Aksi bom bunuh diri yang terjadi beberapa waktu lalu di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu (28/03/2025) lalu menandakan paham ekstremisme masih hidup bebas di sekitar kita. Peristiwa kemarin, akan menambah sejarah kelam tragedi mengerikan terorisme di negeri ini. Maka dari itu, untuk mencegah terjadinya kembali peristiwa serupa, kaum milenial harus mengambil peran dalam melakukan hal-hal baik. Karena milenial adalah kekuatan negara yang nantinya memegang teguh tongkat estafet kepemimpinan masa depan bangsa yang akan menuju ke peradaban lebih baik. Untuk itu, kaum milenial harus bersatu padu melawan terorisme agar ideologi tersebut tidak hidup bebas.
Melalui berbagai cara, sebagai warga negara yang setia terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), milenial harus bersatu melawan ideologi dan sikap yang bertentangan dengan Pancasila, seperti sikap intoleransi, radikalisme, terorisme, dan sebagainya. Sebab saat ini generasi milenial paling sering atau rentan terpapar virus ideologi berbahaya.
Menurut survei Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada tahun 2020 saja milenial sejumlah 85 persen rentan terpapar paham radikal. Hasil survei tersebut cukup mengejutkan kita semua. Situasi pandemi Covid-19 yang dipraktikkan dengan aktivitas sekolah yang diliburkan serta perkantoran sebagian diatur jadwalnya yang lebih banyak bekerja dari rumah, membuat masyarakat yang di rumah lebih banyak menggunakan waktu untuk berselancar di dunia maya. Itulah yang menyebabkan seseorang cepat terpapar atau rentan terpapar radikalisme.
Apa lagi sekarang pada 2021, yang kebanyakan generasi milenial memegang alat komunikasi dan pasti lebih banyak menerima informasi yang tidak jelas asal usulnya. Maka dari itu, kita harus bersatu melawan paham-paham yang bertentangan dengan Pancasila.
Selain itu, milenial pula harus melawan hoaks, karena hoaks dapat memengaruhi atau mengubah pikiran seseorang dari yang polos menjadi radikal dengan cepat. Kenapa bisa cepat terpengaruhi? Karena, seseorang menerima berita tanpa menyaringnya terlebih dulu. Hoaks akan menggerogoti pikiran seseorang menjadi cepat marah dan sejenisnya, sehingga nantinya menimbulkan kejadian yang tidak diinginkan. Melalui hoaks, milenial akan menjadi lebih radikal.
Dilansir Kompas.com, Direktur Informasi dan Komunikasi Badan Intelijen Negara Wawan Purwanto menyebut, bahwa generasi milenial paling rentan dipengaruhi konten hoaks. Hal tersebut diungkapkan dalam diskusi di Jakarta (14/03/2025). Sebab, generasi milenial terbilang paling banyak mengonsumsi informasi di media sosial melalui alat komunikasinya. Di sini, pengguna internet yang tidak waspada dengan hoaks, maka akan mudah terpapar hoaks dan akan menyebarkannya kembali. Maka itu, kita harus pintar dalam memilih dan menyaring informasi yang belum terbukti kebenarannya.
Sementara itu, generasi milenial harus menjadi agent of change, untuk menjadi pionir melawan radikalisme. Milenial harus aktif dalam kegiatan positif, aktif di organisasi kampus, bidang olahraga dan lainnya, agar menjadi pribadi-pribadi yang berprestasi, sehingga dapat mengantisipasi dan mencegah masuknya paham radikalisme.
Selain itu, pemerintah pula harus menyediakan fasilitas atau kegiatan-kegiatan positif untuk generasi milenial, seperti sosialisasi kebangsaan, seminar kebangsaan, dan kegiatan positif lainnya. Kemudian, demi menjadi individu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, milenial harus mencari guru yang benar. Kenapa? Karena selain media sosial, generasi milenial juga banyak terpapar radikalisme, lantaran belajar dengan guru yang salah. Kaum milenial diharuskan mencari guru yang tepat untuk memperkuat pemahaman keagamaan yang moderat. Dengan demikian, dalam bersatu melawan terorisme, salah satunya milenial harus menggunakan media sosial dengan baik.