Malam Lailatul Qadar merupakan malam yang sangat ditunggu-tunggu umat Muslim dipenjuru dunia saat bulan Ramadhan. Malam tersebut adalah satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, dimana didalamnya terdapat kemuliaan. Lantas bagaimana kaum perempuan yang memiliki rutinitas haid tiap bulan? Mungkinkah mereka tetap memiliki kesempatan untuk mendapatkan kemuliaan Lailatul Qadar?
Juwaibir dalam Lathaif Al Ma’arif mengatakan, dia bertanya pada Adh-Dhahak : “Bagaimana pendapatmu tentang wanita nifs, haid, musafir, dan orang yang tidur, apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari Lailatul Qadar?” Adh-Dhahak menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Setiap orang yang Allah terima amalanya akan mendapatkan bagian Lailatul Qadar”.
KH. Ishomaudin Ma’sum, pengasuh Pondok Pesantren Darul Umum, Pasuruan menjelaskan, “Barang siapa yang melakukan ibdah di malam Lailatul Qadar, maka akan dilipat gandakan sebanyak ibadah seribu bulan. Bagi wanita yang berhalangan, bisa mengisinya dengan berdzikir dan membaca tasbih.” Dalam sebuah hadis, dari Aisyah ra, bahwa ia bertanya pada Rasulullah, Wahai Rasulullah, bagaimana seandainya aku tau terjadinya malam Lailatul Qadar, apa yang aku baca pada malam itu? Beliau menjawab, Bacalah Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa’fu anni (HR Bukhari-Muslim).
Wanita haid atau nifas tentunya tidak diperbolehkan melaksanakan ibadah shalat dan memegang mushaf, sehingga ia tidak bisa mendirikan sholat malam yang berupa tarowih, witir ataupun tahajud pada malam Lailatul Qadar. Dalam keadaan ini juga, tidak bisa melaksanakan ibadah umrah, tawaf atau membaca al-Quran sambil memegang mushaf secara langsung. Akan tetapi wanita yang haid atau nifas tetap bisa mendapatkan pahalanya orang-orang yang melakukan qiyamul lail ketia malam Lailatul Qadar.
Ada beberapa amalan yang bissa dilakukan dalam rangka menghidupkan dan mendapatkan malam Lailatul Qadar bagi kaum wanita yang sedang haid atau nifas. Pertama, memperbanyak doa, karena Lailatul Qadar adalah waktu yang mustajab untuk berdoa, juga merupakan malam penetapan taqdir. Diantara doa yang dianjurkan yakni seperti yang telah disebutkan di atas, Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa’fu anni yang artinya, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha pengampun, lagi mencintai ampunan, maka ampunilah aku”.
Selain berdoa untuk diri sendiri, juga dianjurkan mendoakan untuk umat yang lain. Imam Nawawi al-Bantani menjelaskan’ “Pada malam itu (Lailatul Qadar) disunahkan memperbanya doa untuk kepentingan dan permasalahan kaum muslimin, sebab ini merupakan syiar atau tandanya orang-orang shalih, dan hamba-hamba Allah yang arif bijaksana” (Al-Adzkaar, hal 191).
Yang kedua, Memperbanyak berdzikir kepada Allah SWT dengan berbagai jenis dzikir yang disyariatkan. Seperti, Subahanallah walhamdulillah walaailahaillallah wallahuakbar atau Subahanallahi wa bhamdihi subahanallahil adzim atau dzikir-dzikir lainnya. Dzkir memang dianjurkan dalam setiap waktu, namun ketika pada malam Lailatul Qadar, dzikir lebih diutamakan lagi.
Yang ketiga, banyak bertaubat dan membaca istigfar. Ini sangat penting, karena begaianapun juga kita sebagai Muslim pasti melakukan dosa. Baik dosa besar maupun dosa kecil, dengan sengaja ataupun tidak sengaja. Lailatul Qadar merupakan moment paling baik untuk menghapus dosa-dosa kita tersebut dengan air mata taubat dengan sebenar-benarnya taubat. Apalagi bila waktu tersebut adalah sepertiga malam terahir Lailatul Qadar, yang mana doa dan permohonan taubat di dalamnya sangat dikabulkan oleh Allah SWT.
Keempat, bersedekah. Ini merupakan salah satu amalan yang paling utama di bulan Ramadhan, namun tentunya bersedekah pada waktu Lailatul Qadar ini lebih utama dikarenakan keberkahan waktu dan malam ini.
Yang terahir, muhasabah atau introspeksi diri dan evaluasi diri. Sangat penting untuk bermuhasabah dan introspeksi diri pada malam Lailatul Qadar dihadapan Allah SWT. Bermuhasabah tentunya berlaku bagi seluruh manusia. Kegiatan ini menjadi penting, sebab hal ini akan membangkitkan rasa berdosa dan banyak lalai dalam menjalankan kewajiban sebagai hamba Allah. Dengan bermuhasabah, secara mengakui dosa dan khilafah, bersimpuh dengan bersungguh-sungguh mengharapkan ampunan dan maghfirah dari Allah, hatinya akan khusyu.
Itulah beberapa amalan yang bisa dilakukan bagi wanita yang sedang berhalangan haid dan nifas. Wanita yang sedang berhalangan tetap memiliki kesempatan untuk meraih kemuliaan Lailatul Qadar. Meski memang wanita yang haid atau berhalangan memiliki larangan untuk melakukan ibadah sholat dan membaca al-Quran secara langsung dengan mushafnya, sebagaimana laki-laki dan wanita yang tidak berhalangan pada malam Lailatul Qadar, namun masih ada opsi untuk tetap menghidupkan malam Lailatul Qadar.