Dunia IslamKolom

Puasa sebagai Sarana Mengendalikan Diri

2 Mins read

Puasa Ramadhan mengajarkan manusia untuk senantiasa menjaga panca inderanya dari berbagai perbuatan yang kotor dan tidak terpuji. Ramadhan juga mengajarkan, bahwa orang yang berpuasa akan selalu menjaga hati dan jiwanya dari segala perbuatan dan perkataan yang tidak berguna. Sebab, puasa merupakan madrasah moralitas dan dapat dijadikan sarana untuk melatih berbagai macam sifat terpuji atau bagaimana mengendalikan diri.

Menurut Bahasa Arab, puasa disebut as-saum atau as-siyam yang berarti menahan diri. Maksudnya, menahan diri dari makan dan minum, serta perbuatan yang membatalkan puasa mulai terbit fajar sampai tenggelamnya matahari. Umat Islam juga dikehendaki untuk menahan diri dari mengeluarkan kata-kata kotor, menggunjing orang lain, dan sebagainya.

Ibadah puasa banyak mengandung aspek sosial. Hal ini dikarenakan, melalui ibadah puasa kaum Muslimin ikut merasakan penderitaan orang lain yang tidak dapat memenuhi kebutuhan pangannya seperti yang lain. Ibadah puasa juga menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman sangat patuh kepada Allah ,karena mereka mampu menahan makan atau minum dan hal-hal yang membatalkan puasa.

Puasa adalah jihad melawan nafsu, menangkal godaan-godaan dan rayuan-rayuan setan yang terkadang terlintas dalam pikiran. Puasa dapat membiasakan seseorang bersikap sabar terhadap hal-hal yang diharamkan, penderitaan, dan kesulitan yang kadang kala muncul dihadapannya. Salah satu pelajaran berharga dari ibadah puasa adalah sebagai latihan untuk mampu mengendalikan diri. Sehingga setelah Ramadhan berlalu, kita telah siap menghadapi tantangan hidup yang nyata. Yang mana, salah satu aspek penting yang dibutuhkan adalah kemampuan mengendalikan diri.

Manusia yang mampu mengendalikan diri, adalah manusia yang mampu berpandangan jauh ke depan. Artinya, mereka yang sanggup menunda kenikmatan jasmani yang bersifat sesaat atau sementara, dalam rangka menanam kenikmatan yang lebih agung dan sejati di masa depan.

Bahkan, hakikat puasa tidak hanya menahan diri dari lapar dan dahaga, tetapi juga dituntut kemampuan mengendalikan diri dari kata-kata kotor dan perbuatan tidak berguna, berbohong dan tindakan tidak jujur, kata sia-sia dan perbuatan dosa, serta harus mempuasakan seluruh anggota badannya.

Sebagaimana sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan sia-sia, perbuatan jahat, dan tindakan kejahilan, maka di sisi Allah tidak ada gunanya meninggalkan makan dan minum”. Dan sabdanya, “Betapa banyak orang berpuasa, akan tetapi tiada yang diperoleh dari puasanya kecuali hanya haus dan lapar.” Sehingga salah satu inti puasa adalah untuk mendidik manusia agar terbiasa dan mampu mengendalikan ego dan hawa nafsu, serta mengendalikan diri dari perbuatan tercela, tidak bermanfaat dan munkar.

Oleh karena itu, di bulan Ramadhan ini, puasa sebagai perisai dan terapi pengendalian diri, terapi pengendalian emosi, terapi pengendalian keinginan, dan terapi pengendalian keburukan yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Umat Islam harus memaknai puasa tidak hanya sebagai ibadah untuk menggugurkan kewajiban saja, tetapi yang lebih penting adalah memaknainya sebagai latihan untuk menahan diri.

Dengan demikian, puasa adalah sebagai madrasah dalam pengendalian diri melalui ajaran berpantang dari segala perilaku jahat dan sia-sia. Pengendalian diri merupakan faktor yang sangat penting dalam membebaskan manusia dari belenggu kebiasaan yang buruk. Manusia yang berpuasa, pada hakikatnya, melatih diri membiasakan mendahulukan kehendak Allah SWT di atas segala kehendak akal dan emosinya.

Maka dari itu, marilah dalam bulan Ramadhan ini, kita konsisten untuk melatih bagaimana cara mengendalikan diri agar menjadi manusia yang mampu mengendalikan hawa nafsu. Dengan begitu, kemanusiaan dalam agama yang dikenal sebagai fitrah dalam hati akan tersambung antar manusia yang lain. Sehingga kemajuan dan kemakmuran bersama akan segera tercapai.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2024)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…