Dunia IslamKolomNasihat

Puasa Menumbuhkan Empati

2 Mins read

Betapa luas dimensi yang dimiliki puasa, berbanding lurus dengan hikmah yang dikandungnya. Puasa Ramadhan yang merupakan mandat teologis, adalah juga momen untuk mendidik rasa empati seseorang. Kepekaan sosial, di tengah perguliran beragam bencana banjir, longsor, dan gempa bumi yang menimpa saudara kita baru-baru ini, kian mendesak untuk ditumbuhkan. Apalagi pandemi Covid-19 masih nyata ada. Dalam istilah Jalaluddin Rakhmat, puasa merupakan madrasah rohaniah. Dengan memasuki madrasah ini, berarti kita berlatih untuk menggeser perhatian yang berlebihan pada ego sendiri menuju kepedulian komunal.

Menghadapkan diri dengan rasa haus dan lapar saat berpuasa adalah cara untuk kita merasakan secuil pengalaman orang-orang lemah yang belum tentu bisa menikmati sesuap nasi tiap harinya. Maka benar jika tahap awal empati adalah altruisme, yakni paham yang mengedepankan kepentingan orang lain. Sebelum itu, ungkapan put yourself in their shoes menjadi prinsip penting untuk merefleksi kesadaran kita. Artinya, untuk memahami apa yang orang lain rasakan, kita perlu menempatkan diri di posisi mereka. Dalam hal ini, berpuasa dimaknai sebagai forum untuk melibatkan diri dan memahami kepedihan kaum papa.

Bulan Ramadhan ini memang ceruk karunia Tuhan. Banyak ampunan dan paket pahala yang ditawarkan. Tidak heran jika orang-orang menjadi lebih giat shalat, membaca al-Quran, beri’tikaf di masjid, bahkan mengunjungi rumah Allah dengan berangkat umrah. Supaya puasa kita menjadi persembahan agung bagi Tuhan, sertailah dengan perkhidmatan, yakni pengabdian kepada manusia. Jangan terlalu berlebihan menaruh perhatian pada ibadah-ibadah ritual, hingga lupa untuk melakukan pelayanan kepada manusia di bulan kasih sayang ini.

Peduli pada manusia adalah tugas agama. Rasulullah SAW mengingatkan kita bahwa untuk melayani Allah dan Rasul-Nya harus diungkapkan dengan cara melayani sesama manusia. Hal ini terbaca dari sabda Rasulullah SAW yang menyatakan, Barang siapa menyakiti manusia, dia menyakiti aku. Barang siapa menyakiti aku, ia menyakiti Allah. Terlihat bagaimana Allah menjadikan manusia sebagai lokus keberagamaan. Ramadhan ialah bulan kasih sayang. Cintailah Allah dan Rasul-Nya dengan mencintai sesama manusia secara tulus.

Besarnya dorongan Allah agar manusia berempati kepada sesamanya, terlihat dari dialog antara Nabi Musa dengan Allah. Alkisah, setelah Nabi Musa bermunajat, Allah menanyakan kepadanya mana jatah ibadah untuk-Nya. Nabi Musa terkejut karena menurut ia segala ibadah yang dilakukannya seperti shalat, haji, zikir, dan kurban adalah untuk Tuhan. Kata Tuhan, kesemua ibadah itu akan kembali untuk Musa. Benar saja, saat kita menjalankan ibadah dengan sebaik-baiknya, semua itu memang untuk kita juga. Sebut saja saat seseorang beribadah pada malam Lailatul Qadar sama dengan nilai ibadah seribu bulan. Pahalanya pun untuk kepentingan kita.

Karena bingung, Nabi Musa kemudian bertanya, ibadah apa yang bisa ia persembahkan untuk-Nya. Allah pun menjawab, berkhidmat kepada hamba-hamba-Ku. Allah menyuruh kita untuk peduli dan berempati pada manusia sebagai salah satu jalan untuk beribadah kepada Sang Mahakasih. Dalam suatu hadis qudsi bahkan dikatakan, Semua makhluk adalah keluarga-Ku. Makhluk yang paling Aku cintai adalah yang paling penyayang pada makhluk lain, yang paling bersungguh-sungguh dalam memenuhi keperluannya.

Tidak perlu berkecil hati, apabila saat Ramadhan ada dari kita yang belum berkesempatan melanggengkan tarawih ataupun mendaras al-Quran karena waktunya habis untuk melayani kebutuhan manusia saat bulan Ramadhan. Tersebab sibuk memasak, membungkus, dan menyusuri jalanan untuk membagikan makan sahur dan buka misalnya.

Kesadaran untuk melayani manusia semacam ini justru menjadi hadiah berharga bagi-Nya. Bukankah puasa memang latihan untuk menanggalkan egoisme pribadi? Allah suka pada hamba-Nya yang mencintai fakir miskin. Mengakrabi mereka, tidak sombong, menyamakan dirinya dengan mereka. Orang semacam itu, Allah ampuni dosanya.

Puasa adalah langkah untuk memperbaiki moral spiritual. Penghayatan terhadap puasa akan membuat kita mengidentifikasi diri terhadap keadaan orang lain, hingga terbentuklah empati. Oleh sebab itu, secara lebih luas, ketika sikap penuh empati menjadi jati diri masyarakat luas, perbaikan masalah sosial-kemanusiaan pun menemukan modal dasarnya. Karena perasaan kesepahaman telah terbangun, kerja-kerja peradaban untuk memberangus ketimpangan sosial juga lebih mungkin dilakukan.

Makna puasa untuk mengembangkan empati adalah pesan filosofis dari Allah SWT agar kita senantiasa mengingat, menghargai, dan mencintai sesama. Karena itulah anak tangga untuk meraih ridha-Nya. Mari persembahkan hadiah terbaik untuk Tuhan dengan puasa yang disertai perkhidmatan pada manusia. Selamat berpuasa! Wallahu a’lam.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2024)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…