Dunia Islam

Ramadhan: Puasa Yes, Rebahan No

3 Mins read

Dalam perjalanan hidup, pada akhirnya hanya ibadah dan amal shaleh yang akan dibawa dalam proses menuju keabadian, yakni kehidupan pasca dunia. Banyak macam ibadah di dunia, khusunya dalam Islam, seperti sholat, shodaqoh, zakat, puasa, dan lain sebaginya. Di bulan ramdhan yang penuh berkah, tentu puasa menjadi ibadah yang menjadi keharusan setiap umat Islam. Namun, terkadang, ibadah puasa Ramadhan selalu diiringi dengan kemalasan. Dan rebahan, menjadi jalan akhir memungkaskan kemalasan, sebab lemas menjalani ibadah puasa.

Rebahan, bagi seseorang yang sedang puasa, memang tidak sepenuhnya salah. Namun, keliru, jika rebahan dijadikan alasan untuk kita kuat menjalani ibadah. Padahal, sejauh saya amati dan rasakan, rebahan bukanlah alasan sebenarnya kita agar kuat menjalani puasa, tetapi lebih kepada malas menjalani aktivitas. Ini, yang menurut saya kita keliru menjalani ibadah puasa. Puasa, baiknya diiringi dengan semangat beraktivitas, berbagi, silaturahmi, dan kebaikan-kebaikan lainnya, bukan malah rebahan.

Dalam menjalani hidup di dunia yang fana dan diisi penuh makhluk dengan berbagai macam karakter ini, kita tidak bisa terus berharap segala sesuatunya akan berjalan sesuai ekspektasi. Terkadang, atau bahkan sering kali, apa yang kemudian terjadi sama sekali jauh dari apa yang kita harapkan dan bayangkan sebelumnya. Hal ini bisa terjadi dengan sendirinya, kadang pula digagalkan oleh sosok yang tidak ingin semua berjalan sesuai rencana kita. Dalam dunia perfilman, sosok tersebut biasa disebut dengan tokoh antagonis.

Memang, agak sulit kiranya kita merepresentasikan ibadah puasa dengan dihiasi kebaikan demikian. Namun, bukan berarti tidak bisa, saya pastikan bisa. Tinggal bagaimana kita melihat ini, dengan mata jernih dan penuh kesemangatan. Meminjam istilah Eric Weiner dalam The Socrates Express (2020), bahwa yang membuat kita sanggup bangun dari rebahan adalah kegiatan, bukan alrm.

Oleh karena itu, penting kiranya kita mencari kesibukan dan kegiatan dalam menghiasi bulan Ramadhan yang berkah ini. Jika masih saja sama, ketahuilah, yang demikian tidak lain daripada hawa nafsu, dan hasutan setan. Puasa di samping harus menahan dahaga haus dan lapar, juga menahan daripada hasutan setan. Rasulullah SAW, Jika seandainya tidak ada setan yang berkeliling di hati manusia, niscaya manusia akan bisa melihat alam malakut, (H.R. Abu Hurairah).

Maka, sudah menjadi kewajiban kita sebagai hamba Allah untuk berperang melawan hawa nafsu tersebut. Cara yang paling ampuh, tentu dengan mencari kegiatan dalam berpuasa. Mengapa demikian? Sebab, cara yang sama yang selalu dilakukan berulang kali oleh setan untuk menggoda manusia, adalah melalui syahwat. Syahwat merupakan sesuatu yang membuat manusia tidak setaat malaikat kepada Tuhan.

Syahwat adalah alasan kenapa manusia masih berbuat maksiat. Dan syahwat akan terus hidup dalam diri manusia, sepanjang ia masih menuruti keingininannya, seperti makan, minum, dan juga rebahan. Dengan menahan diri dari makan dan minum, maka orang tersebut telah mengalahkan syahwatnya. Yang juga berarti telah mempersempit ruang bagi masuknya setan ke dalam dirinya.

Rasulullah SAW bersabda, dengan menahan lapar dan haus. Jadi, bisa dipahami, bahwa di samping bentuk ketaatan kita kepada Yang Mahakuasa, puasa juga bisa menjadi bentuk perlawanan kita terhadap setan, sosok yang selalu menghalangi langkah kita mendekat kepada-Nya. Bulan Ramadhan sebagai momentum kita menabuh genderang perang kepada setan, harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

Saat kita bisa memahami makna puasa sebagai peperangan melawan musuh Allah, maka sudah seharusnya momen ini diisi dengan penuh semangat, dan bukannya malah bermalas-malasan. Banyak dari kita yang bermalas-malasan di saat Bulan Ramadhan, dan bersembunyi di balik perisai hadits, tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, (H.R Ibn Abi Aufa)

Bagi kita kaum rebahan, hadis tersebut bagai oase di tengah kegersangan. Hadis itu seakan menjadi pembenaran bagi mereka untuk bermalas-malasan. Lebih parahnya lagi, banyak orang yang meninggalkan amal-amal baik di Bulan Ramadhan ini, seperti berdzikir, membaca al-Qur’an, mengikuti kajian keislaman, demi mengejar ‘ibadah’ sebagaimana dalam hadis. Hadis di atas sudah terlanjur meluas dan familiar di telinga masyarakat.

Padahal, jika ditelaah lebih dalam, kita bisa temukan masalah di dalamnya. Imam Bukhari mengatakan bahwa hadis ini tergolong hadits matruk alias semi palsu, dikarenakan adanya perawi yang dianggap daif dalam runtutan sanadnya, yakni Sulaiman Ibn Amr al-Nakha’i. Bahkan Imam Ahmad Ibn Hanbal menyebut Sulaiman sebagai pembohong, dan salah satu sosok yang sering memalsukan hadits. Ini tentu menjadi masalah besar bagi orisinalitas sebuah hadits.

Saya jadi teringat penjelasan dalam salah satu syarh Alfiyah Ibn Malik, Hasyiyah Shabban, pada bab tamyiz, karya Muhammad Ibn Ali al-Shabban, yang mengatakan bahwa beberapa tamyiz berasal dari kata yang semula menjadi fa’il, maf’ul bih, atau mubtada’, yang kemudian ditempatkan di akhir kalam. Penempatan tamyiz di akhir kalam itu memiliki satu tujuan penting, yakni justru agar kalimat tersebut lebih misterius dan sulit dipahami. Sehingga ketika kalimat itu berhasil dipahami, pemahaman tersebut akan lebih terpatri dalam pikiran. Beliau mengatakan,“Karena sesuatu yang dihasilkan melalui usaha keras akan jauh lebih bermakna dibanding hal lain yang diraih tanpa usaha.”

Saya yakin setiap orang pasti akan lebih menghargai perjuangan seseorang yang menjalani puasa dengan dibarengi kerja keras dari pagi hingga sore hari, dibanding puasa seseorang yang tidur seharian dan bahkan baru bangun 15 menit sebelum azan maghrib. Memang, tidak ada salahnya tidur di bulan Ramadhan. Apalagi bila itu diniati demi menghindarkan diri dari stalking mantan yang makin hari makin terlihat memesona, maka tidur akan menjadi sangat baik.

Namun sekali lagi, apa itu yang kita sebut perang melawan setan? Apa tidak sayang momen di mana semua amal ibadah akan dilipat gandakan pahalanya lewat begitu saja, sementara kita sibuk mengejar mimpi dalam rebahan? Oleh karena itu, penting kiranya jika kita menyadari dalam menjalankan ibadah di bulan Ramdhan ini, tentang keproduktivitasan hidup. Dalam kata lain, di bulan Ramdhan ini, kita dapat mengatakan: puasa yes, rebahan no!

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…
Dunia IslamKolom

Menanggulangi Krisis Etika dakwah

Di tengah hiruk pikuk ceramah daring, sejumlah dai secara tidak sadar mengabaikan etika dalam berdakwah. Salah satunya terkait masalah perayaan ulang tahun…
Dunia IslamKolom

Kafir adalah Kuasa Kepentingan, Keangkuhan, dan Kepongahan

Tuhan telah memberikan segala kebaikan kepada semua manusia. Baik yang bersifat material maupun immaterial. Wajar dan memang sudah seharusnya kita sebagai manusia…