Ibadah puasa memberikan hikmah yang besar tentang keutamaan mengendalikan hawa nafsu. Bulan Ramadhan mendidik umat Muslim agar menjauhi perilaku tercela, baik di ruang nyata maupun maya. Dalam bermedia sosial (medsos), orang yang tengah berpuasa semestinya mampu menjaga tangannya untuk tidak menyebarkan hoaks, dan menulis status atau komentar yang mencaci maki. Sebab, hal tersebut dapat menghilangkan keutamaan dari puasa itu sendiri. Oleh karena itu, penggunaan media sosial selama bulan Ramadhan perlu dilakukan secara bijak.
Era digital menghadirkan gelombang informasi yang begitu melimpah sehingga tak sedikit orang yang tak dapat memilah, mana informasi salah dan mana informasi yang sah. Hal itu tentu banyak berdampak pada puasa yang mestinya dijalani dengan penuh gairah, tetapi justru diiringi dengan resah.
Jempol pada layar harus dilangkahkan pada penulisan yang mengandung kalam hikmah agar hidup semakin cerah dan berkah. Bukan menyebarkan sesuatu yang belum bisa dipastikan kebenarannya, yang justru melahirkan keresahan baik bagi diri sendiri, maupun orang lain. Jika komentar yang kita kirim hanya nyinyir belaka, lebih baik diam, daripada memancing kegaduhan.
Ramadhan sengaja Allah hadirkan kepada kita untuk dapat melatih diri selama sebulan penuh. Hal tersebut mestinya dijalani dengan segenap ruh sehingga puasa tidak hanya melahirkan keluh akan lapar dan dahaga yang membuat lemas tubuh. Sebab, Ramadhan merupakan bulan yang suci, bulan yang mensucikan hati.
Hati kita seharusnya dicuci dengan meningkatkan amal baik tanpa henti, dan amal buruk yang harus disudahi. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam al-Quran surah al-Baqarah ayat 183, puasa dilakukan untuk melahirkan Muslim yang lulus dari bulan Ramadhan dengan membawa predikat orang bertakwa. Salah satu hal baik yang penting dilakukan yaitu bijak dalam bermedsos. Lantas, bagaimana cara kita agar bijak menggunakan medsos?
Pertama, mengubah pola pikir. Berpikir panjang saat menulis setiap kata, kalimat, bahkan tulisan dalam jejaring sosial. Pertimbangkan manfaat yang penulis maupun pembaca lainnya dapatkan dari sebuah tulisan yang kita kirimkan. Apalagi, ketika berpuasa, nafsu, kemarahan, keluh kesah harus menjadi faktor utama yang harus dikendalikan untuk tidak dibagikan lewat medsos.
Kedua, memilih input yang baik. Setiap hari kita tidak bisa menghindari jutaan informasi, berbagai status dan komentar di timeline medsos kita atau orang lain yang belum tentu membawa manfaat baik kepada pembacanya. Oleh karena itu, kita perlu bijak memilih siapa yang menjadi teman di jejaring sosial. Informasi yang baik dan berguna untuk dibaca serta dampak yang didapatkan dari sebuah kata atau kalimat di medsos. Jangan sampai, isi medsos kita hanya dipenuhi oleh orang-orang atau kelompok yang kerap menebarkan kebencian dan pengaruh buruk lainnya.
Ketiga, menggunakan medsos sesuai porsi. Hindari menggunakan medsos secara berlebihan. Jangan sampai, kegiatan browsing, chat, streaming membuat kita lalai dan lupa waktu shalat karena asiknya berselancar di dunia maya. Atur waktu agar gadget dan lainnya dapat dijauhkan ketika tengah beribadah, buka puasa dan sahur bersama keluarga. Memanfaatkan informasi-informasi menarik tentang Ramadhan melalui medsos serta aplikasi yang dapat membantu ibadah.
Keempat, menghindari medsos dari hal-hal yang haram. Segala muatan yang mengandung unsur negatif, seperti pornografi, kejahatan, dengki, kesombongan, kemarahan, permusuhan, sumpah serapah, dan lain sebagainya, merupakan suatu hal yang haram. Muatan-muatan tersebut tentu bertolak belakang dengan semangat dari ibadah puasa.
Terakhir, menyebarkan kebaikan. Momentum bulan puasa tepat untuk berbagi dan menyebarkan kebaikan dan perdamaian melalui medsos. Hikmah dari banyaknya konten positif yang dibagikan akan mengantarkan kebaikan demi kebaikan lain di bulan puasa ini. Misalnya, ketika ada orang yang tengah berbagi kepada orang lain, baik itu dalam bentuk sembako atau makanan untuk berbuka, yang kemudian ia sebarkan di medsosnya, tentu itu akan memberikan energi positif bagi pengikutnya untuk ikut berbagi terhadap sesama.
Dengan demikian, madrasah Ramadhan melatih diri kita untuk senantiasa melakukan kebaikan, di manapun itu, baik dunia nyata, maupun maya. Di era medsos ini penting bagi kita untuk bersabar, dan menahan diri untuk berkomentar miring dengan tujuan yang tidak jelas kebaikannya bagi pembaca. Maka dari itu, mari kita isi medsos dengan konten-konten kebaikan di bulan yang penuh keberkahan ini.