Dunia IslamKolomNasihat

Tingkatan Ibadah Puasa

4 Mins read

Setiap tahun di akhir bulan puasa, kita senantiasa berdoa agar dapat dipertemukan kembali dengan bulan suci Ramadhan pada tahun yang akan datang. Kemudian kita mendapati tahun ini kembali dapat menunaikan ibadah puasa pada bulan suci Ramadhan. Artinya, kembali Allah SWT mengabulkan do’a kita. Karena jika kita perhatikan, banyak dari saudara-saudara kita yang tidak memiliki kesempatan untuk berjumpa kembali bulan suci Ramadhan.

Untuk itu, mari kita betul-betul manfaatkan bulan suci Ramadhan dengan mengisi hal-hal positif, yang meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Dengan beribadah puasa, semestinya kita dapat mengambil pesan-pesan penting yang terkandung dalam maknanya yang terdalam. Sebab puasa adalah ibadah yang berbeda dari ibadah lainnya. Ibadah puasa merupakan ibadah yang sangat personal, hanya diri kita sendiri dan Allah sajalah yang mengetahui apakah benar-benar puasa atau tidak.

Orang tidak ada yang tahu, jika dalam kesendirian kita bisa saja membuka kulkas lalu minum atau makan yang jelas-jelas halal ketika lapar dan haus itu datang. Orang tidak ada yang tahu, lalu kita berpura-pura seolah-olah kita sedang berpuasa. Kita menyadari bahwa Allah selalu mengawasi. Tapi ibadah puasa tidak hanya soal menahan haus dan lapar saja, melainkan makna dan nilai moralnya yang bersifat spiritual. Jadi puasa kita tidak sekadar menahan rasa lapar dan dahaga saja, melainkan meningkatnya keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Para ulama sufi membagi orang yang berpuasa itu ada tiga tingkatan: Pertama, puasanya orang syariat (ahlu-syariat). Kedua, puasanya orang tarekat. Dan ketiga, puasanya orang hakikat. Pada aspek yang lebih luas dan dalam istilah yang lain, Imam Al-Ghazali juga membagi orang pada tingkatan ibadahnya menjadi tiga tingkat: pertama ibadahnya orang awam. Kedua, orang khawas atau khusus. Dan ketiga khawas al-khawas, atau lebih khusus lagi.

Pada umumnya di Indonesia, bahkan boleh jadi kebanyakan kaum Muslim ini berada pada tingkatan yang pertama. Sebatas syariat dan awam itu tadi. Tinggal kita bertanya kepada diri kita sendiri, berada di tingkatan mana posisi kita dalam beribadah. Bila yang pertama, maka terbukalah kesempatan untuk meningkatkan kualitas ibadah puasa kita pada tingkatan yang kedua dan tidak dimungkiri berada pada tingkatan yang ketiga, yakni hakikat.

Tingkatan pertama—yakni puasanya orang awam atau orang syariat—hanya sekadar menahan lapar, dahaga, kebutuhan syahwat dan lain sebagainya secara jasmaniah. Banyak orang sudah merasa puas telah melewati bulan Ramadhan, atas kemenangan mengendalikan hawa nafsu—yang bersifat jasmaniah itu tadi—lalu kembali menjadi pribadi kurang baik yang dilakukan di luar bulan puasa. Misalnya, kembali menggunjing, gosip, tidak jujur atau berbohong, menyakiti orang lain, dan seterusnya. Ibadah Puasa umumnya hanya rutinitas formal belaka.

Sama seperti hal umumnya di Indonesia. Kaum Muslim yang mayoritas di Indonesia melaksanakan shalat, zakat, bahkan pergi haji, tapi korupsi jalan terus. Mengapa demikian? Hal itu karena ritual ibadah hanya sekadar legal formal atau dalam tingkatan berada pada tingkatan yang pertama, yakni ahli syariat dan awam itu tadi. Hanya bersifat lahiriah, tidak sampai batiniah.

Pada tingkatan yang kedua atau tarekat dan khawas ini tidak hanya menahan rasa lapar, dahaga, dan syahwat saja, tetapi juga menahan semua—atau dalam istilah puasa disebut imsak—hal yang tidak diridhoi atau yang dilarang oleh Allah SWT. Baik ucapan atau perkataan, maupun perbuatan. Kadang-kadang perkataan ini yang tidak kita sadari ternyata telah menyakiti. Nabi SAW mengatakan, “Setiap anak cucu Adam adalah pembikin kesalahan, dan sebaik-baik orang yang salah ialah mereka yang bertobat.”

Dan pada tingkatan yang ketiga atau hakikat dan khawas al-khawas. Hakikat atau khawas al-khawas dalam dimensi ibadah puasa merupakan totalitas mengingat Allah, atau disebut juga zikrullah. Dimensi ini dalam istilah lain disebut juga dengan suluk, khalwat, iktikaf atau uzlah. Proses ini yang secara rutin dilakukan oleh para Nabi sehingga hati atau kalbu menjadi bersih dengan daya ingat kepada Allah yang kuat, akhirnya doa pun mudah terkabul.

Karena kalbu yang bersih dan daya ingat yang kuat kepada Allah, maka tentu saja orang yang berada pada tingkatan ini menyadari sekali bahwa Allah hadir, dekat, dan bersama dengannya. Oleh sebab itu pada tingkatan ini, seseorang akan selalu jauh dari perkataan dan perbuatan yang tercela, yang tidak dirihoi-Nya. Karena itu orang-orang yang berada pada level ini biasanya para Nabi, para wali, dan para ulama sholihin.

Bukan hanya Nabi atau para wali, orang-orang shaleh—bahkan diri kita sendiri—sangat berkesempatan, terbuka selebar-lebarnya peluang untuk mencapai tingkatan ini. Dalam ibadah puasa, orang awam level ibadahnya hanya seputar urusan perut, fisikli atau jasmani. Sekadar menahan itu semua maka dianggap sah puasanya. Tingkatan yang kedua, yakni tarekat atau khawas sudah mampu menahan tidak hanya soal perut yang dianggap sah atau tidaknya, batal atau tidaknya ibadah puasa, melainkan sudah pada level batal atau tidaknya ibadah puasa jika berbicara hal-hal buruk, apalagi perbuatan yang buruk.

Yang kita semua harapkan adalah mencapai tingkatan ketiga, hakikat atau khawas al-khawas (sangat khusus). Inilah level tertinggi, level orang-orang yang arif muqarrabin, orang-orang muttaqin (senantiasa bertakwa). Bagi mereka yang berada pada tingkatan ini, ibadah puasa tidak hanya soal menahan lapar dan dahaga, atau berkata-berkata yang tidak berfaedah dan bermanfaat, melainkan sudah pada level menahan diri untuk tidak berbicara, melihat, sampai mendengar.

Tingkatan yang ketiga ini bagi mereka ibadah puasa ini lidah harus dikunci. Kalau masih banyak berbicara dan beretorika maka puasanya dianggap batal atau tidak sah lagi. Sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Zakaria AS dalam al-Quran: “Zakaria berkata, ‘Ya Tuhanku berilah aku suatu tanda.’ Tuhan berfirman, “Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat berbicara dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat” (QS. Maryam: 10).

Puasa bicara juga dicontohkan oleh ibunda Nabi Isa AS, Siti Maryam: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah maka aku tidak akan bicara dengan seorang manusia pun pada hari ini” (QS. Maryam: 26). Berbeda dengan umumnya orang-orang modern saat ini. Bulan puasa justru jadi momentum bisnis panggilan job pengajian ketimbang “menahan diri”. Bahkan tingkat konsumsi masyarakat lebih tinggi pada bulan puasa daripada bulan yang lain.

Pada akhirnya, kita perlu sedikit waktu untuk merenung dan terus berusaha mencapai kualitas dan tingkatan paling tinggi dalam ibadah. Tidak hanya memahami makna dan nilai puasa, melainkan shalat, haji, dan lainnya juga. Insya Allah kita mampu. []

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2024)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…