Banyak Sekali orang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar. (HR. Ahmad). Kiranya hadits ini patut menjadi renungan kita bersama mengapa banyak orang menjalankan ibadah puasa pada bulan suci Ramadhan, hanya sekadar memenuhi rutinitas tahunan. Banyak hadits mutawatir yang menyebutkan—tidak hanya sekadar puasa yang bersifat jasmani atau fisik—dorongan untuk meningkatkan kualitas puasa dengan nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.
Selama kurang lebih 29-30 hari kita menjalankan kewajiban berpuasa pada bulan suci Ramadhan, dapat kita pecah menjadi tiga bagian. Sepuluh hari pertama merupakan penyesuaian diri secara fisik. Mulai dari kebiasaan sarapan pagi, makan siang, dan makan malam, menjadi makan dan minum menjelang fajar atau kita sebut sebagai sahur, dan pada waktu senja saat tenggelamnya matahari (waktu maghrib) atau kita sebut buka puasa.
Sepuluh hari kedua, meningkat pada fase pengendalian diri dari hawa nafsu dalam bentuk apapun yang akan membentuk kesehatan dan kesadaran mental (jiwa) yang baik. Fase kedua ini tentu lebih baik daripada fase yang pertama. Apabila kita mampu menjalani fase kedua ini dengan baik, maka akan secara otomatis meningkat pada fase yang ketiga. Sepuluh hari terakhir ini kita akan banyak memperoleh spiritualitas yang bersifat rohaniah melalui malam laylatul qadar, di mana fase ini hanya dapat diperoleh oleh mereka yang menjalankan puasanya dengan penuh kejujuran, keikhlasan, dan takwa kepada Allah SWT.
Jika sepuluh hari pertama adalah sebuah permulaan dan sepuluh hari kedua meningkat pada tahapan pengendalian diri, maka sepuluh hari terakhir ini bersifat rabbani. Di mana pada tahap atau fase yang ketiga ini kita akan memperoleh pengalaman ruhaniah, yaitu apa yang disebut sebagai laylatul qadar. Untuk mencapai tujuan kita menjalankan puasa pada bulan suci Ramadhan, kita harus memahami segala problematika puasa.
Dalam menjalankan puasa, kita harus jujur pada diri sendiri maupun kepada Allah SWT. Karena ibadah puasa bersifat privat—kecuali individu dirinya sendiri dan Allah saja yang tahu apakah benar-benar berpuasa atau tidak—maka puasa merupakan medium untuk melatih diri agar senantiasa mengingat Allah. Bahwa Allah senantiasa melihat, mengawasi, dan memperhatikan apapun yang kita lakukan. Meski dalam kesendirian-curi untuk makan atau minum, Allah Maha Tahu atas perbuatan yang kita lakukan.
Allah senantiasa hadir dan dekat dengan kita sehingga apapun yang kita perbuat, akan diketahui oleh Allah yang menuntut pertanggungjawaban kita. Tidak ada dua yang berbisik kecuali Allah yang ketiga. Begitu kira-kira ketika Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq merasa ketakutan saat sembunyi yang hampir diketahui oleh musuh Nabi di Gua Tsur. Nabi Muhammad SAW dengan tenang mengatakan, “Jangan bersedih dan takut, sesungguhnya Allah selalu bersama kita.”
Dengan perasaan bahwa Allah selalu hadir, dekat, dan selalu mengawasi perilaku kita, maka secara sadar kita akan selalu bertakwa dalam menjalani segala kehidupan. Demikian hakikat berpuasa agar kita bertakwa, sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah [2] ayat 183: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkannya berpuasa atas orang-orang sebelum kamu agar kamu senantiasa bertakwa.”
Di sinilah kiranya keistimewaan puasa yang tidak hanya dijalani secara fisik saja, melainkan begitu vertikal secara spiritual. Mengapa demikian? Ibadah shalat misalnya, masih bisa kita pamerkan dengan melakukan shalat di depan orang lain; demikian juga zakat; apalagi haji. Dengan memakai atribut haji—seperti sebutan pak haji dan pakaiannya—dapat diketahui khalayak.
Berbeda dengan ibadah puasa yang tidak bisa kita pamerkan; karena hal itu berada di ruang privat; hanya kita sendiri dan Allah sajalah yang tahu. Dalam ibadah puasa yang mengajarkan banyak hal; mulai dari kesederhanaan sampai kejujuran, tepat sekali kiranya hadits Nabi yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk lahirmu dan hartamu, tetapi Allah melihat hatimu dan perbuatanmu.
Dengan menjalani puasa dengan melampaui tahapan yang telah saya sebutkan di atas dengan baik, kita akan selalu menjadi pribadi yang bertakwa. Pribadi yang bertakwa berarti terus berupaya memperoleh ridha-Nya. Karena itu, di penghujung puasa kita akan memperoleh kesucian kembali (fitrah) yang seolah-olah terlahir kembali seperti bayi tanpa dosa.
Sebab manusia pada dasarnya adalah makhluk yang lemah. Lemah karena tidak dapat mengendalikan diri dari keinginan-keinginan duniawi yang semu serta mengabaikan sisi ukhrawi. Kelemahan manusia adalah tidak memahami efek jangka panjang dari segala perbuatan yang mungkin saja merugikan dirinya sendiri. Manusia mudah tergoda atau terdorong melakukan kesenangan yang berjangka pendek, dan tidak memahami jangka panjang yang akan membuatnya sengsara.
Karena itu Allah menyediakan waktu satu bulan penuh dalam rangka penyucian diri. Pada bulan itulah kita berupaya sekuat tenaga untuk membersihkan diri dengan harapan pada bulan berikutnya (syawal) dengan apa yang disebut dengan Idul Fitri. Kita kerap mengucapkan minal-aidin yang kurang lebih berarti kembali suci dan wal-faizin yang berarti berhasil memperoleh kemenangan dan kesuksesan berpuasa selama satu bulan penuh.
Oleh sebab itu marilah kita menjalani ibadah puasa dengan penuh semangat kebaikan-kebaikan. Tidak sekadar menahan diri dari makan dan minum yang merupakan komponen jasmani yang bersifat pengendalian secara fisik, melainkan juga pengendalian-pengendali dalam kategori hawa nafsu lain yang bersifat ruhaniah, agar memperoleh kesucian, keberkahan, rahmat, dan ridha Allah SWT. []