Marhaban Ya Ramadhan, ampunan dan kemenangan kali ini masih dalam suasana pandemi Covid-19, di mana masih banyak keterbatasan dalam memperoleh amalan-amalan lahir maupun batin. Namun, dengan Ridho Allah SWT, seyogyanya kita dapat menyambut Ramadhan dengan kewajiban berpuasa pada tahun ini, dengan tenang, iman, ikhlas dan penuh kegembiraan. Sebab, dalam kondisi dan situasi apapun ibadah harus tetap didirikan.
Puasa Ramadhan merupakan obat yang paling mujarab serta penyembuh sakit dalam tubuh kita, yang telah terbukti medis maupun non medis. Manfaat bagi kesehatan lain: menurunkan risiko penyakit jantung; menurunkan gula darah; meningkatkan kesehatan mental; membuang racun dalam tubuh; meningkatkan fungsi otak; dan Inshaallah akan menurunkan risiko terjadinya Covid-19, begitulah kira-kira para ahli medis menggambarkan manfa’at dari puasa. Dalam artian, puasa itu mensehatkan, sudah sehat berkah pula.
Dengan berpuasa, bukan berarti membuat tubuh menjadi lemas dan produktivitas turun, justru harusnya membuat kita semangat dan produktif. Berkurangnya frekuensi makanan dan minuman yang dikonsumsi, awalnya memang berdampak terhadap penurunan metabolisme tubuh dan menurunnya energi yang dibutuhkan tubuh untuk beraktivitas, namun penurunan bersifat sementara dan kemudian tubuh akan beradaptasi. Cadangan energi dalam tubuh bertahan antara 24 – 48 jam, sedangkan puasa hanya 14 jam.
Ketika kita lapar tapi kita tidak makan, maka tubuh melakukan apa yang disebut gliko neo genesis (perombakan baru cadangan lemak tubuh) untuk menghasilkan tenaga agar bisa beraktivitas sehari-hari. Setelah itu, kita tidak lapar lagi karena kita menyegerakan berbuka (belum sampai 8 jam). Maka kita betul-betul dianjurkan mengakhiri sahur dan menyegerakan berbuka, agar kita tidak merasa “menderita lapar” sampai dua kali dalam sehari.
Dari mekanisme tersebut, kita bisa mengambil beberapa manfaat berpuasa bagi kesehatan, yaitu: organ tubuh pencernaan akan beristirahat; menurunkan berat badan; menyembuhkan gastritis/maag; detoksifikasi; jiwa yang tenang saat beristirahat; dan kenikmatan berbuka saat kita terasa lapar. Menurut penelitian, puasa merupakan proses detoksifikasi yang efektif, yaitu proses pengeluaran racun dari dalam tubuh, karena sisa makanan, sisa metabolisme tubuh, polusi, dan obat-obatan.
Di lain sisi, puasa dapat meningkatkan kesehatan otak. Menurut beberapa studi, puasa dapat melindungi kesehatan otak dan meningkatkan pembentukan sel saraf untuk meningkatkan fungsi kognitif. Karena puasa dapat mengurangi peradangan, puasa juga dapat membantu mencegah gangguan neurodegeneratif seperti penyakit Alzheimer dan Parkinson.
Tapi bukan hanya karena makanan, kebugaran tubuh dan jiwa orang berpuasa mampu menjadi jalan detoksifikasi racun tubuh, racun jiwa dan keburukan hati, Insyaallah orang yang berhasil menjaga kebugaran tubuh, jiwa dan hatinya akan nampak berseri-seri.
Dalam hal ini, minum yang cukup, kebutuhan cairan tubuh anak-anak 1,5 liter (6 gelas) dan dewasa 2 liter, yang diminum saat takjil, setelah berbuka, sebelum terawih, setelah terawih, sebelum tidur dan setelah sahur. Minum air tidak selalu air putih saja, tetapi bisa juga minum kopi, teh, susu, jus buah, kuah sayur, dll. Dalam wabah Covid-19 saat ini, dianjurkan minum dalam keadaan panas dan dicampur dengan herbal yang bersifat antiseptic (jahe, sereh, kunyit, dll.).
Saat berbuka sampai sahur, konsumsi makanan yang berkualitas; bergizi tinggi dan secukupnya (add lips). Hindari kebiasaan makan yang tergesa-gesa dan makan sampai kekenyangan. Minum kopi atau teh dianjurkan saat setelah berbuka atau setelah sholat tarawih, bukan setelah sahur. Mengapa? Salah satu sifat kopi atau teh adalah diuretik (membuat akan sering kencing).
Berbuka puasa dengan yang manis, dianjurkan mengkonsumsi buah-buahan, salah satunya Kurma, karena kandungan gula nya yang tinggi, mengandung tannin dan tamer untuk relaksasi syaraf (menjadikan jiwa tenang).
Adapun pada orang lanjut usia yang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, dianjurkan konsumsi porsi kecil tapi sering, konsistensi makanan yang mudah cerna, konsumsi serat dari buah, dan tetap minum yang cukup minimal enam gelas per hari. Pada Penderita Diabetes Mellitus atau Penyakit Tertentu, diperbolehkan berpuasa dengan pola makan tertentu dan diet tertentu. Dianjurkan konsultasi ke Dokter dan/atau Ahli Gizi. Pada Ibu Hamil, terutama yang kehamilannya di atas 3 bulan, dianjurkan untuk tidak berpuasa.
Dari belajar hidup sehat dan bergizi dalam berpuasa di atas dapat kita ambil kesimpulan, bahwa puasa merupakan suatu bentuk ibadah kita. Kewajiban bagi setiap umat Islam di seluruh dunia. Pekerjaan rumahnya, agar ibadah puasa tidak menjadi alasan untuk kita tidak produktif adalah hidup sehat. Dengan hidup sehat badan kita dapat bekerja dengan maksimal dan produktif, serta mendapatkan barokah dalam beribadah.