Kolom

Kerukunan Beragama Ikon Indonesia

2 Mins read

Kedatangan Ketua Umum Pengursu Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj ke Gereja Katedral Makassar, Minggu (11/04/2024) di tengah ketegangan pasca bom bunuh diri dapat membawa sinyal positif, jika Islam dan Kristen adalah sodara. Hadirnya PBNU, di samping dalam misi memberikan semangat moral, tentu juga sebagai penegasan, jika Islam bukan teroris dan terorisme bukan Islam. Sebab, Islam mengajarkan umatnya untuk dapat menjaga ukhuwwah insaniyyah. Apalagi, dalam konteks Indonesia, yang secara jelas menjunjung tinggi perbedaan.

Kerukunan antarumat beragama harus senantiasa dijaga demi mempertahankan keutuhan bangsa. Rasa persaudaraan bisa direkatkan dengan menguatkan empati terhadap sesama. Hal tersebut, dapat kita yakini mampu melahirkan suasana kehidupan yang harmonis dan penuh perdamaian di tengah berbagai keberagaman yang ada. Idnonesia ada karena keberagamannya dan bukan Indonesia jika tidak beragama. Karena itu, Bhinneka Tunggal Ika menjadi simbol kebangsaan ika. Kerukunan beragam adalah ikon Indonesia.

Kerukunan hidup beragama adalah kondisi, di mana semua golongan agama bisa hidup bersama dengan damai. Tanpa harus mereka mengurangi hak dan kebebasan masing-masing untuk menganut dan melaksanakan kewajiban agamanya. Kerukunan yang dimaksud bukan berarti penganut agama yang satu tidak merasa perlu atau menahan diri, untuk melibatkan persoalan keberagamaan dengan pihak lain. Kerukunan di sini, melainkan kebersamaan menghendaki tenggang rasa, yang benar-benar dimungkinkan jika saling memahami.

Kerukunan akan dapat dicapai apabila setiap golongan agama memiliki prinsip setuju dalam perbedaan. Setuju dalam perbedaan berarti orang mau menerima dan menghormati orang lain dengan seluruh aspirasi, keyakinan, kebiasaan dan pola hidupnya, menerima dan menghormati orang lain dengan kebebasan untuk menganut keyakinan agamanya sendiri. Memelihara kerukunan hidup umat beragama tidaklah berarti mempertahankan status quo, sehingga menghambat kemajuan masing-masing agama. Kerukunan itu harus dilihat dalam konteks perkembangan masyarakat yang dinamis, yang menghadapi beraneka tantangan dan persoalan.

Indonesia dari dulu, sekarang, hingga nanti harus menjadi bingkai kerukunan umat beragama. Bukan Indonesia, jika terpecah belah, menjunjungung tinggi intoleransi, diskriminasi, dan bertikai satu sama lain. Adanya aksi bom bunuh diri yang terjadi Gereja Katedral Makassar menandakan, jika ia tidak mengamini terhadap perbedaan. Diakui atau tidak, aksi bom bunuh diri di Gerja merupakan tindakan yang dilatar belakangi atas kebencian terhadap golongan di luar golongannya. Dan aksi semacam ini, jelas tidak saja melabrak nilai-nilai dan norma agama, tetapi juga bangsa.

Memang, ada banyaknya agama, etnis, ras, di Indonesia menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Sebab, keberagaman menjadi noktah terjadinya perpecahan. Setiap agama memandang dirinya unik dan sekaligus universal. Ada pula, yang menklaim sebagai agama yang benar, dan menolak kebenaran lain dari apa yang dimiliki agamaselainnya. Selain itu, kebanyakan agama terdapat misi untuk menarik orang lain menjadi pengikutnya, jika tidak maka perang dan pertumpahan darah menjadi salah satu alternatifnya. Sejarah telah mencatat, jika perjumpaan agama-agama melahirkan perang antar agama. dan tentu, hal semacam ini tidak dapat dibenarkan.

Dalam konteks Indonesia, perbedaan merupakan rahmat dan kerukunan adalah kewajiban. Kewajiban bagi seluruh masyarakat untuk dapat merajut perdamaian. Bung Karno dalam Bung Karno dan Revolusi Mental (2017) karya Sigit Aris Prasetyo mengatakan, Bhinneka Tunggal Ika sudah jelas mengatur hidup sosial toleransi beragama. Walau, kita berbeda agama, suku, dan warna kulit, tetapi kita tetap satu: Indonesia.

Dewasa ini, globalisasi membuat dunia kehilangan batas-batas budaya, rasial, bahasa dan geografis. Dengan cepat sebuah komunitas tidak lagi dapat menutupi diri. Dunia menjadi semakin kosmopolitan, dan setiap orang menjadi tetangga dekat dari penganut agama yang lain. Masalah yang timbul dari kemajemukan agamapun pun seringkali tumpang tindih dengan keanekaragaman bentuk dan faktor primordial lain yang dipengaruhi oleh berbagai kepentingan, salah satunya lahirnya terorisme.

Oleh karena itu, keberagaman agama janganlah menjadi penghalang bagi umat manusia untuk hidup harmonis. Kita hendaknya memandang setiap orang sebagai saudara kita satu sama lainnya, tanpa memandang latar belakang suku, ras, bangsa dan agama. Sebab, kerukunan agama merupakan ikon Indonesia.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2024)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…