Kolom

HTI Bentuk Nyata Negara Teokrasi Yang Gagal

2 Mins read

Walaupun Hizbut Tahrir Indonesia HTI) memang secara resmi dibubarkan pemerintah, akan tetapi cita-cita membangun negara berbasis keagamaan masih tetap mengngalir hingga saat ini. Entah simpatisan HTI yang memang cerdik menggunakan kesempatan, atau pemerintah yang terlalu baik sehingga impian HTI tentang negara teokrasi sampai sekarang masih subur.

Jika dilihat lebih jauh tentang makna teokrasi, teokrasi merupakan sebuah sistem politik yang pada praktik menjalankan pemerintahannya berpegang pada kedaulatan Tuhan. Secara fundamental, teokrasi memang dititikberatkan pada wakil Tuhan dan pemimpin umat. Namun pada zaman sekarang, teokrasi yang murni sudah jarang, atau bahkan tidak ada negara yang menerapkan sistem politik tersebut. Lain halnya dengan dua negara, seperti Negara Kota Vatikan dan Republik Islam Iran yang memiliki sistem teokrasi dengan jenis teokrasinya masing-masing.

Jenis teokrasi yang digunakan negara Kota Vatikan merupakan monarki non-turun temurun di mana kepala negara yang berdaulat adalah seorang Paus. Hal tersebut menunjukkan bahwa Negara Kota Vatikan tergolong dalam monarki elektif teokratis. Monarki elektif teokratis sebagian besar seperti negara monarki pada umumnya, namun ada unsur Ketuhanan yang diterapkan dalam jenis sistem politik ini.

Sedangkan teokrasi yang digunakan oleh Republik Islam Iran cenderung pada sistem politik teokrasi jenis teodemokrasi. Teodemokrasi merupakan perpaduan antara unsur Ketuhanan dan kemanusiaan, yang dalam konteks ini, Republik Islam Iran masih melibatkan rakyat dalam menjalankan pemerintahannya. Terlihat dalam berbagai pemilihan umum serta eksistensi partai politik di Republik Islam Iran menunjukkan bahwa peran rakyat masih sangat berpengaruh dalam pemeritahan negara tersebut. Terlepas dari itu, unsur Ketuhanan dengan nama negara Islam serta pemimpin negara diharuskan memiliki jiwa pemimpin serta iman Islam yang mumpuni, serta syarat yang lainnya sehingga mampu memimpin sebuah negara.

Kekhilafahan yang diimpikan oleh pengusung Hizbut Tahrir di Indonesia sebenarnya jika mengunakan teori pada masa sekarang maka sangat tepat, mereka memimpikan negara teokrasi dimana unsur ketuhanan menjadikan patokan sehingga bisa mengambil keputusan. Selain itu, negara-negara yang ikut serta dalam konsep Hizbut Tahrir akan menjadi negara terpimpin oleh satu pemimpin.

Tentunya konsep seperti ini merupakan pemikiran yang paling konyol dan juga tidak mungkin akan dilaksanakan. Hal ini mengacu pada nilai-nilai modernitas, kebebasan, dan nilai demokrasi yang sudah mendarah daging, selain itu tidak mungkin masyarakat akan menerima secara sukarela jika kekuasaan penuh diwakili oleh khalifah atau wakil tuhan.

Jika berkaca pada teori teokrasi, maka tidak tepat HTI dan kehilafahannya merupakan negara teokrasi murni. dimana Allah dan hukumnya merupakan hal yang tertinggi, sedangkan jika melihat pada garis perjuangan yang dibuat oleh taqiyudin an nabhani maka menyalahi toeri ini.

maka hti dan negara kehilapahan bukanlah negara teokarasi seperti apa yang dagaung-gaungkan oleh HTI dan simpatisan, namun tetap pada semi negara teokrasi dimana maksud Taqyyudin An-Nabhani berharap ia dan keturunannya diangkat sebagai pemimpin atau khilafah yang mewakili tuhan dalam mengurus sebuah negara. Lalu bagaimana dengan nilai demokrasi jika berada di negara kekhilafahan? jika dilihat negara kekhilafahan memiliki nilai demokrasi yang sangat tidak baik, dimana nilai kebebasan berbicara, kebebasan memilih sesuatu tidak bisa didapatkan oleh masyarakat dengan mudah.

Mayoritas negara di dunia dan kelompok kepentingan lainnya, termasuk partai politik menjadi sebuah wadah penting dalam berpolitik dan untuk mencapainya tujuan serta kepentingannya. Namun hal itu tidak berlaku di beberapa negara di dunia, salah satunya yaitu Negara Kota Vatikan. Negara berbasis Katolik ini tidak memiliki partai politik. Meskipun memiliki persamaan sistem politik dengan unsur Ketuhanan, lain halnya dengan Republik Islam Iran yang masih terdapat partai politik yang aktif di negaranya. Singkatnya, pemikiran yang dibawakan oleh Hizbut Tahrir dan HTI merupakan kekonyolan yang luar biasa terlebih saat ini kita menikmati suburnya demokrasi diberbagai negara.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2024)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…