KolomNasihat

Cara Terbaik Merespons ‘Speak UP’

3 Mins read

Kemarin, twitter ramai kembali dengan utas Speak up korban pelecehan seksual. Keberanian seseorang untuk tetap berterus terang dalam kondisi terluka dan trauma seperti itu sungguh luar biasa. Anehnya, tidak sedikit pula warganet yang justru menekan dan menyalahkan korban. Lebih miris lagi, segelintir orang masih berpikir bahwa speak up seperti itu hanya dilakukan demi popularitas! budaya mencurigai dan menyalahkan korban kekerasan seksual masih sangat kuat, hal inilah yang membuat sebagian orang keliru dalam merespon kasus kekerasan yang diungkap oleh korbannya.

Ruang dan kesempatan perempuan untuk menyuarakan kebenaran dan menuntut keadilan cukup terbatas. Tetapi sayangnya, masih saja dipersempit oleh kenyataan bahwa para perempuan yang speak up tentang kasusnya itu, pada akhirnya malah mendapat stigma, pengalaman pahit, dan hasil nihil. Para korban atau penyintas berbagai tindakan kekerasan, seperti KDRT, pelecehan seksual, bullying, selalu dihantui rasa malu atau takut disalahkan ketika mengungkapkan penderitaanya.

Bagaimanapun, kita harus memberikan respon terbaik bagi orang-orang yang telah berani mengambil resiko untuk mengutarakan pengalaman traumatisnya, kebenaran yang terpendam, ataupun membongkar kejahatan. Di dalam al-Quran, banyak ayat-ayat yang menerangkan dan menonjolkan wanita-wanita yang speak up.

Beberapa tokoh perempuan al-Quran mengartikulasikan pengalaman dan pendapat mereka dengan jelas dan efektif, bahkan dalam situasi sulit. Di antaranya Maryam (19:20), ibu Nabi Musa (28:11), kakak Nabi Musa (28:11), Ratu Saba (27: 32,34-35), dan isteri Fir’aun (28:9). Al-Quran banyak menghadirkan studi kasus mengenai kebutuhan praktis, keamanan, atau kesejahteraan perempuan yang mendapat perhatian dari Allah SWT. Hal demikian semestinya berimplikasi pada kesadaran untuk memberikan perhatian serius dan tanggapan terbaik pada keluhan atau suara perempuan.

Banyak ayat yang menunjukkan bahwa Allah SWT mendengar dan merespon kata-kata wanita yang dianiaya. Misalnya al-Mujadalah ayat 1, sebuah ayat yang merekam kasus seorang wanita yang dinistakan oleh suaminya, dan dalam kesusahannya itu ia mengadu kepada Nabi Muhammad SAW. Allah SWT menjawab dan menenangkan hati wanita itu, dengan menyatakan bahwa Allah mendengarkan semua keluhannya dan memahami kegelisahannya. Kemudian turunlah ayat ini bersama tiga ayat selanjutnya yang berisi solusi bagi perbaikan nasib wanita itu.

Dalam ayat-ayat di awal surat yang artinya wanita yang menggugat (Al-Mujadalah), menganiaya istri dengan perkataan zihar itu dikutuk sebagai fitnah dan tidak senonoh. Menurut tradisi yang berlaku pada waktu itu, zihar mengakibatkan ikatan pernikahan putus untuk selama-lamanya. Hal itulah yang membuat seorang wanita mengajukan gugatan kepada Rasullah SAW, sebab ia merasa tradisi semacam itu dapat merugikan dirinya. Pada akhirnya, Allah SWT mendengar dan memberikan alternatif untuk taubat dan resolusi antara pasangan (Q 58:2-4).

Respons yang baik dan tepat akan melahirkan norma-norma baru, yang berfungsi untuk mengoreksi atau mereformasi praktik atau kebiasaan sosial yang tidak menguntungkan perempuan secara umum, bukan hanya yang ‘speak up’ saja. Maka dari itu, kebijakan atau hukum yang turun dalam menanggapi dan menyelesaikan problem wanita dalam surat al-Mujadalah, pada akhirnya menjadi kebijakan alternatif yang lebih adil dan diterapkan bagi kaum Muslim sampai hari ini.

Dari sini kita dapat menarik sedikit kesimpulan bahwa, apapun tanggapan yang hendak kita berikan pada wanita yang ‘speak up’, setidaknya harus berorientasi pada 3 hal positif, yaitu dukungan untuk memperbaiki kondisinya, jaminan keamanannya, dan pemberian solusi. Fakta bahwa doa dan masalah wanita didengar dan direspons langsung oleh Allah SWT, mengisyaratkan apresiasi, perlindungan, dan kesejahteraan yang hakiki bagi seorang wanita.

Al-Quran menguatkan siapapun yang menghadapi penindasan, meyakinkan mereka bahwa Tuhan juga mendengar tangisan mereka, mengutuk para penindas, mendorong orang-orang yang lurus untuk mendukung pihak yang rentan dan tertindas, serta memberikan solusi untuk melawan penindasan. Inilah model tanggapan yang ideal untuk merespon seseorang yang berterus terang terhadap kondisinya yang tidak menyenangkan, khususnya terkait kekerasan.

Dalam ayat lainnya, Allah SWT juga mendengar doa istri Fir’aun yang dianiaya (QS. Tahrim:11). Asiyah sangat khas karena membuat permintaan unik yang menjadi satu-satunya di dalam al-Quran. Ia tidak hanya meminta keselamatan, tetapi juga sebuah ‘rumah’ yang dekat dengan Allah SWT di surga. Di sini, rumah atau tempat tinggal merupakan simbol dari kebutuhan dasar berupa keselamatan, keamanan, dan kebebasan dari penindasan.

Dengan menyoroti kasus perempuan yang teraniaya dalam rumah tangga, ayat ini mewakili sentimen kerentanan wanita pada umumnya. Allah SWT menjawab keluhan mereka, Al-Quran menyuarakan kisah mereka, dan sepanjang zaman, para pembaca al-Quran juga terus membaca dan turut merasakan kondisi sulit mereka. Inilah dorongan kuat agar kita berempati, mendengarkan, dan memberikan perhatian serius pada setiap wanita-wanita yang speak up di lingkungan kita.

Singkatnya, kita tidak boleh menyudutkan siapapun yang berani ‘speak up’. Siapapun yang berani melangkah ke depan publik untuk mengutarakan kondisi yang buruk atau tidak adil, patut diapresiasi. Sebab, ia sebenarnya telah menyuarakan banyak suara-suara lainnya yang terpendam. Sebisa mungkin kita harus mendukung dan membantunya untuk mendapat keadilan dan meningkatkan kondisinya menjadi lebih baik, inilah cara terbaik merespons ‘Speak Up’.

Pros

  • +

Cons

  • -
Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2024)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…