Dunia IslamKolomNasihat

Puasa dan Spirit Toleransi

3 Mins read

Menjelang bulan suci Ramadhan, seringkali teror dan bom bunuh diri terjadi. Terakhir, terjadi bom bunuh diri di Gereja Katedral, Kota Makassar dan Mabes Polri di Jakarta. Pelaku itu beridentitas Muslim dan dengan sengaja mengatasnamakan Islam melalui semangat “syahid”. Hal tersebut adalah upaya memperkeruh hubungan toleransi antar umat beragama.

Toleransi berarti menghargai dan menghormati antarkelompok atau antarindividu dalam masyarakat. Toleransi bukan berarti mengakui kebenaran orang lain. Kebenaran tetap kita Yakini masing-masing, tanpa memaksa, menuntut, apalagi sampai melukai orang yang berbeda. Karena sesungguhnya Allah SWT menghendaki kita berbeda.

Dalam al-Quran ayat tentang kewajiban berpuasa berbunyi, Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Q.S. Al-Baqarah: 183). Umat sebelum risalah Nabi Muhammad SAW yang dimaksud adalah umat semenjak dari zaman Nabi Adam AS, Nabi Nuh AS, Nabi Ibrahim AS, Nabi Musa, hingga Nabi Isa AS. Mereka juga melakukan ibadah puasa.

Dalam banyak riwayat, Nabi Zakaria AS melakukan puasa—tidak hanya menahan makan dan minum—bicara. Bahkan Siti Maryam pasca-melahirkan Nabi Isa AS, ia diam tidak berkata sepatah kata pun keluar dari mulutnya, lantaran sedang puasa bicara, meski dikecam dan ditanya berkali-kali perihal bayi yang ia gendong. Tapi kemudian bayi mungil yang kulitnya masih kemerahan itu menjawab, “Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku (Isa Alaihissalam), pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (Q.S. Maryam: 33).

Jadi, jauh sebelum Islam datang, tradisi berpuasa sudah dilakukan oleh Yahudi, Nasrani, dan agama Hanifiyah (pengikut Nabi Ibrahim). Meski modifikasi waktunya berbeda. Artinya, semua agama mengajarkan puasa yang esensinya adalah menahan dan mengendalikan hawa nafsu. Lalu mengapa kita harus gelisah ketika ada orang yang berbeda? Tidak puasa misalnya. Bukankah kita diuji agar selalu sabar dan menghormati orang lain?

KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah mengatakan yang juga dikutip banyak orang, “Jika kita Muslim terhormat, maka kita berpuasa dengan menghormati orang yang tidak berpuasa.” Kita diajarkan untuk menjadi terhormat dengan memberikan penghormatan kepada orang lain. Orang yang terganggu, marah, dan jengkel karena rumah makan itu buka saat bulan puasa, berarti imannya masih lemah sebab nafsunya masih belum bisa dikendalikan. Ia mudah tergoda dan terganggu berupa adanya beberapa orang makan atau minum yang segar-segar (es teh manis dan es jeruk), di rumah makan tertutup hordeng.

Atau paling tidak, orang yang marah karena warung makan buka di siang hari dan banyak orang makan di situ, tidak lain adalah ia ingin menunjukkan bahwa ia sedang berpuasa dan ia minta dihormati atas perjuangannya. Saya kira menghormati orang yang tidak berpuasa adalah bentuk toleransi. Sebaliknya, minta dihormati karena ia berpuasa adalah bentuk intoleran.

Justru ketika menghormati orang yang berpuasa itu berarti perjuangan puasanya begitu mudah dijalankan, karena mampu mengendalikan hawa nafsunya dengan santai, dan tentu Allah memberi ganjaran pahala yang besar. Apalagi di zaman media sosial, semua tidak dapat dikontrol, semua bisa meng-upload gambar apapun, termasuk gambar es serut campur, sirop, es buah atau cheese keju panggang dengan penuh mayones di atasnya.

Meski sebaiknya, norma etisnya di Indonesia, orang yang tidak berpuasa juga menghormati orang yang berpuasa dengan tidak memperlihatkan aktivitas makan dan minumnya. Norma yang berjalan selama ini juga bentuk toleransi dari orang yang tidak berpuasa kepada orang yang berpuasa. Tapi kemudian orang berpuasa meminta orang untuk menghormatinya, hal itu sudah bukan bentuk toleransi lagi sebagaimana saya telah sebutkan di atas.

Puasa juga menumbuhkan rasa solidaritas sosial yang kuat karena senasib dan sepenanggungan menahan lapar dan dahaga, dari terbit matahari hingga tenggelamnya matahari. Namun, setiap ibadah memiliki makna dan hikmah yang terkandung lebih mendalam. Shalat misalnya, untuk mencegah kemungkaran.

Demikian juga Puasa tidak hanya menahan rasa lapar dan haus, lebih dari itu semua, mulut itu juga mesti menahan bicara yang cenderung menyakiti, mengandung unsur kebencian, dan berkata bohong. Telinga yang nguping hal-hal buruk. Mata yang jelalatan, yang diumbar kanan-kiri atas-bawah. Dan seluruh organ tubuh yang tergerak karena membiarkan hati meniatkan sesuatu yang buruk. Hal tersebut justru dapat membatalkan puasa. Perjuangan tidak ngemil dan menenggak minuman pun jadi sia-sia.

Jika seorang Muslim dapat menata hati, mengendalikan hawa nafsu, dan mulus menjalani puasa dengan menahan hal-hal yang membatalkannya, berarti ia telah berhasil melatih kedisiplinan fisik, moral, dan spiritual yang tentu berefek sosial dalam masyarakat. Berangkat dari itu semua, ia akan menghormati keberadaan orang lain yang berbeda—dalam hal apapun seperti keyakinan, mazhab, dan seterusnya—dengannya.

Makna puasa sesungguhnya bukan hanya menahan lapar dan haus serta hawa nafsu destruktif seperti marah, tetapi lebih dari itu, puasa adalah medium berbuat baik kepada sesama. Puasa dengan kata lain adalah instrumen yang tepat untuk digunakan sebagai ladang berbuat baik (A. Helmy Faishal Zaini 2018: 169). Berbuat baik tanpa memandang keyakinan, paham, dan politik merupakan esensi dari nilai-nilai toleransi.

Seorang Muslim yang sejati adalah yang dapat menyeimbangkan antara ibadah ritual dengan perilaku sosial. Semakin memahami makna dan hikmah dari puasa, maka ia semakin toleran terhadap orang yang tidak berpuasa. Semakin memahami esensi yang terkandung dalam nilai-nilai agama, maka akan semakin toleran terhadap orang-orang yang berbeda. []

Related posts
KolomNasihat

Sunnah Sahur

Sahur merupakan elemen penting dari puasa. Sahur merupakan waktu yang tepat mempersiapkan asupan yang cukup agar dapat berpuasa sepanjang hari. Namun, tidak…
Kolom

Indahnya Puasa Sambil Bertoleransi

Dalam kehidupan, saling menghargai antar sesama manusia sangat diperlukan, apalagi di saat bulan puasa. Bulan Ramadhan menjadi momen yang tepat untuk menebar virus toleransi antar manusia. Karena toleransi atau kerukunan antar umat beragama menjadi salah satu kunci penting dalam keberhasilan membangun perdamaian. Ketika berpuasa, kita diberi ujian untuk selalu bersabar dalam segala hal. Dengan adanya toleransi, kita dapat memperindah ibadah puasa yang akan kita jalani.
Kolom

Asketisme Tangkal Hoax di Bulan Ramadhan

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, hoax merupakan pangkal dari berbagai tindakan anarkis dan tindak pidana. Selain itu, hoax merupakan benih dari berbagai jenis kebencian baik secara individu maupun kelompok, dimana akan berujung pada aksi intoleransi, rasisme, hingga pada puncaknya jatuh pada tindakan terorisme.