Dunia IslamKolom

Puasa Melatih Keikhlasan Diri

2 Mins read

Bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk kita melatih diri agar dapat sabar dan ikhlas. Selain bermacam ganjaran yang berlimpah bagi sesiapa yang melakukan amal kebaikan, momentum ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh umat Muslim sebagai pemblajaran hidup. Di bulan Ramadhan, keikhasan kita diuji melalui berbagai peristiwa kolektif dan pribadi. Oleh karenanya, puasa mendidik keikhlasan yang mempribadi.

Puasa ditengarai sebagai ibadah yang langsung terhubung kepada Allah SWT. Hanya Allah dan diri manusia yang sendiri yang tau, sehingga puasa adalah suatu ibadah yang tidak bisa disombongkan. Allah SWT dalam sebuah hadis Qudsi mengatakaan, “Semua perbuatan anak adam adalah untuk mereka sendiri, kecuali puasa adalah untukKu dan Aku yang akan membalasnya.” Maknanya, ibadah puasa lebih terlindungi dari noda pamer dan bangga-banggaan selayaknya ibadah lain. Orang yang berpuasa dengan yang tidak berpuasa akan sulit dibedakan ketika dalam keadaan tidak makan dan tidak minum, kecuali ia mengatakan dirinya sedang berpuasa.

Ikhlas hanya ada di dalam hati. Jika seseorang menyatakan dan memberi tau bahwa dirinya ikhlas, itu tidak lantas disebut dirinya telah ikhlas. Sebab, ikhlas ada pada dirinya dan Allah yang maha mengetahuinya. Ikhlas dalam praktik ibadah merupakan situasi psikologis yang paling rumit. Ikhlas diibaratkan, jika kita beramal dengan tangan kanan, maka tangan kiri tidak mengetahuinya. Biasanya keikhlasan tercermin dalam perbuatan dan efeknya. Dan Allah menjanjikan pahala yang tak terhingga bagi orang yang ikhlas beriman dan beribadah, sehingga kelak dihari perhitungan amal tersebut akan membuat kita ditolong oleh Allah.

Ikhlas hanya dapat diraih dengan cara mengontrol diri dan menolak ajakan hawa nafsu. Sebagaimana sabda Nabi SAW, “Orang yang sempurna akalnya ialah yang mengoreksi dirinya dan bersedia beramal sebagai bekal setelah mati. Dan orang yang rendah adalah yang selalu menuruti hawa nafsunya dan mengharapkan angan-angan kepada Allah”(HR Tirmidzi).

Ikhlas merupakan makna ibadah yang tidak mempublik, tetapi mempribadi. Artinya bahwa, orientasi ibadah bukan ingin mendapat drajat kemuliaan karena mendapat imbalan, pengharagaan atau sanjungan dari orang lain sebab melakukan perbuatan baik. Puasa mengajari diri melepaskan diri dari hegemoni konsumsi. Melalui puasa, seorang yang beriman akan terlatih menjadi pribadi yang mampu membebaskan blenggu materalisme, keserakahan, dan nafsu syahwat. Puasa secara subtansif mengeleborasi pemaknaan ikhlas sebagai tolak ukur kunci bagi keberhasilan umat untuk mencapai drajat tertinggi di hadapan Tuhan.

Pemaknaan ikhlas yang mempribadi dapat ditransformasi dalam realitas sosial dalam berbagai bentuk lelaku pembebasan. Mengajak orang lain untuk beramal sholeh, membantu orang-orang miskin, yatim-piatu, sanak keluarga yang kesulitan hidup, semua itu lebih mulia dilakukan pada saat puasa Ramadhan. Menagapa? Sebab puasa menjadi bengkel hati agar manusia secara sengaja diajak untuk melakukan ibadah yang terhubung dalam dua dimensi. Pertama, dimensi yang tersambung dengan kualitas ibadah langsung kepada Allah. Kedua, dimensi yang menyangkut kualitas ibadah yang tersambung dengan nilai-nilai kemanusiaan. Dua dimensi ini perlu diseimbangkan.

Ikhlas bermuara pada mencapai ridlo Allah yang bermakna tawakal, bahwa seluruh ibadah yang kita rajut semasa hidup semuanya diserahkan pada hak preogratif Allah untuk memberikan ganjaran atau tidak. Kita mesti yakin, semua keputusan Allah terhadap amal hambanya adalah mutlak. Dalam al-Quran surat an-Nisa:146 Allah berfirman “Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan, berpegang teguh pada agama Allah dan tulus ikhlas mengerjakan agama mereka karena Allah, maka mereka itu adalah sama-sama orang yang beriman dan kelak akan memberikan kepada orang-orang beriman, suatu pahala yang besar”.

Walhasil, memang seharusnya puasa mendidik ikhlas dengan mendaulat diri agar tidak terjebak kepada kepemilikian absolut. Lewat puasa, semua ibadah kita selayaknya terfokus pada mendapat ridlo Allah, sebagaimana hakikat ibadah puasa adalah rahasia Allah dan manusia. Ketika kita mampu mengukur rasa kebercukupan, maka ikhlas akan membahana menjadi kesadaarn otentik tentang situasi tanpa pamrih dalam beribadah kepada Allah SWT. Dengan demikian, puasa yang merupakan ibadah yang langsung terhubung dengan Allah, akan melatih keikhlasan diri.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2024)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…