KolomNasihat

Merehabilitasi Sifat Narsis

2 Mins read

Media sosial telah menjadi candu bagi masyarakat modern, khususnya anak muda. Banyak peningkatan terjadi setelah munculnya Medsos, salah satunya, meningkatnya narsisme dalam diri. Narsisme adalah perasaan mementingkan diri sendiri yang berlebihan, ketergantungan terhadap kekaguman dari orang lain, dan ketidakmampuan untuk berempati dengan orang lain. Sifat ini dinamai dari Narcissus dalam mitologi Yunani, seorang pemuda yang memiliki kekaguman obsesif dan egois pada dirinya sendiri.

Berbagai penelitian telah menemukan hubungan yang kuat antara narsisme yang agresif, dengan berbagai perilaku media sosial. Di antaranya, dalam Narcissism and social media use (2018) diketahui bahwa, narsisme di media sosial, secara tidak langsung, berkaitan dengan kejahatan dunia maya (Cyber bullying).

‘Kemarahan narsistik’ yang muncul karena tidak mendapatkan likes atau persetujuan sosial di Medsos, misalnya, dapat menciderai self-esteem orang yang mengidap narsisme, sehingga meningkatkan agresi dan hormon stresnya. Hal demikian mendorong peningkatan aktivitas posting, serta perilaku cyber agresive, seperti tindakan melindungi diri dengan mempermalukan orang lain.

Dalam hal dakwah Islam, budaya debat atau sanggah -menyanggah di YouTube, Twitter, Instagram, tampaknya dibanjiri oleh para narsis juga. Tidak sedikit Muslim yang menunjukkan keangkuhan, minimnya etika, pamer diri, dan narsistik, ketika mencoba untuk menyangkal atau membantah Muslim lain dalam beberapa poin agama atau hal lain.

Bagaimanapun, kritik atau koreksi harus berakar dalam ketulusan, penelitian ilmiah yang baik, mengikuti aturan kritik Islam, mengutip kata-kata orang yang dibantah secara akurat dan sesuai konteks, tidak melanggar hak orang yang dibantah, dan memberi mereka ruang untuk menarik kembali kesalahan mereka dan kembali ke kebenaran. Sayangnya, narsisme telah membutakan mata hati dan pikiran untuk memperhatikan etika tersebut.

Maka dari itu, kita harus waspada terhadap penekanan pada “aku”, “milikku” atau “diriku”. Iblis, Firaun, dan Qarun merupakan figur yang celaka karena mentalitas narsis ini. “Aku lebih baik daripada dia” (QS. Al-A’raf: 12) adalah kata-kata narsis ala iblis. “Bukankah kedaulatan Mesir adalah milikku?” (QS. Az-Zukhruf: 51) adalah narsisnya Firaun. Kemudian lagi si Karun yang berkata, “Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku” (QS. Qashas: 78). Semua karakter narsis itu oleh figur-figur yang tercela, dan sifat seperti mereka wajib kita hindari.

Maka dari itu, kita harus merehabilitasi sifat-sifat narsisme, terlebih di medsos. Sebagaimana dikatakan oleh Ibn al-Qayyim, obatnya ialah dengan mengakui bahwa diri memiliki aib, dosa, dan ketidaktahuan. Kita perlu mengaku dengan kerendahan hati dan ketulusan sesering mungkin. Dalam Zad al-Ma‘ad (4:435) tertulis, posisi terbaik untuk ‘Aku’ adalah ketika seseorang berkata, Aku adalah hamba yang berdosa, salah, bertobat, mengaku atau sejenisnya. Dan ‘milikku’ ketika dia berkata, milikku adalah dosa, kejahatan, kemiskinan, dan rasa malu. Dan ‘aku’ dalam ucapannya, “Ya Allah, ampunilah aku atas dosa-dosa yang telah kulakukan dengan sengaja dan bercanda, salah atau sengaja; karena aku telah melakukan semua itu.”

Kesimpulannya, seorang narsisis sebenarnya hanya merasakan rasa kepemilikan yang palsu, terus-menerus membutuhkan orang lain untuk memuji dan mengaguminya, serta kurang empati terhadap sesama karena terlalu asyik dengan diri egoisnya. Hal demikian perlu direhabilitasi dengan intropeksi diri, pengakuan yang rendah hati, dan kesadaran tentang kekurangan yang ada. Dalam dakwah, kita juga perlu mengakui sangat sedikitnya pengetahuan yang kita miliki, dan berharap semoga Allah mengampuni dosa-dosa dan perkataan kita tentang agama-Nya tanpa ilmu yang cukup. Mari selamatkan diri dari bahaya narsisme.

Pros

  • +

Cons

  • -
Related posts
Kolom

HTI Bentuk Nyata Negara Teokrasi Yang Gagal

Walaupun Hizbut Tahrir Indonesia HTI) memang secara resmi dibubarkan pemerintah, akan tetapi cita-cita membangun negara berbasis keagamaan masih tetap mengngalir hingga saat ini. Entah simpatisan HTI yang memang cerdik menggunakan kesempatan, atau pemerintah yang terlalu baik sehingga impian HTI tentang negara teokrasi sampai sekarang masih subur.
Dunia IslamKolomNasihat

Ramadhan, Momentum Memperbaiki Diri

Hingga detik ini, masih banyak orang menyia-nyiakan keberkahan bulan suci Ramadhan. Masih banyak orang yang berpuasa hanya menahan lapar dan dahaga. Masih…
Dunia IslamKolomNasihat

Puasa Membentuk Akhlak Mulia

Dalam tulisan yang sederhana dan singkat ini, ada baiknya kita merenung dan mengingat kembali tujuan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan yang…