Dalam surat al-Baqarah [2] ayat 183 tertera jelas bahwa puasa dapat mengantarkan seseorang pada derajat takwa. Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Dalam artinya yang paling sederhana, takwa adalah kepatuhan terhadap segala perintah Allah dan menjauhi apapun yang dilarang-Nya. Sejatinya, semua ibadah memang diproyeksikan untuk meraih derajat itu. Karena predikat takwa inilah yang membedakan manusia di hadapan Tuhannya. Orang yang bertakwa ialah kekasih Tuhan, manusia ideal, yang dalam al-Quran dinyatakan, Ketahuilah, sungguh para kekasih-Nya itu adalah orang-orang yang takwa (QS. Al-Anfal [8]: 34). Itulah mengapa takwa menjadi istimewa. Dan puasa menjadi jembatan untuk menujunya.
Puasa yang dijalani dengan kebeningan iman dan pengharapan penuh pada Tuhan, dan puasa dengan segenap kesadaran untuk membangun komunikasi sehat dengan nafsu, baik lahir maupun batin, itulah yang akan menyibak jalur ketakwaan. Karena menurut Nabi, banyak sekali orang berpuasa hanya mendapatkan rasa dahaga serta lapar, nihil dari nilai pelajaran dan ganjaran. Hal itu karena orang-orang demikian hanya menahan mulut dari makan dan minum saja, tetapi masih meladeni nafsu untuk bermaksiat dengan inderanya yang lain, seperti memaki, menyakiti orang lain, dan yang semisalnya.
Secara naluriah, manusia ingin selalu terhubung dengan dimensi yang agung, suci, serta naik ke tingkat kesempurnaan spiritualitas untuk merasakan kenyamanan batin. Untuk itu semua, hal pertama yang harus dilakukan adalah menahan diri dari kesenangan syahwat dan menjauhkannya dari pemenuhan kenikmatan jasmani. Tiap kali nafsu beroperasi untuk maksiat, saat itu pula tabir batas antara kita dengan Tuhan menebal. Singkatnya, segala apa yang menjauhkan pribadi dari Tuhan harus dijauhi sembari menunaikan perintah-perintah-Nya. Ketakwaan ini hanya bisa dicapai dengan puasa dan menahan syahwat-syahwat diri tadi.
Takwa memang status yang harus diperjuangkan selama hidup, karena ia adalah bekal terbaik bagi umat manusia, baik selama mendiami dunia maupun kelak di akhirat. Hal tersebut ditegaskan dalam penggalan ayat al-Quran surat al-Baqarah [2]: 197. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.
Beberapa keutamaan orang takwa terdokumentasikan dalam sejumlah ayat al-Quran. Sayyid Qasim Syubbar mendaftar secara singkat keutamaan tersebut. Disebut dalam al-Nahl [16]: 128 bahwa mereka yang bertakwa akan dibersamai dan ditolong Tuhan. Buah lain dari ketakwaan adalah perbaikan amal perbuatan kita oleh Allah (QS. Al-Ahzab [33]: 70-71). Ketinggian derajat, kemuliaan, dan kecintaan Allah pun terlimpah kepada hamba-Nya yang bertakwa (QS. Al-Hujurat [49]: 13, QS. Al-Taubah [9]: 47). Karena telah dekat dengan-Nya, maka apapun urusan seorang hamba yang bertakwa akan dimudahkan Tuhan (QS. Al-Lail [92]: 5-7). Inilah sebagian dari ayat keutamaan takwa.
Setelah mengetahui beragam keutamaan bertakwa, Tuhan menjelaskan dalam al-Quran beberapa karakteristik takwa. Takwa tidak digambarkan sebagai status abstrak yang penafsirannya tergantung subyektifitas ulama. Namun, definisi dan karakteristiknya diperinci oleh Tuhan, dan terlihat sangat operasional. Dengan kata lain, makna takwa itu sangat aplikatif dan menyesuaikan kemampuan berpikir manusia.
Ayat-ayat awal surat al-Baqarah secara komprehensif mengutarakan kriteria orang bertakwa. Alif Lam Mim. Kitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu serta mereka yang yakin akan adanya kehidupan akhirat.
Menilik dari peletakan pembahasan mengenai takwa yang ditempatkan di muka, menunjukkan istimewanya kedudukan ini. Melalui rangkaian empat ayat pertama surat al-Baqarah, akan didapati tiga karakteristik utama manusia takwa, yakni keimanan kepada perihal gaib, memiliki relasi akrab dengan Tuhan, dan pengabdian kepada manusia. Jika diurai lagi, ada setidaknya lima tanda orang takwa.
Pertama, keimanan kepada yang gaib. Seperti halnya percaya pada rukun iman, surga, neraka, dan hal-hal lain yang tak diketahui dengan persaksian, melainkan dengan petunjuk dalil. Seorang yang bertakwa seluruh perilakunya didasarkan pada pandangan bahwa di balik dunia material ini terdapat dunia yang jauh lebih luas dan abadi. Keyakinan semacam ini akan mengendalikan sikap manusia untuk berada dalam jalur yang dipetakan Tuhan.
Takwa terkait erat dengan perintah dan larangan yang diberlakukan pada manusia. Sedangkan peringatan, balasan, dan petunjuk Tuhan hanya akan diterima oleh orang yang percaya pada hal gaib, karena kesemua ganjaran dan peringatan Tuhan pun bersifat gaib. Bahkan keimanan pada Tuhan dimulai dari pandangan dunia gaib ini. Tuhan wujud, tapi tak terindra. Mengimani kehidupan dunia (material) saja hanya akan menambah kegelisahan dan kecemasan. Adapun keimanan pada yang gaib—kegaiban uluhiah—merupakan keimanan yang menenangkan.
Kedua, pengabdian kepada Allah, yang di antaranya diwujudkan dengan shalat. Seorang yang bertakwa akan berusaha menunaikan daftar ibadah khusus yang telah Tuhan tetapkan (ibadah mahdhah). Di pos inilah semakin jelas bahwa puasa adalah jembatan menuju takwa. Puasa merupakan ibadah mahdhah, sebentuk ketundukan dan pengabdian ilahiah untuk mengikis jarak hamba terhadap Tuhannya.
Ketiga, perkhidmatan kepada sesama manusia. Orang takwa tidak akan egois hanya mengelola hubungan vertikalnya saja. Dalam dimensi horizontal, orang yang memang bertakwa akan peduli dan mengasihi sesamanya. Dalam ayat al-Baqarah tadi dicontohkan dengan menginfakkan sebagian rezeki yang dimiliki untuk sesiapa yang membutuhkan. Orang takwa tak ragu, bahwa pengabdian pada makhluk adalah juga ibadah.
Keempat, percaya pada apa yang diturunkan kepada Rasulullah SAW dan nabi-nabi terdahulu. Orang takwa yang sebenarnya bersikap penuh penghormatan, toleransi, dan penghargaan pada agama-agama lain. Seorang yang bertakwa akan mencintai perdamaian dan mestinya ia tidak fanatik. Karena agama adalah wahana untuk mempertemukan anak-anak manusia. Secara prinsipil, dakwah para nabi itu sama, bertujuan membimbing rohani dan menunjukkan jalan yang menjadi perkenan Tuhan.
Kelima, keimanan pada hari kiamat. Terdapat hubungan kuat antara keyakinan pada hari kiamat dengan keberanian seseorang berbuat dosa. Semakin tak yakin seseorang pada hari akhir, semakin nekat dan berani ia untuk melakukan dosa. Ia tak percaya akan adanya kebangkitan dan pembalasan kelak, sehingga selalu memperturutkan hawa nafsu hingga tersesat dalam tindakannya. Apabila orang meyakini akhirat, ia akan lebih hati-hati dalam menjaga dirinya. Ia akan memiliki pandangan futuristik sehingga giat mengumpulkan bekal untuk perjalanan masa depannya, perjalanan dalam keabadian.
Berpuasa yang dilengkapi kesadaran spiritual adalah salah satu anak tangga untuk mencapai ketakwaan. Perilaku takwa itu menunjukkan bahwa kita mengenal baik, dekat, dan akrab dengan Tuhan beserta ajaran-Nya. Petunjuk langkah untuk menjadikan diri sebagai pribadi yang bertakwa telah sangat jelas diterangkan dan aplikatif. Ramadhan ini menjadi kesempatan emas untuk membangun jembatan takwa itu. Betapa beruntung ia yang bertakwa, baginya anugerah berupa kebahagiaan dan petunjuk. Berbekal ketakwaan, kita akan dilirik Tuhan dan menemukan jalan yang terang kini dan nanti. Wallahu a’lam. []