Sepanjang bulan ramadhan, khutbah atau ceramah di mimbar-mimbar masjid kerap kali diwarnai dengan keutamaan bersedekah kepada orang-orang miskin. Secara umum, para muballigh menyampaikan kepada jamaahnya untuk berbuat baik kepada orang lain, terutama orang-orang yang kesusahan dan membutuhkan pertolongan. Namun pertanyaannya, apakah orang lain yang dimaksud ini hanyalah kaum Muslim saja, atau semua orang tanpa melihat latar belakang agama, suku, dan ras?
Sebelumnya perlu diketahui bersama, bahwa Allah SWT menjadikan manusia di muka bumi ini beragam. Jika saja Allah berkehendak untuk menjadikan manusia itu satu, tanpa adanya perbedaan, seperti berbeda-beda suku, agama, dan ras, maka sejatinya Ia mampu melakukannya. Namun, hikmah dari kemajemukan masyarakat ini adalah agar mereka saling mengenal satu sama lain [al-Hujurat (49): 13].
Untuk itu, keberagaman merupakan anugrah Tuhan yang tidak dapat kita nafikan. Melainkan kita jadikan kesempatan untuk saling mengenal. Tidak merasa paling benar dan unggul. Namun menghargai, mengapresiasi, dan menerima perbedaan itu sendiri. Tak ayal, inklusif membuat kita selamat dari konflik antarmanusia.
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan [al-Qashash (28): 77].
Jika kita mengkaji ayat tersebut secara mendalam, kita akan menemukan beberapa nasihat atau pesan yang amat berharga. Pertama, menjalani hidup secara seimbang. Tidak hanya mengutamakan kebahagiaan di akhirat saja. Melainkan juga berusaha meraih kebahagiaan di dunia sesuai dengan ridha Allah, sebagai bekal untuk kehidupan di akhirat kelak.
Sebagaimana perkataan Nabi yang diriwayatkan dari Ibn Umar, bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya. Dan bekerjalan untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok pagi. Hadis ini mengingatkan kita supaya tidak hanya melakukan urusan dunia saja, melainkan melaksanakan kewajiban demi meraih kebahagiaan di akhirat. Begitu pula sebaliknya. Tidak berlebihan dalam melaksanakan salah satunya, sehingga yang lain terabaikan.
Kemudian, ditekankan dalam ayat di atas, bahwa kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada orang lain, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kita. Jangan berbuat keburukan kepada orang lain. Mengasihi dan menolong orang lain, sebagaimana urusan-urusan kita yang telah dilapangkan oleh-Nya.
Sementara itu, orang lain yang dimaksud dalam ayat di atas bukan hanya kaum Muslim saja. Melainkan juga orang-orang beragama, suku, dan ras lain yang berbeda dengan kita. Mereka yang lemah dan tidak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya. Membantu mereka tidak hanya meringankan beban, tetapi juga sebagai wujud syukur terhadap kebaikan dan pemberian Tuhan.
Untuk itu, mulai sekarang julurkan tangan kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan dan lemah. Tanpa melihat latar belakang mereka. Rasulullah SAW sebagai teladan umat, tidak hanya bersedekah kepada orang-orang Muslim saja. Melainkan juga memberikan hartanya kepada umat beragama lain yang kesusahan, seperti seorang pengemis Yahudi yang kerap kali mencacinya.
Bersedekah atau memberikan harta yang kita miliki kepada orang-orang yang membutuhkan hanyalah satu dari sekian banyak kebaikan yang dapat kita upayakan. Masih banyak kebaikan lain yang dapat kita lakukan kepada orang lain. Tak ayal, menolong sesama adalah ajaran Islam yang sangat penting untuk direalisasikan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan demikian, berbuat baik itu kepada semua orang. Tidak membeda-bedakan perlakuan hanya karena perbedaan agama, suku, ras, dan lain sebagainya adalah akhlak seorang Muslim sejati. Karenanya, berbuat baiklah tidak hanya kepada masyarakat Muslim saja. Melainkan kepada umat beragama lain yang membutuhkan pertolongan.[]