Dalam tulisan yang sederhana dan singkat ini, ada baiknya kita merenung dan mengingat kembali tujuan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan yang sedang kita jalani. Tujuan puasa tidak lain adalah supaya kita senantiasa bertakwa, sebagaimana telah disebutkan dalam al-Quran Surat Al-Baqarah [2] ayat 183: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu senantiasa bertakwa.”
Dengan kata lain bisa dikatakan, kalau ibadah puasa tidak menjadikan kita bertakwa, maka seluruh ibadah puasa yang kita jalankan dengan penuh perjuangan menahan lapar dan dahaga itu menjadi sia-sia. Pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan takwa? Dan bagaimana agar kita senantiasa bertakwa?
Takwa titik poinnya adalah mengingat Allah SWT. Ketika hari-hari kita dipenuhi dengan zikrullah, secara otomatis akan membentuk suatu kesadaran dalam diri kita bahwa Allah selalu dekat dengan kita, mengawasi kita, dan bersama kita. Karena kita selalu sadar bahwa Allah itu berada di dekat kita, mengawasi serta hadir bersama kita, dalam segala aktivitas dan kegiatan, dimanapun dan kapapun kita berada, maka kita tidak akan melakukan perbuatan tercela, melenceng, dan yang dilarang oleh Allah. Sebab kesadaran kita itu telah membawa pada tujuan utama, yakni ridha Allah.
Oleh sebab itu maka seseorang yang bertakwa, pasti memiliki korelasi positif yang tersistem secara langsung dengan budi pekerti luhur, atau dalam bahasa lain menjadi orang yang beretika atau beradab. Dan dalam bahasa agama disebut akhlaqul karimah. Orang yang bertakwa, semestinya terkoneksi dengan akhlak dalam perilaku sosial di lingkungan sekitarnya. Dengan kata lain, iman disertai dengan takwa akan membentuk kepribadian yang baik dan berbudi luhur.
Namun apabila seseorang belum sampai pada akhlak yang baik, maka patut dipertanyakan sejauh mana seseorang tersebut menjadi orang yang bertakwa. Nabi pun pernah bersabda bahwa yang paling banyak manusia itu masuk ke surga ialah takwa kepada Allah dan berakhlak mulia. Lalu bagaimana dengan ibadah puasa kita agar menjadi orang yang bertakwa dan tidak sia-sia?
Puasa merupakan ibadah personal dan bersifat pribadi. Seseorang masih sangat terlihat apakah mengerjakan shalat atau tidak. Kita pun tahu dengan jelas seseorang membayar zakat atau tidak. Apalagi orang yang beribadah haji, lebih mudah lagi kita lihat dan kita ketahui. Karena haji adalah ibadah yang sangat demonstratif. Tetapi ibadah puasa, tidak ada yang tahu apakah benar-benar berpuasa atau tidaknya, kecuali dirinya sendiri dan Allah SWT. Mengapa demikian?
Kita cukup mencuri momentum untuk meminum air ketika dahaga yang tak tertahankan, tepat saat sedang sendiri. Derita haus itu seketika lenyap, tenggorokan kering kembali basah, dan menambah sedikit kekuatan pada tubuh kita. Tapi akibat dari itu semua, perjuangan ibadah puasa—mengendalikan keinginan—itu seketika hilang. Tentu saja berdosa dan wajib menggantinya lain waktu.
Karena itulah Allah berfirman yang termaktub dalam Hadits Qudsi, yang kalimatnya disusun oleh Nabi Muhammad SAW, “Allah berfirman, ‘Setiap amal anak Adam bagi dirinya, kecuali puasa, puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang menanggung pahalanya.’” (HR. Bukhari). Di sini kita mulai dilatih untuk bertakwa. Apabila kita berpuasa, terus menahan lapar dan dahaga—tidak mencuri makan atau minum dalam kesendirian—maka di situlah benih-benih ketakwaan mulai bersemi.
Kita terus berupaya membendung keinginan untuk tidak makan dan minum saat sendiri, karena kita mengerti bahwa Allah senantiasa bersama kita, melihat kita, dan mengawasi gerak-gerik kita. Karena itu, puasa mengandung aspek pendidikan untuk senantiasa jujur. Jujur kepada diri sendiri dan jujur kepada Allah SWT. Karena agama kita amat menjunjung tinggi sebuah kejujuran. Kejujuran adalah buah dari pada takwa yang berimplikasi pada perilaku baik dalam kehidupannya.
Nilai ibadah puasa yang kita jalankan dengan penuh kejujuran dan keikhlasan, akan membentuk takwa kepada Allah. Takwa kepada Allah akan terkoneksi pada sambungan paralel budi pekerti luhur yang sarat spiritual. Ruhaniah yang membentuk etik dalam kehidupan sosial kehidupan, semestinya mudah kita jalani, namun berat untuk memulainya. Yang terpenting ada niatan baik untuk senantiasa bertakwa.
Kiranya, kita perlu sedikit merenung dan berzikir, agar puasa kita ini betul-betul membentuk pribadi yang lebih baik. Tidak hanya saat momentum bulan ramadhan saja kita dituntut sibuk dalam ritus ibadah, melainkan seterusnya hingga menjadi pribadi yang lebih berakhlakul karimah selamanya. Dengan berakhlak mulia, hidup kita menjadi tenang, damai, dan tentram, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Insya Allah. []