan jiwa kebangsaan dan persatuan rakyat Indonesia bersatu. Hal tersebut merupakan salah satu cara Bung Karno mempersatukan perbedaan. Begitu bangganya kita telah memiliki seorang pemimpin bangsa yang semangat jiwanya masih membara hingga saat ini.

Di sisi lain, persatuan menurut Bung Karno, dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi, bagian Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme menyebutkan, “Dengan jalan yang jauh kurang sempurna, kita menunjukkan kemauan kita menjadi satu. Kita yakin bahwa pemimpin-pemimpin Indonesia semuanya insyaf bahwa persatuanlah yang membawa kita ke arah kebesaran dan kemerdekaan. Kita harus menerima, tetapi kita juga harus memberi. Inilah rahasianya persatuan itu. Persatuan tak bisa terjadi kalau masing-masing pihak tak mau memberi sedikit-sedikit pula.”

Ia pula mengatakan, jikalau kita semua insyaf bahwa kekuatan hidup itu letaknya tidak dalam menerima, tetapi dalam memberi. Jikalau kita semua insyaf, dalam percerai beraian itu letaknya benih perbudakan kita. Jikalau kita semua insyaf bahwa permusuhan itulah yang menjadi asal kita punya “via dolorosa”. Jikalau kita insyaf bahwa roh rakyat kita masih penuh kekuatan untuk menjunjung diri menuju sinar yang satu yang ada di tengah-tengah kegelapan-gumpita yang mengelilingi kita ini, pastilah persatuan itu terjadi, dan pastilah sinar itu tercapai juga. Sebab sinar itu dekat!

Selain itu, menurut Bung Karno, Republik Indonesia akan tetap kekal berdiri dan abadi di atas falsafah yang kita cintai dan kenal saat ini, yaitu Pancasila. Kenapa demikian? Karena dalam kelima poin Pancasila memiliki nilai-nilai yang tidak terhingga manfaatnya, seperti pada sila ketiga yang menyebutkan kalimat Persatuan Indonesia. Hal tersebut yang membuat Pancasila akan relevan pada setiap keadaan.

Sementara itu, dalam mempertahankan Irian Barat, Bung Karno selalu mengorbankan jiwanya untuk daerah tersebut, karena menurut saya Indonesia tanpa Irian Barat tak akan lengkap rasanya. Menurut Sigit Aris Prasetyo, dalam buku Dunia Dalam Genggaman Bung Karno menyebutkan, suatu ketika Bung Karno dan John F. Kennedy bertemu dan berdialog. Saat berdialog terkait masalah Irian Barat, J.F. Kennedy banyak bertanya kepada Soekarno, salah satunya, “mengapa Indonesia Begitu gigih untuk merebut kembali Irian Barat? Bukankah Irian Barat secara ras berbeda dengan kebanyakan ras atau suku-suku di Indonesia?

Bung Karno dengan cerdik menjawab pertanyaan J.F. Kennedy tersebut, dengan menunjuk ke arah Wamen Pertama Liemena, yang berdiri tidak jauh dari dirinya. Maksud Bung Karno adalah agar J.F. Kennedy mengerti, bahwa Liemena yang berasal dari Indonesia bagian timur juga memiliki persamaan fisik dan postur dengan penduduk Irian Barat. Bung Karno menjelaskan bahwa Indonesia seperti halnya Amerika Serikat yang terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama.

Dengan demikian, ada banyak sekali cara Bung Karno mempersatukan bangsa, baik melalui melakukan diplomasi ke luar negeri agar mendapat perhatian dunia maupun melalui pidato-pidatonya yang mengobarkan semangat kebangsaan rakyat Indonesia, atau juga melalui Pancasila-nya yang sudah membuktikan dan sukses mempersatukan bangsa dari dulu, hingga sekarang. Semenara itu, persatuan menurut Bung Karno adalah menerima perbedaan yang ada. Bangsa Indonesia adalah kesatuan dari barat sampai kepulauan timur dan tidak bisa dipisahkan dengan cara apapun.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2024)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…