BeritaKolomNasihat

Menyegarkan Bahasa Dakwah

2 Mins read

Kelompok pemuda yang bersemangat dalam berdakwah memang berkembang pesat dalam beberapa tahun belakangan. Trend ‘Ngustadz’ dari seseorang yang baru mencelupkan ujung kukunya ke dalam samudera Ilmu Islam, merupakan fenomena yang cukup memprihatinkan.

Membesarnya sosok semacam Yahya Waloni dan Ari Untung dalam wacana dakwah Islam di negeri ini, merupakan kerugian besar bagi peradaban Islam Tanah Air. Setiap dai, penceramah, atau aktivis Islam yang dengan sengaja mengutarakan opini liarnya atas nama Islam, telah mencemari integritas dakwah Islam. Hal demikian berdampak langsung pada meningkatnya Muslim yang kurang teredukasi dan rentan terhadap ideologi berbahaya.

Setiap Muslim berhak berdakwah, kita memang dianjurkan untuk menyebarkan kebenaran dan kebaikan ajaran Islam demi mendorong kemajuan peradaban umat manusia. Akan tetapi, hal itu harus didukung oleh kemampuan yang baik dalam menyampaikan pesan-pesan otentik dari Islam sebagai mana para nabi dan rasul. Seorang ulama, dai, atau pendakwah yang berperilaku tidak pantas dan menyimpang dari akhlak Islam, mencerminkan buruknya pengetahuan aktual dan kualitasnya.

Hal itu tidak hanya menjatuhkan status mereka sendiri di mata publik, tetapi lebih dari itu, melunturkan kepercayaan pada dakwah Islam. Ajaran Islam menjadi kehilangan daya tariknya karena dipresentasikan oleh orang-orang yang tidak sah. Maka dari itu, penting sekali untuk menyegarkan eksistensi dakwah Islam kita, dan memandu masyarakat agar tidak mudah tertipu dengan dakwah palsu. Dakwah Islam yang dapat dipercaya publik, idealnya, merupakan ajaran Islam yang kontekstual dan relevan bagi jati diri kita, bukan yang membawa diki kita ke dalam budaya asing.

Salah satu ayat al-Quran yang secara fundamental menegaskan pentingnya dakwah kontekstual sesuai dengan seting budaya kita sendiri ialah Ibrahim ayat 4. Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka (QS. Ibrahim: 4). Perlu dipahami di sini bahwa, ‘bahasa yang dipahami kaumnya’, bukan hanya bermakna berbicara dalam bahasa asli. Seorang pendakwah dapat berbicara dengan bahasa yang sama, namun terlihat tidak dapat menyatu dengan kaumnya karena mengadopsi mode busana asing, pandangan budaya kaum lain, atau atribut yang sebenarnya bukan tuntutan Islam.

‘Bahasa kaumnya’ tidak terbatas pada ucapan. Tetapi Lebih dari itu, yakni kedekatan budaya dan keakraban. Artinya, da’i harus relevan dan berhubungan erat dengan masyarakatnya, sebagaiman dakwah para Nabi dan Rasul. Maka dari itu, Kearifan dalam dakwah di Tanah Air, harus bertolak dari dua hal penting. Yakni, kita adalah orang Indonesia yang beragama Islam, sekaligus orang Islam warganegara Indonesia. Negeri ini adalah rumah kita, sehingga muatan dakwah yang kita butuhkan ialah ajaran Islam yang mampu mengembangkan budaya bangsa kita sendiri.

Setidaknya, kita dapat menyegarkan bahasa dakwah dengan meminimalisir hiasan ‘urf’ atau budaya tidak perlu dari bangsa lain, misalnya Arab. Hal demikian penting agar tidak menciptakan keterasingaan atau sekat di antara masyarakat kita sendiri. Jadi, perlu kita pahami lebih lanjut di sini, keterasingan dan kehilangan budaya sendiri bukanlah hasil dakwah yang ideal, sebab, Islam sifatnya esensi bukan sekadar eksistensi. Ketidaktahuan tentang ‘urf geografis, yang meliputi adat istiadat, norma atau pandangan hidup suatu kaum, semestinya tidak muncul dari dakwah mengaku dibimbing oleh sunnah kenabian.

Tentunya, setiap individu dan situasi itu berbeda-beda. Tetapi ajaran umum dakwah selalu fokus pada adaptasi yang dewasa dan sosiologis dari ‘urf lokal, serta kesadaran tentang akhlak kenabian dalam orientasi dakwah. Jadi, strategi dakwah yang sangat membanggakan dalam peradaban Islam ialah akulturasi bijak dari sistem syariah, yang tidak menyebabkan keterasingan di ‘rumah sendiri’ yang tidak beralasan secara agama. Dengan demikian, kita tidak akan terjebak oleh dakwah serampangan ala Yahya Waloni atau Ari Untung.

Kesimpulannya, kita harus mengingat bahwa ilmu yang diajarkan dan disampaikan oleh para ulama dan dai adalah sakral, agung dan mulia. Mereka harus benar-benar membawa pesan dari al-Quran yang mulia (QS. Al-Waqiah: 77), bukan ideologi transnasional atau budaya manapun. Untuk itu, para pendakwah yang dapat kita percaya ialah ulama dan dai yang mencontohkan keluhuran dan martabat dirinya, dan mampu mengontekstualisasikan ajaran Islam ddengan kita. Pesannya mulia, pembawa pesannya juga harus mulia.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2024)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…