Kolom

Pentingnya Kecakapan Digital ala Milenial

3 Mins read

Semakin berkembangnya teknologi digital, akses untuk berselancar dengan berbagai informasi dan pengetahuan pun semakin mudah didapatkan. Namun, dengan adanya kecanggihan ini, tidak berarti penggunanya terhindar dari wabah disinformasi. Semakin banyaknya informasi, justru semakin membanjirnya hoaks, ujaran kebencian, dan informasi lainnya yang menyesatkan.

Akibatnya, begitu mudahnya milenial terjebak pada hoaks dan ujaran kebencian, ternyata juga menjadi pintu masuk bagi infiltrasi radikalisme. Jika menilik pada data bahwa milenial merupakan generasi yang lebih dekat dengan digital dan rentan terpapar informasi yang menyesatkan.

Badan Pusat Statistik (BPS) diketahui jumlah penduduk Indonesia hingga 2020 didominasi oleh dua generasi, yakni generasi milenial Z dan Y. Generasi Z adalah penduduk yang lahir pada kurun tahun 1997-2012, dan generasi Y yang lahir periode 1981-1996. Dari hasil survei sepanjang Februari-September 2020 itu didapati jumlah generasi Z mencapai 75,49 juta jiwa atau setara dengan 27,94 persen dari total populasi berjumlah 270,2 juta jiwa. Sementara, generasi Y mencapai 69,90 juta jiwa atau 25,87 persen.

Dari kedua generasi tersebut, milenial merupakan usia yang masih dalam proses pencarian jati diri dengan terus mencari role model. Media sosial menyajikan galeri karakter lintas budaya dari beragam kepribadian dan latar belakang. Di antara karakter itu, kita akan temui beragam tipe informasi, misalnya banyaknya hoaks, ujaran kebencian, narasi bullying, dan lainnya. Maka dari itu, generasi milenial perlu belajar menahan diri ketika berhadapan dengan beragam informasi di media sosial maupun di kanal berita.

Sabar mengulik keabsahan data, mengurai argumen, dan menerka maksud dari apa yang disampaikan merupakan kunci agar generasi milenial tidak terjebak pada informasi yang menyesatkan. Di sisi lain, sikap waspada itu harus juga dibarengi sikap terbuka dan berlapang dada. Terbuka menerima keberagaman, menghargai pendapat orang lain, dan beradaptasi dengan ide serta gagasan baru.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, kecakapan literasi digital perlu dimiliki oleh generasi milenial. Literasi digital adalah kemampuan untuk memanfaatkan teknologi digital untuk meneliti, mengembangkan, dan lebih kritis dalam menerima informasi yang didapatkan. Kemampuan ini juga mencakup menggunakan perangkat cerdas untuk mengetahui , bertukar informasi, termasuk mencari hiburan.

Kesempatan untuk menuangkan gagasan dan berdiskusi dengan berbagai kalangan semakin luas dan terbuka. Generasi milenial pun dapat memanfaatkan kelas virtual dengan komunitas yang sesuai bakat atau minat dari berbagai layanan yang banyak tersedia secara gratis. Sementara, sebagai langkah awal, generasi milenial butuh dibekali dengan pemahaman akan konsep anonimitas dan privasi sebelum ditanamkan kepada mereka nilai-nilai kritis, demokratis, dan etis dalam pergaulan di dunia maya.

Konsep anonimitas ini mengajarkan milenial agar selalu waspada terhadap potensi kejahatan yang bisa menyasar informasi pribadi mereka. Akun digital, baik dari media sosial atau lainnya yang bisa dimanfaatkan untuk kejahatan atas nama pemilik akun. Konsekuensi dari jejak digital (digital footprint) perlu disampaikan lebih awal. Meskipun, tidak berarti generasi milenial ini dapat seenaknya kemudian berlindung di balik identitas anonim.

Namun, konsep privasi akan menyadarkan mereka untuk memiliki ruang pribadi yang tidak melulu di posting atau dibagikan di sosial media. Potret wajah, diri, dan suasana hati bukanlah sesuatu yang wajar untuk diunggah di ruang publik secara terus menerus.

Beberapa kasus human trafficking, pemerasan dengan modus ancaman penyebaran foto-foto pribadi, serta penyalahgunaan foto seseorang di situs dewasa dapat bermula dari menyepelekan hal tersebut. Oleh karena itu, milenial perlu dijejali doktrin bahwa ketenaran dan kepuasan tidak sebanding dengan harga diri. Tanggungjawab atas hal-hal sebesar itu merupakan dasar bagi sikap menghargai diri sendiri. Dari sinilah pentingnya kecakapan literasi digital.

Pesatnya kemajuan di bidang teknologi informasi membuat klasifikasi pengguna layanan digital tidak lagi dilihat dari perbedaan usia. Foundation for Young Australians melalui skema ‘The New Work Order’ menyebutkan bahwa dunia digital dimanfaatkan oleh setidaknya empat golongan di antaranya pertama, digital muggle, merupakan golongan yang mengakses layanan digital tanpa perlu memiliki kecakapan digital tertentu.

Kedua, digital citizen, memanfaatkan layanan digital untuk tujuan berkomunikasi, mencari informasi, dan melakukan transaksi. Ketiga, digital worker, mengatur jalannya sistem digital yang keempat, digital maker, berperan membangun teknologi digital. Biasanya digital maker membuat teknologi sesuai dengan kebutuhan setiap pengguna.

Sementara, generasi milenial disebut digital natives masuk dalam kategori digital muggle. Mereka merupakan bagian dari kelompok yang memasuki dunia digital tanpa pemahaman cukup akan seluk beluknya. Di lain sisi, dunia digital tidak dibatasi ruang sehingga siapa pun bisa ditemui dan diajak berinteraksi. Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan generasi milenial untuk terlibat dalam pergaulan yang lebih luas dan menemukan komunitas yang tepat.

Meskipun begitu, milenial tetap butuh bimbingan dalam interaksi tersebut dalam hal menyikapi keberagaman. Termasuk sikap tenang dan santun ketika menghadapi perbedaan pendapat, menjalin dialog konstruktif, dan tidak melayani serta memedulikan ujaran kebencian. Kemampuan berpikir kritis juga dapat dilatih dalam situasi bertukar informasi di jejaring media sosial. Milenial dituntun untuk menilai sebuah informasi dari sisi keabsahan maupun kebermanfaatannya.

Sumber informasi, konteks, otoritas (lembaga maupun keilmuan), hingga refrensi menjadi pertimbangan mereka ketika memvalidasi keabsahan suatu informasi. Selain itu, perlu pula diberi pemahaman bahwa informasi yang absah pun tidak serta merta bermanfaat. Terkadang informasinya memang baik, akan tetapu tidak tepat atau tidak signifikan. Asas kebermanfaatan informasi penting dalam menentukan informasi mana yang layak disebar dan mana yang tidak.

Dengan demikian, pentingnya literasi digital merupakan bagian untuk dapat meningkatkan kecakapan untuk dapat menerima informasi. Darurat komunikasi bangsa ini harus diatasi secara bersama-sama dengan bertanggung jawab atas informasi yang dibuat, dikonsumsi, dan didistribusikan. Oleh karena itu, dengan adanya digital milenial seharusnya dapat menjaga kecakapan dan kewarasan berfikir untuk memilah dan memilih materi dan bahan bacaaan di media digital.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2024)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…