Ramadhan selalu menyajikan cerita tersendiri bagi kita, khususnya umat Islam. Di puasa yang sudah beranjak ke-15 hari ini, tentu banyak sekali hal-hal yang kita lalui dan alami, tak terkecuali saya pribadi. Selama ramadhan kali ini misalnya, saya selalu menghabiskan waktu malam bersama teman-teman, baik teman organisasi maupun kampus dengan beragaman kegiatan.
Di samping menghabiskan waktu dengan tadarus bersama, tentu berdiskusi tentang berbagai hal menjadi alternatif utama saya bersama teman-teman. Seperti tadi malam, seoarang teman yang merupakan simpatisan salah satu ormas Islam mengajak berdiskusi tentang dakwah Islam. Sebut saja, ormas yang beberapa tahun silam memotori aksi bela Islam 212, dari sini tentu kita sudah tahu mereka siapa?
Sebagai seorang yang dilahirkan dan besar di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), tentu saya lebih mengonfirmasi cara-cara dakwah yang santun dan ramah. Allah SWT berfirman, serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk, (QS. an-Nahl: 125).
Dikisahkan, pernah satu ketika seorang Arab Badui kencing di satu sudut dalam Masjid Nabi yang memang belum ada batas yang jelas. Ada di antara para Sahabat marah karena sikap tidak beradab tersebut. Tetapi Rasulullah SAW tetap tenang dan berkata, Biarkan dia menyelesaikan hajatnya… Setelah orang tersebut selesai, rasulullah SAW sendiri membersihkan najis itu dan kemudian barulah memberitahunya tentang adab-adab di dalam masjid.
Dalam artian, dari sepenggal kisah tersebut kita dapat melihat seorang Rasul, Kekasih Allah, dan pemimpin Islam rela membersihkan kotoran orang lain yang dianggap salah agar tidak membuatnya tersinggung. Beliau sungguh berakhlak mulia dengan mengajarkan adab kepada orang lain dengan cara beradab. Suatu sikap yang sepertinya harus menjadi teladan bagi kita saat ini. Dan memang visi utama diutusnya beliau adalah demikian, sesungguhya aku diutus untuk meyempurnakan akhlak yang mulia, (HR. Bukhari).
Sahabat yang marah melihat seorang Arab Badui tersebut tidak dapat kita tolak merupakan cerminan umat dan diri kita saat ini. Kita yang sedikit-sedikit marah melihat Islam seolah dilecehkan. Cerminan umat yang selalu emosional melihat simbol Islam dihina. Sikap yang seolah ingin menunjukkan Islam itu gagah, ditakuti dan harus dihormati. Umat saat ini mudah sekali baper dan seolah terdepan membela Islam, tetapi tidak tahu cara yang benar dalam membela Islam.
Apakah umat saat ini salah? Tentu saja tidak. Kita hanya kehilangan teladan dari pemimpin agama sebagaimana Rasulullah SAW mengajarkan dengan keteladanan. Kita saat ini hanya kehilangan pemimpin agama yang menyejukkan seperti Rasulullah SAW mengajarkan dengan kelembutan, bukan pemimpin yang selalu membakar emosi. Pemimpin, panutan dan keteladanan itu hampir punah. Pada akhirnya, kita mudah tersulut emosi dengan sedikit peristiwa apapun yang menganggu eksistensi Islam.
Padahal, jika saja kita mau menelisik lebih jauh dan meneladani akhlak Rasulullah SAW, sungguh kita tidak akan menemukan referensi cara membela Islam dengan menghardik, memaki, menghujat apalagi dengan kekerasan. Islam itu Indah, bukan gagah apalagi garang. Islam itu melindungi dan mengayomi, bukan menghardik dan menakuti. Namun sayangnya, cerita-cerita tentang akhlak dan keteladanan Rasulullah SAW seperti itu sudah tidak banyak terdengar. Kita sibuk mentransfer sejarah Nabi tentang peperangan. Seolah anak kita tidak absah apabila tidak kenal dengan peperangan dalam Islam.
Islam itu indah dan tidak perlu dibela, tetapi perlu dirawat keindahannya dengan sikap kesantunan kita. Kalaupun Islam harus dibela, contohlah cara pembelaan Rasulullah SAW dengan penuh adab. Tepatnya membela Islam itu harus dengan benar bukan dengan sikap sangar. Mengajarkan adab terhadap orang lain itu harus dengan beradab.
Dari kisah inspiratif Rasulullah SAW di atas, sedikitnya kita menemukan dua pelajaran penting. Pertama, selalu mengedepankan maaf atas segala tindakan kesalahan. Memaafkan jauh lebih manjur untuk menyadarkan seseorang dari pada membalas kesalahannya. Memaafkan adalah senjata terbaik dalam membela Islam.
Kedua, mengedepankan kesantunan dan kesopanan terhadap siapapun bahkan kepada mereka yang kita anggap bersalah. Kegagahan Islam tidak akan luntur dengan sikap sopan dan santun terhadap umat lain. Islam tidak akan hina dan dianggap lemah dengan sikap santun dan sopan para umatnya. Rasulullah SAW telah membuktikan kebesaran Islam yang ditegakkan dengan tiang akhlak yang mulia. Adalah Rasulullah SAW orang yang paling bagus akhlaknya: beliau tidak pernah kasar, berbuat keji, berteriak-teriak di pasar, dan membalas kejahatan dengan kejahatan. Malahan beliau pemaaf dan mendamaikan, (HR Ibnu Hibban)
Dengan demikian, dalam konteks hari ini dan yang akan datang para pemuka agama baiknya dapat menjadi representasi Rasulullah Saw dalam berdakwah. Para pemuka agama harus menjadi teladan yang baik, sebagaimana Rasulullah telah contohkan. Dengan dakwah santun dan ramah, percayalah Islam lebih dapat diterima ketimbang dengan cara-cara arogan dan refresif. Dengan dakwah santun, hidup akan menjadi rukun.
Memang, tidak ada yang salah dengan membela Islam, tetapi jika kita tetap ngotot membela Islam dengan arogansi dan kebencian, mungkin kita sudah menemukan figur teladan lain selain Rasulullah SAW, entah.