Kolom

Nostalgia Puasa Ramadhan di Pesantren

3 Mins read
Ilustrasi: Ngaji Posonan di Pesantren

Membahas puasa Ramadhan, setiap umat Muslim pasti memiliki kenangan, kisah, dan makna tersendiri di dalam hatinya, tak terkecuali bagi saya. Salah satu kenangan dan kisah yang paling berkesan saat puasa Ramadhan adalah ketika saya masih di pesantren. Itu merupakan momen-momen terbaik dalam hidup saya. Bernostalgia atau mengenang mungkin menjadi obat bagi rasa kangen saya terhadap momen-momen yang membahagiakan tersebut.

Sembilan tahun yang lalu, saya masih tercatat sebagai santri di sebuah pondok pesantren yang berada di Mranggen, Demak, tepatnya di Pondok Pesantren Al-Anwar. Sejak 2006 hingga 2012, saya digodok dan digembleng di sini. Bisa dibilang, pesantren merupakan kawah candradimuka bagi seorang santri sebelum ia benar-benar terjun di masyarakat kelak.

Pesantren, bagi saya selalu memberi warna lain dalam setiap jejak langkah yang saya jalani saat ini. Banyak pelajaran yang bermakna, kenangan, dan kisah yang membekas kuat di dalam hati sanubari yang terdalam. Baik kisah sedih, senang, bahagia, bahkan yang memilukan sama sekali. Semua itu masih terekam jelas di ingatan memori saya. Terlebih saat puasa Ramadhan seperti saat ini, adalah masa-masa indah yang sulit untuk dilupakan. Kenapa?

Pertama, ngaji posonan. Mungkin ngaji sudah menjadi rutinitas yang melekat erat di pesantren. Ngaji tidak dapat dipisahkan dari khazanah kepesantrenan. Ngaji dan pesantren adalah satu bagian yang saling melengkapi. Tak mungkin disebut pesantren, jika di dalamnya tak ada ngaji. Sebaliknya, ngaji menjadi keniscayaan yang wajib ada di pesantren.

Namun, ngaji posonan berbeda dengan ngaji seperti biasanya. Jika ngaji umumnya dipesantren dilakukan setiap waktu, tetapi berbeda dengan ngaji posonan yang hanya dilakukan saat bulan puasa Ramadhan dan setiap usai shalat fardu. Inilah momen-momen berbeda di pesantren yang sulit untuk dilupakan. Tidak hanya santri mukim saja yang ikut ngaji posonan, tetapi terkadang santri dari pesantren lain dan santri kalong dari daerah sekitarnya juga turut hadir untuk ngaji posonan.

Ngaji posonan di pesantren saya dulu biasanya mengkaji beberapa kitab tertentu, mulai dari fikih, tafsir, hadis, akhlak, dan lain-lain. Umumnya, ngaji posonan disampaikan oleh kiai dan ustadz dengan metode bandongan, yakni kiai atau ustadz membacakan dan menjelaskan makna suatu kitab, sementara santri mendengarkan dengan saksama sekaligus mencatatnya (Aguk Irawan, 2018: 207). Salah satu kitab yang masih membekas kuat dalam ingat saya adalah kitab Tanqihul Qaul karya Syaikh Imam Nawawi al-Bantani, yang dulu dingajikan oleh Ustadz Mohammad Fateh. Di antara isi kitab ini adalah menjelaskan keutamaan-keutamaan membaca bismillah, shalawat, tahlil, dan lain-lain yang hingga saat ini masih saya amalkan dalam setiap titian hidup saya.

Ngaji posonan adalah cara kita mengisi kegiatan bulan Ramadhan dengan kebaikan. Ngaji posonan juga bisa diartikan sebagai jalan meniti tangga ketakwaan, sebagaimana dimaksudkan al-Quran dalam Surat al-Baqarah ayat 183—la’allakum tattaqun, mudah-mudahan kamu sekalian bertakwa. Dengan ngaji posonan dibarengi dengan ketakwaan, diharapkan hidup santri akan menjadi lebih berkah, yakni bertambahnya kebaikan dalam diri santri. Setidak-tidaknya, itulah yang sama dan kami pernah rasakan di pesantren dulu.

Kedua, kebersamaan saat berbuka dan sahur. Jauh sebelum muncul istilah bukber atau buka bersama, di pesantren dulu sudah pasti setiap hari kita melaksanakan buka bersama. Kebersamaan saat buka bersama inilah yang rasanya ingin membuat kita kembali ke masa itu. Biasanya, usai shalat jamaah Ashar dan ngaji kitab hingga pukul 17.00 WIB, para santri kemudian berbagi tugas untuk menyiapkan hidangan buka. Ada yang pergi mengambil nasi kos, membeli lauk, hingga es batu dan buah di pasar. Setelah semua menu tersedia, kami berkumpul dengan seluruh anggota kamar dan dengan sabar menunggu beduk ditabuh dari masjid. Tidak hanya buka bersama saja, tetapi juga saat sahur, kebersamaan itu terasan makin hangat di tengah dinginnya malam. Inilah momen-momen yang menyenangkan dan membahagiakan bagi saya, dan mungkin juga bagi teman-teman saya di pesantren.

Spirit kebersamaan ini juga yang akhirnya saya ambil sebagai pelajaran untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang kerap saya hadapi. Berbagi peran dan tugas, saling membantu dan tolong menolong adalah wujud dari kebersamaan tersebut. Dan bahwa dengan kebersamaan itu segala problematika dapat dicarikan jalan keluarnya. Dalam bahasa lain, kebersamaan merupakan kunci bagi kita untuk menyelesaikan setiap permasalahan.

Mungkin, itulah sebagian kisah dan kenangan saya saat puasa Ramadhan di pesantren. Puasa Ramadhan di pesantren, bagi saya adalah salah satu episode perjalanan hidup yang sangat berkesan dan tak dapat dilupakan. Ngaji posonan dan kebersamaan saat berbuka dan sahur adalah di antara yang selalu saya tunggu menjelang puasa Ramadhan di pesantren dulu. Semoga puasa Ramadhan tahun ini membawa berkah untuk kita semua.

Related posts
KolomNasihat

Merehabilitasi Sifat Narsis

Media sosial telah menjadi candu bagi masyarakat modern, khususnya anak muda. Banyak peningkatan terjadi setelah munculnya Medsos, salah satunya, meningkatnya narsisme dalam…
Kolom

HTI Bentuk Nyata Negara Teokrasi Yang Gagal

Walaupun Hizbut Tahrir Indonesia HTI) memang secara resmi dibubarkan pemerintah, akan tetapi cita-cita membangun negara berbasis keagamaan masih tetap mengngalir hingga saat ini. Entah simpatisan HTI yang memang cerdik menggunakan kesempatan, atau pemerintah yang terlalu baik sehingga impian HTI tentang negara teokrasi sampai sekarang masih subur.
Dunia IslamKolomNasihat

Ramadhan, Momentum Memperbaiki Diri

Hingga detik ini, masih banyak orang menyia-nyiakan keberkahan bulan suci Ramadhan. Masih banyak orang yang berpuasa hanya menahan lapar dan dahaga. Masih…