Suasana yang sejuk dan tentram merupakan impian setiap orang serta impian negara-negara dipenjuru dunia. Salah satu keberkahan bulan Ramadhan adalah menciptkan banyak suasana damai baik era modern hingga zaman Rasullulah SAW ketika menyebarkan agama Islam.
Dalam sejarah Islam yang telah diwariskan kepada umat Islam diseluruh dunia, mengisahkan bahwa Nabi Muhammad SAW setidaknya mengikuti perang sebanyak 2 kali dibulan puasa yakni Waq’atul Badr (Perang Badar) dan Fathu Makkah (Pembebasan Makkah). Perang yang melegenda dan menjadi kebanggaan umat musilm yakni perang Badar sendiri terjadi di bulan Ramadhan, tahun pertama umat Islam diwajibkan berpuasa di dalamnya.
“Dari (Sa’id) bin Musayyab, sesungguhnya ia ditanya soal puasa di waktu perjalanan, lalu ia menceritakan (sebuah riwayat) bahwa Umar bin Khattab berkata: “Kami berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallah di bulan Ramadhan sebanyak dua kali, yakni perang Badar dan pembebasan Makkah, dan kami berbuka (tidak berpuasa) di kedua peperangan tersebut.” (Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Zâd al-Ma’âd, Beirut: Muassasah al-Risalah, 1994, juz 2, h. 52)
Terdapat pula hadis yang masih mengambarkan suasana perperangan dikala itu, dimana Rasullah SAW menjadi pemimpin tertingi dalam membela hak orang muslim kala itu. “Dari Abu Sa’id al-Khudri radiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kami berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada tanggal enam belas Ramadhan. Di antara kami ada yang berpuasa, ada pula yang berbuka. Orang yang berpuasa tidak mencela orang yang berbuka, dan orang yang berbuka tidak mencela orang yang berpuasa.” (Imam Ibnu Mulaqqin, al-Badr al-Munîr fî Takhrîj al-Ahâdîts wa al-Âtsâr al-Wâqi’ah fî al-Syarh al-Kabîr)
Begitu pula ketika Rasulullah SAW menuju Mekah dengan tujuan utama membebaskan Mekah dari kekuasaan orang-orang yang menentang ajaran Islam yang dibawakan Nabi Muhammad SAW. Berikut ini, terdapat penjelasan perang ini dilakukan oleh Rasulullah SAW saat bulan Ramadhan
Abu Sa’id al-Khudri berkata: “Kami berpergian bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallah menuju Makkah yakni dalam tujuan pembebasan kota Makkah dan kami berpuasa. Kami singgah di sebuah tempat, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kalian telah dekat dengan musuh, dan berbuka lebih menguatkan kalian.” Ini merupakan rukhsah (disepensasi/keringanan), karena itu sebagian dari kami tetap berpuasa, dan sebagian lainnya berbuka. Kemudian kami singgah di tempat lainnya, Rasulullah (kembali) bersabda: “Sesungguhnya kalian sudah berada di depan musuh, dan berbuka lebih menguatkan kalian, maka berbukalah.” Dan ini bukanlah rukhsah (keringanan/disepensasi), maka kami pun berbuka.” (Imam Ibnu Mulaqqin, al-Badr al-Munîr fî Takhrîj al-Ahâdîts wa al-Âtsâr al-Wâqi’ah fî al-Syarh al-Kabîr, 2004, juz 5, h. 720-721)
Sedangkan sejarah perperangan diera modern, dima Rasulullah SAW telah tiada dan hanya menyikan pengikutnya. Sebagai contoh perang yang berkecamuk di wilayah Timur-Tengah apabila akan memasuki bulan suci Ramadhan, hal ini merupakan bentuk penghormatan umat Islam terhadap agama dan Rasulullah SAW sehingga membatasi perperangan dibulan ini. Lantas bagaimana dengan Indonesia yang mayortitasnya penduduk muslim terbesar di dunia, apakah ada sejarah tentang perang dibulan suci Ramadhan?
Pada tangal 21 Februari 1830 atau empat hari menjelang bulan puasa tiba, pada tahun tersebut. Pangeran Diponegoro tiba di Menoreh, pegunungan perbatasan Bagelen dan Kedu. Kedatangannya berdasarkan kesepakatan yang dibuatnya bersama Jan Baptist Cleerens, pada 16 Februari 1830, di daerah Remokamal tepi kali Cincinggoling untuk melakukan perundingan. Tepat pada awal bulan Maret 1830, Pangeran Diponegoro berpesan kepada De Kock (Petinggi penjajah Belanda) melalui Cleerens, bahwa selama bulan puasa dia takkan melakukan pembicaraan apapun soal perang. Jika ada pertemuan, itu pun hanya ramah-tamah biasa, ia hanya ingin menghormati bulan mulai ini.
Tentunya, pilihan perang merupakan pilihan terakhir jika hal tersebut dilakukan oleh negara yang dimasukkan dalam program bilateral maupun multilateral. Namun akan berbeda jika digunakan kelompok separatis maupun teroris, walaupun bulan Ramadhan merupakan bulan suci tetap saja pemikiran tentang kekerasan dan fanatisme yang mengontrol mereka sehingga tetap melakukan perang serta tidak memperdulikan Ramadhan adalah bulan perdamaian.