Dunia IslamKolomNasihat

Ramadhan, Momentum Memperbaiki Diri

2 Mins read

Hingga detik ini, masih banyak orang menyia-nyiakan keberkahan bulan suci Ramadhan. Masih banyak orang yang berpuasa hanya menahan lapar dan dahaga. Masih banyak pula yang menganggap Ramadhan sekadar bulan di mana kaum Muslim diwajibkan berpuasa. Padahal lebih dari itu, Ramadhan sejatinya merupakan momentum mengevaluasi dan memperbaiki diri. Meningkatkan kualitas spiritual dan akhlak seorang Mukmin.

Setiap manusia tidak luput dari dosa, kecuali Nabi Muhammad SAW. Tidak ada perdebatan terkait ma’sum-nya (terjaga dari kesalahan dan dosa) Nabi SAW. Karenanya, kita sebagai manusia diperintah untuk bertaubat kepada-Nya [al-Nur (24): 31] dan terus memperbaiki diri menjadi yang lebih baik dari hari ke hari.

Kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan tidak hanya tertuang dalam ayat al-Quran. Melainkan disampaikan pula dalam hadis Nabi SAW. Dari Talhah ibn Ubaidillah radhiyallahu’anhu, bahwa seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya, “wahai Rasulullah, katakan kepadaku apa yang Allah wajibkan kepadaku tentang puasa?” Beliau menjawab, puasa Ramadhan. Apakah ada lagi selain itu? Beliau menjawab, tidak, kecuali puasa sunnah [HR Bukhari & Muslim].

Rasulullah juga berpesan, barang siapa yang puasa Ramadhan dengan keimanan dan mencari ridha Allah, maka telah diampuni dosanya yang telah lalu. Dan siapa yang bangun malam qadar dengan keimanan dan mencari ridha Allah, telah diampuni dosanya yang telah lalu [HR Bukhari & Muslim].

Hadis tersebut menjelaskan, bahwa bulan Ramadhan adalah momen untuk memperbaiki diri secara spiritual. Sebab seorang Muslim aqil baligh diwajibkan untuk menunaikan puasa. Dan, jika puasa itu dilaksanakan karena keimanan dan mencari ridha Allah, maka dosanya akan diampuni. Karenanya, tidak heran jika banyak kaum Muslim memanfaatkan puasa di bulan Ramadhan ini sebagai ajang memperbaiki diri.

Keistimewaan berpuasa di bulan Ramadhan juga tertuang dalam sebuah hadis. Rasulullah SAW bersabda, tiga orang yang tidak akan ditolak doanya. Imam yang adil, orang yang berpuasa hingga ia berbuka, dan orang-orang yang didzalimi. Doanya diangkat ke awan dan dibukakan baginya pintu langit. Allah SWT berfirman, demi kemuliaanku, saya pasti menolong engkau setelah ini [HR Ahmad].

Sedangkan hikmah sosial berpuasa di bulan Ramadhan adalah merasakan apa yang orang-orang lemah (al-dhu’afa) rasakan. Mereka yang menahan dahaga dan lapar sebab tidak mampu membeli makanan atau minuman. Karenanya, kita diperintahkan untuk bersedekah kepada orang-orang yang kesulitan dan membutuhkan.

Untuk itu, di samping keutamaan berpuasa, terdapat sekian keutamaan ibadah sosial di bulan Ramadhan. Salah satunya adalah bersedekah. Baik itu memberi makan orang-orang miskin, maupun memberi makan orang yang berpuasa. Pahala yang didapat tidak sedikit dan beberapa orang yang menyadari keutamaannya, berbondong-bondong membagikan hartanya kepada orang lain.

Dengan demikian, Ramadhan adalah momentum memperbaiki dan meningkatkan kualitas spiritual sekaligus akhlak. Menjadi seorang Muslim yang taat menjalankan perintah Tuhan. Sebab manusia tidak diciptakan, kecuali untuk beribadah kepada-Nya. Dan, menjadi manusia yang baik dan berguna bagi orang lain sebagai bentuk rasa syukur kepada-Nya.[]

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2024)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…