Puasa Ramadhan wajib dilaksanakan oleh seluruh umat Islam, kecuali seseorang yang memiliki halangan (Wanita haid, hamil, menyusui, orang sakit, musafir, dan lainnya). Akan tetapi, halangan tersebut wajib diganti di kemudian hari, setelah Ramadhan berakhir. Sejatinya, puasa mengajarkan kita dalam mengendalikan diri. Di sinilah diri kita diuji. Dengan mengendalikan diri, kita akan menuju puncak keberhasilan di hari kemenangan nanti, yakni Idul Fitri.
Jika tidak dengan pengendalian diri, manusia pasti berperilaku seenaknya dan hidupnya tidak bermakna, sehingga mereka akan saling serobot serta angkara tanpa kendali. Puasa inilah yang menjadikan kita mampu mengendalikan diri dari segala perbuatan yang bersifat negatif. Puasa perlu dijadikan pengendalian hawa nafsu dan penyadaran diri. Caranya adalah melaksanakan seluruh kewajiban. Dengan melakukan kewajiban, maka secara sendirinya diri kita nantinya akan terkendali.
Di samping itu, manusia memiliki sifat dasar yang serakah. Keserakahan manusia tidak akan pernah berhenti, karena serakah adalah penyakit hati yang dimiliki manusia. Manusia selalu berpikir ingin mendapatkan segala sesuatu lebih banyak, tanpa peduli bagaimana cara yang ditempuh, apakah baik atau tidak. Maka dari itu, sifat dasar manusia yang serakah ini harus dibentengi dengan puasa agar terkendali dalam hidupnya.
Pengendalian diri atau kontrol diri berarti menjauhkan diri dari perilaku yang dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Dalam hadis HR. Bukhari dan Muslim, pengendalian diri pun dijelaskan, yang artinya, Orang yang perkasa bukanlah orang yang menang dalam perkelahian, tetapi orang yang perkasa adalah orang yang mengendalikan dirinya ketika marah. Hadis tersebut menjelaskan, bahwa manusia harus bisa menjaga dan mengontrol diri pada saat marah. Dari hadis itu, kita mengetahui, bahwa seseorang yang bisa mengendalikan dirinya adalah mereka yang memiliki kesabaran tinggi.
Di sisi lain, bulan suci Ramadhan senantiasa menjadi momen pembelajaran yang baik bagi umat Islam di seluruh dunia. Bulan Ramadhan menjadi upaya kita untuk memetik hikmah. Salah satu hikmah terpenting dari Ramadhan ini, yaitu semangat mengendalikan diri. Hal tersebut akan menjadi pembelajaran berharga bagi Muslim, karena dalam berpuasa kita harus menggunakan sikap sabar dalam menjalani hidup.
Berangkat dari hal tersebut, puasa Ramadhan sebagai pengendali diri kita, karena ketika berpuasa kita harus melaksanakan kewajiban tidak makan, minum, mengeluarkan hawa nafsu buruk, dan sejenisnya, mulai sebelum terbitnya fajar, sampai terbenamnya matahari. Mengendalikan diri tidak hanya saat puasa di bulan Ramadhan saja, tetapi harus dilakukan sepanjang hidup, selamanya, dalam hal apa saja, dan di mana pun. Hal tersebut dilaksanakan agar hidup kita menjadi teratur dan sejahtera.
Sementara itu, ketika bulan Ramadhan, kita diajarkan kesederhanaan. Selama berpuasa di bulan Ramadhan juga kita dianjurkan untuk menunjukkan pola hidup hemat dan tidak berlebih-lebihan. Saat berpuasa, kita hanya makan dua kali sehari, yakni saat sahur dan berbuka. Selain itu, puasa juga mengajarkan kita untuk disiplin, seperti pada sebelum Adzan Subuh, kita harus menghentikan makan dan minum, kemudian kita akan makan dan minum kembali, saat berbuka puasa.
Dengan demikian, puasa Ramadhan adalah untuk pengendali diri kita. Melalui bulan Ramadhan kita belajar segala hal demi kemajuan diri kita. Puasa Ramadhan sebagai pengendali diri kita, menjadi titik awal bagi umat Islam agar selalu mengevaluasi perilaku kita setiap waktu. Puasa Ramadhan harus menjadi momentum untuk selalu bertakwa kepada Allah SWT. Selain itu, puasa mengajarkan setiap Muslim untuk selalu taat dan shaleh secara keseluruhan.