Bulan suci Ramadhan merupakan bulan yang sangat mulia. Dalam bulan tersebut, umat Islam diwajibkan untuk menjalankan ibadah, salah satunya puasa. Puasa bukanlah sekadar menahan lapar dan haus saja, tetapi juga momentum memperbaiki karakter manusia. Pada bulan inilah umat Islam semestinya mengasah dirinya untuk kembali melakukan berbagai amalan kebaikan yang mungkin sudah mulai luntur atau bahkan hilang.
Di era keberlimpahan teknologi saat ini, satu hal yang sulit ditinggalkan oleh pengguna sosial media, meskipun sedang berpuasa ialah menyebarkan kebencian, informasi hoaks dan provokasi. Menurut survei Masyarakat Telekomunikasi (2019) terhadap 941 responden, sebanyak 14,70 persen menyatakan menerima berita hoaks lebih dari sekali dalam sehari. Dan, sekitar 61,5% responden berpendapat hoaks sangat mengganggu. Kenyataan ini menunjukkan betapa masyarakat kita begitu mudah menyebarkan informasi kebencian dan hoaks di media sosial.
Kewajiban puasa seharusnya turut mereduksi jumlah hoaks di media sosial. Nabi Muhammad Saw. Bersabda: Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan zur, maka Allah tidak berkepentingan sedikitpun terhadap puasanya (HR.Bukhari). Bahkan, Ibnu Hajar mengartikan zur dengan alkidzbu atau dusta. dasarnya berpuasa tanpa meninggalkan segala macam bentuk kebohongan adalah sia-sia. Imam As-Subki yang menyatakan bahwa sempurnanya ibadah puasa itu jika selamat dari berkata kotor dan berbohong.
Sebagai ibadah spiritual sekaligus sosial, puasa Ramadan kerap disebut sebagai latihan menuju jihad akbar. Asumsi ini tentu bukan ungkapan semata. Pasalnya, dari segala aspek, puasa memang memenuhi syarat disebut sebagai bagian dari jihad akbar. Bagaimana tidak? Puasa mensyaratkan pengekangan semua bentuk dan jenis hawa nafsu negatif. Ketika menjalani puasa, nafsu biologis kita dikunci. Makan, minum dan berhubungan badan yang sebelumnya dihalalkan dalam Islam menjadi haram dilakukan.
Tidak hanya dari segi fisik. Puasa juga mensyaratkan pengendalian perasaan negatif seperi marah, benci, dan sejenisnya. Pendek kata, puasa mengajarkan manusia hidup dalam kekosongan; perut kosong, hati kosong dan pikiran kosong. Kosong dalam konteks ini bukan dimaknai sebagai kondisi kehampaan atau linglung, melainkan lebih dimaknai sebagai sebuah keadaan yang jernih dan suci.
Dalam terminologi Jawa, istilah yang tepat untuk menggambarkan kondisi itu ialah “suwung”. Suwung ialah kondisi ketika manusia tidak lagi memiliki ambisi pada hal-hal duniawi; makanan, kekuasaan, seksualitas dan sebagainya. Dalam kondisi suwung itulah manusia niscaya bisa berpikir jernih, berucap secara santun dan bertindak dengan bijaksana.
Karena itu, momentum puasa Ramadan 1442 Hijriah menjadi sarana pendidikan karakter yang membimbing manusia menjadi pribadi bertakwa. Puasa seharunya menjadi jeda bagi kita untuk sejenak melakukan pencucian jiwa dan membangun akhlak mulia. Menghindarkan diri dari segala macam bentuk ucapan mengandung kebencian dan perkataan bohong kepada sesama yang dapat menyakiti hati orang lain.
Selain itu, puasa juga bisa menjadi sarana agar kita menghindari kebohongan, adu domba dan provokasi. Jika demikian, puasa bukan sekadar ritual jasmani menahan lapar dan dahaga saja, melainkan juga ritual rohani menahan diri untuk tidak berbuat bohong, memproduksi atau mengkonsumsi hoaks yang dapat mengotori keindahan jiwa.
Sekadar menahan lapar saat puasa ialah selemah-lemahnya iman. Masih ada lagi tingkatan puasa yang lebih tinggi dan berorientasi pada pengendalian diri. Teringat pada kisah ketika Rasulullah menyudahi Perang Badar, para sahabat mengira pertarungan telah usai. Rasulullah pun mengenalkan bentuk jihad akbar yang pemenangnya kelak mencerminkan kesejatian manusia. Jihad itu ialah perlawanan atas kebiri nafsu kebinatangan yang menjadi antitesis atas sifat-sifat manusia. Itulah jenis puasa khawash al khawash. Puasa jenis ini tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tapi juga mampu mengendalikan hawa nafsu yang bersifat rohaniah.
Sementara itu, puasa menjadi sarana pendidikan untuk meningkatkan kualitas kalbu, rohani, dan akhlak bagi setiap individu. Puasa mendidik bangsa ini untuk mengekang egoisme dan keinginan yang ada dalam diri yang dapat mewujud dalam perilaku yang melanggar aturan dan norma. Puasa menjadi perisai atas segala perilaku tercela.
Berpuasa sejatinya merupakan bentuk jihad akbar untuk melawan nafsunya sendiri yang umumnya mengarahkan pada keburukan. Tak jarang, orang yang sedang berpuasa senang berlomba-lomba melakukan kebaikan dengan berlomba-lomba memperbanyak beribadah dan menjauhi laranganNya.
Dengan demikian, puasa bukan hanya sebatas menahan lapar dan haus, tetapi menahan untuk tidak menyebarkan hoaks. Maka dari itu, bijaklah memanfaatkan media sosial dengan tidak menebar berita bohong, provokasi, ujaran kebencian, fitnah dan adu domba.