KolomNasihat

Lindungi Kaum Muda dari Anarkisme dan Terorisme

4 Mins read
Sumber Gambar: http://porosjakarta.com/mobile/11993/pengamat-modal-besar-tangkal-radikalisme-dan-terorisme

Pada bulan lalu, pada hari Minggu pagi 28 Maret 2021, terjadi bom bunuh diri di pintu gerbang Gereja Katedral, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Peristiwa itu dilakukan kaum muda. Konon katanya sepasang suami istri yang baru saja menikah. Empat hari kemudian, seorang wanita yang juga masih relatif muda berinisial ZA (25), menyerang Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia (Mabes Polri), di Jakarta, pada Rabu (31/3/21).

Ironisnya, para pelaku kekerasan itu mengatasnamakan agama Islam dengan dalih menegakkan kalimat Allah, seolah-olah Allah SWT menyetujui tindakannya yang keji dan tidak berperikemanusiaan itu. Lagi-lagi, pelakunya juga masih tergolong usia muda. Kaum muda dengan semangat beragama yang sedang menyala-nyala. Usia yang seharusnya melakukan jihad literasi, jihad mencari ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya, dan jihad dalam idealisme murni kebenaran asali (qurani).

Habib Ali al-Jufri menulis dalam bukunya, Keislaman Sebelum Keberagamaan (2019), Bahwa para malaikat menurunkan sayapnya untuk orang-orang yang menuntut ilmu sebagai tanda ridha pada mereka; makhluk-makhluk di langit dan di bumi mendoakan siapapun yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain, dan mereka semua memintakan ampunan dari Allah bagi para penuntut ilmu, bahkan para ikan di lautan dan burung-burung di langit. Namun, banyak yang memanfaatkan spirit kaum muda kita demi hasrat pribadi dan kepentingan-kepentingan sementara.

Misalnya, banyak beredar video ceramah pentolan Front Pembela Islam (FPI)—ormas yang belum lama ini dibubarkan pemerintah karena terindikasi paham yang bertentangan dengan ideologi negara—Muhammad Rizieq Shihab, yang meminta ibu-ibu jangan halangi anak-anaknya membela dirinya, agar mati syahid.

Kita tentu sudah memahami bagaimana sepak terjang FPI dalam dakwahnya. Dakwah dengan dalih amar makruf nahi mungkar, lebih condong pada aksi-aksi intoleran seperti menolak pembangunan rumah ibadah agama lain, berbagai aksi sweeping, dan cenderung radikal dalam menanggapi berbagai isu yang dianggap menyimpang. Mereka—kaum muda—yang aktif sebagai Laskar FPI, kebanyakan masih usia muda yang semestinya diarahkan pada hal-hal positif.

Mereka yang dalam dakwah selalu menyerang pihak lain, sama sekali tidak mencerminkan akhlak yang menjadi misi utama Nabi Muhammad SAW. diutus oleh Allah SWT. Biasanya, mereka yang tergabung dalam ormas radikal dan intoleran, cenderung mengarah pada politik. Agama hanya sebagai alat yang kuat untuk mencapai tujuan-tujuan yang bersifat duniawi.

Dalam politik, biasanya mereka akan menyerang pihak lain yang berlawanan dalam kontestasi kursi. Bahkan tidak segan-segan dalam forum-forum pengajian, majelis taklim, dan mimbar dakwah mencaci-maki, menghina, mengancam, dan berteriak-teriak emosional. Hal itu dilakukan dengan alasan kebebasan berpendapat. Sementara pihak lain yang menyerang mereka, dituduh anti Islam, golongan kafirun, anti Tauhid, dan seterusnya.

Banyak tokoh agama kita yang mengklaim dirinya sebagai penyeru menuju jalan kebenaran, menuju jalan yang diridhoi oleh Allah. Akan tetapi sesungguhnya mereka tidak sedang benar-benar mengajak umat ke jalan Allah. Bahkan tidak sedikit kaum milenial semakin meragukan Islam sebagai agama yang benar-benar menyelamatkan.

Hal ini terjadi karena sebagian para pemuka kita memperlihatkan Islam yang ternoda dengan cara-cara kekerasan, anarkisme, diselimuti hawa nafsu angkara murka, dan pemahaman yang picik. Selain tidak bijak, para tokoh agama radikal ini juga kerap melontarkan kata-kata menyakitkan, bernada mengancam, dan nyinyir. Jauh dari tindak-tanduk sunah Nabi Muhammad SAW.

Mereka—para tokoh agama radikal—mengira imannya telah kuat, sehingga dapat sesuka hatinya menghardik pihak yang bertentangan dengan dirinya. Seolah-olah mereka adalah juru bicara Tuhan. Mereka mampu mendorong kaum muda ke dalam jurang anarkisme dan terorisme mengatasnamakan agama para pemuda-pemudi kita yang tengah menggebu-gebu dalam pencarian spiritual yang lurus.

Berhentilah memaki, mengumpat, menyerang, dan mengancam yang sama sekali jauh dari kata manfaat. Semestinya para tokoh agama yang radikal itu memiliki jiwa tanggung jawab, mengakui kesalahan, dan berusaha keras sekuat tenaga menawarkan solusi-solusi konkret terkait masalah-masalah yang dialami kaum muda kita. Tidak sekadar memanfaatkan semangat keberagamaan mereka yang sedang berkobar.

Karena itulah, mari kita lindungi kaum muda kita dari pengaruh-pengaruh ustadz yang kaku dan literlek, ulama intoleran, da’i yang menyalah-nyalahkan, dan mubaligh yang berteriak-teriak emosional. Pemuka agama dengan dakwah toleran, moderat, dan santun lebih kita butuhkan untuk mengisi pos-pos strategis dalam pendidikan kaum muda. Ulama moderat, dapat membebaskan kaum muda dari jerat hawa nafsu kebencian yang mengacaukan.

Ulama moderat yang santun tidak hanya menggairahkan spiritualitas keimanan, tapi juga dapat menyampaikan pesan-pesan etis untuk menghormati orang lain, melindungi nyawa manusia, dan menjaga keseimbangan alam. Kita harus melawan mereka yang ekstrem dengan banyak memberi para ulama, da’i, ustadz, dan mubaligh yang otoritatif menuju akses ke publik. Ruang maya, harus diisi konten-konten positif yang menggairahkan rasa perdamaian dan persaudaraan sesama umat manusia (hablumminannas).

Ini hanya bisa berjalan apabila para juru dakwah mampu berpikir rasional atau masyarakatnya dipimpin oleh orang yang sanggup berpikir logis—sanggup memahami dan menghayati jiwa serta kepribadian ajaran al-Quran—sehingga mampu membedakan hal-hal yang islami dan non-islami (Dr. Simuh, Sufisme Jawa, Transformatif Tasawuf Islam ke Mistik Jawa, 2019: 7). Hal ini bisa dilakukan apabila seluruh lapisan masyarakat bisa bekerjasama, baik para ulama, kiai, da’i, dan seterusnya, sampai orang-orang terpelajar yang memegang kendali dakwah untuk kaum muda.

Anarkisme dan terorisme yang dilakukan kaum muda, tidak sepenuhnya merekalah yang bersalah. Sebagian akibat kurangnya pemahaman keagamaan yang ditanamkan, ujaran kebencian dari pemuka agama kita, dan terutama sekali faktor keluarga yang menentukan arah anak-anak mudanya. Jika orang tuanya memiliki pemahaman sempit, kaku, dan keras, maka bukan tidak mungkin, anak-anaknya juga akan masuk dalam wadah ormas-ormas radikal ekstrem. Bahkan terlibat jaringan terorisme yang menghalalkan penumpahan darah siapapun. Mengerikan!

Sebagai ujung tombak dan pintu utama, perlindungan keluarga paling memungkinkan untuk menjauhkan kaum muda kita agar tidak tercebur ke dalam lumpur kekerasan atas nama agama. Keluarga juga sebagai cerminan baik-tidaknya perilaku akhlak dan moralitas. Amaliah Islam keluarga juga sangat menentukan, seperti ibadah yang terimplementasi ke dalam sosial kemasyarakatan; menyantuni janda dan yatim, berbuat adil, dan berhubungan baik dengan saudara maupun tetangga, dan toleran terhadap orang-orang yang berbeda keyakinan atau pun mazhab lain dalam Islam.

Mari kita mulai hal-hal positif untuk saling menghormati, menghargai, dan saling menjaga martabat kemanusiaan sebagai upaya serius melindungi dan menyelamatkan kaum muda kita, agar tidak terjerumus ke dalam lubang keji anarkisme dan terorisme yang menghancurkan perdamaian, dan kemanusiaan. []

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2024)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…