Budaya patriarki masih kuat mengalir dalam darah dan keseharian sebagian masyarakat Tanah Air. Bagaimana tidak? Pernyataan Atta Halilintar, seorang youtuber kondang, cukup membuktikan bahwa patriarki masih membudaya. Dari perkataannya, “suara suami dari Tuhan” menjelaskan, suara istri tidak dihargai dan nasibnya bergantung kepada suami. Perintah dan larangannya tidak bisa dibantah atau ditolak. Pertanyaannya, benarkah istri wajib mensakralkan segala perkataan suami? Benarkah suami itu juru bicara Tuhan?
Pemahaman suara suami dari Tuhan, di mana segala perkataannya wajib dituruti dan dilayani bisa jadi tidak hanya berasal dari youtuber kondang itu saja. Melainkan diamini pula oleh beberapa Muslim relijius Tanah Air. Menariknya, agama disebut-sebut sebagai sumber munculnya pemahaman ini. Padahal sejatinya, sebagaimana perkataan sayyidina Ali ibn Abi Thalib, “teks agama (al-Quran) itu tidak dapat berbicara, karena yang berbicara (menjadikannya bisa dipahami) adalah orang-orang (yang membacanya).”
Oleh karena itu, pemahaman suara suami dari Tuhan, bukan berasal dari al-Quran atau nash agama lainnya. Melainkan lahir dari si pembaca teks tersebut. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, jika seorang laki-laki memanggil istrinya untuk kumpul (jima’), lalu si istri menolak dan hati suami dongkol, maka laknat malaikat menimpa sang istri sampai waktu shubuh tiba [HR Bukhari].
Laknat yang dimaksud akan tertuju kepada istrinya apabila sang istri menolak tanpa sebab atau udzur yang jelas. Ibn Hajar dalam kitab Fathu al-Bari mengaitkan laknat dalam hadis di atas dengan hadis lain riwayat Hakim, bahwa terdapat dua hal yang mengundang marah Allah. Salah satunya istri yang bermaksiat kepada suaminya hingga ia kembali taat.
Sedangkan pemahaman yang menempatkan suara suami itu dari Tuhan, bisa jadi berasal dari orang yang membaca teks hadis di atas secara parsial. Padahal, laknat tersebut hanya ada jika istri tidak memiliki sebab penolakan. Adapun jika istri tengah sakit, kelelahan, mengurus anak, atau memiliki pekerjaan yang harus dilakukan, maka laknat itu tidak berlaku.
Hadis tentang laknat Malaikat terhadap seorang istri yang menolak ajakan suami tanpa sebab tidak hanya terdapat dalam Shahih Bukhari. Melainkan juga dalam kitab Shahih Muslim dan Sunan al-Tirmidzi. Menariknya, Imam al-Tirmidzi menuliskan hadis agar memperlakukan istri dengan baik, setelah hadis tentang laknat Malaikat tersebut.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah SAW bersabda, mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baiknya kalian adalah yang paling baik kepada perempuannya [HR Tirmidzi].
Hadis ini cukup menjelaskan, bahwa seorang suami tidak dapat serta merta berlaku otoriter terhadap istrinya hanya karena pemahaman parsialnya terhadap hadis laknat Malaikat. Atau bahkan, menuntut istrinya untuk melakukan segala sesuatu yang diinginkannya. Menganggapnya sebagai pelayan dan budak. Sementara, hadis Nabi SAW sangat menekankan etika dan akhlak yang baik terhadap seorang istri.
Prinsip berlaku baik terhadap istri ini sejalan dengan ayat al-Quran, dan bergaullah kalian dengan mereka (para istri) secara ma’ruf [al-Nisa (4): 19]. Prinsip mu’asyarah bi al-ma’ruf diartikan tidak menyakiti istri baik dalam perkataan, maupun perbuatan. Tidak memaksa mereka untuk melakukan sesuatu di luar kemampuan mereka.
Pemahaman yang bersumber dari teks agam tersebut tidak hanya populer di kalangan sebagian masyarakat. Melainkan juga diajarkan dari generasi ke generasi dalam kehidupan sosial masyarakat Tanah Air. Padahal, bersikap otoriter terhadap perempuan dengan mengatakan suara suami dari Tuhan itu berbenturan dengan prinsip dasar keadilan, kemanusiaan, dan lain sebagainya.
Dengan demikian, muasyarah bi al-ma’ruf adalah pondasi utama dalam membangun rumah tangga yang baik. Rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Tidak hanya cukup dilantunkan dalam doa dan ucapan saja. Melainkan juga dipraktikkan dalam kehidupan rumah tangga. Suami itu manusia sebagaimana halnya istri. Suara suami bukan dari Tuhan. Ia bukan jubir Tuhan. Sebab kebenaran milik Tuhan. Sedangkan manusia tidak selalu dan selamanya benar.[]