Surga adalah gambaran kebahagiaan dan kenikmatan ukhrawi yang diidamkan banyak manusia. Sebagai balasan dari Tuhan kepada hamba-Nya yang telah lolos pemindaian amal ibadah selama berkiprah di dunia. Hembusan wangi surga dan janji penganugerahan 72 bidadari selalu dijadikan iming-iming para kelompok teroris dalam membujuk orang untuk bersedia meledakkan bom bunuh diri. Alih-alih meraih surga, membunuh diri dan orang lain dengan seenaknya adalah tindakan bodoh yang justru mengundang murka Allah. Rasulullah SAW menyebut, bahwa peta jalan surga dapat ditapaki dengan cara belajar, bukan lewat ilusi syahid dalam praktik bom bunuh diri.
Belajar sebagai jembatan menuju surga telah ditegaskan dalam sabda Nabi Muhammad SAW yang menyatakan, Barangsiapa meniti jalan untuk mencari ilmu, sesungguhnya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga (HR. Abu Daud dan Tirmidzi). Seorang pembelajar akan memiliki pegangan untuk beribadah sesuai tuntunan, serta akan berhati-hati agar tidak melakukan pelanggaran dan bertindak destruktif. Itulah mengapa belajar adalah proses istimewa yang bisa memudahkan perjalanan seseorang ke surga. Sedangkan bom bunuh diri, ialah sebentuk cerminan dari orang yang merasa paling tahu dan tak menghayati proses belajar. Pelakunya tak akan sampai pada perkenan Tuhan.
Dalam surat at-Taubah [9] ayat 122 memerlihatkan bagaimana belajar menempati skala prioritas yang tinggi. Bunyi firman tersebut ialah, Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari tiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.
Menuntut ilmu pengetahuan disandingkan dengan tugas perang, karena konteks ayat tersebut memang sedang menceritakan situasi perang. Dengan kata lain, belajar ialah juga jihad untuk mengawal kemampuan berpikir umat Islam dan menghasilkan kemampuan untuk menjaga diri. Jika tugas belajar saja tetap Allah tekankan saat kondisi perang, apalagi sekarang, di mana kita hidup dalam keadaan damai dan tenang. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam bahkan menuturkan, bahwa mencari ilmu merupakan jalan paling ringkas menuju surga. Ilmu adalah obor yang menghasilkan berkas cahaya petunjuk.
Pola pikir kelompok teror atas konsep surga, nampak begitu dangkal dan gegabah. Mereka amat bernafsu akan janji-janji surgawi hingga mengambil jalan pintas untuk mati, tak peduli lagi akan vonis salah atas kerusakan dan tindakan teror yang mereka lakukan. Perbuatan membunuh diri sendiri adalah bahasa desakan kepada Tuhan untuk segera memasukkan para teroris ini dalam daftar penghuni surga.
Kalau diurai, konsep surga begitu erat kaitannya dengan ideal moral dan amal saleh. Bukankah dalam teks keagamaan, surga dan segala kenikmatannya selalu diposisikan sebagai imbalan dari perilaku baik manusia? Dengan demikian, prasyarat ketercapaian surga adalah sikap saleh, selain mengesakan Tuhan. Diciptakannya konsep surga tak lain adalah untuk memotivasi manusia agar memproduksi kebaikan dalam kehidupan. Fazlur Rahman sampai-sampai menyebut, bahwa karena amal salehlah sehingga surga dan neraka diciptakan.
Surga itu bukan reward cuma-cuma. Perlu proses menyejarah di ladang perjuangan dunia dengan berupaya melakukan kebaikan sepanjang hayat sembari menghindari tingkah laku maksiat dan merusak. Berbuat baik berarti tidak meyakiti, tidak menyusahkan, dan tidak pula menimbulkan kerugian bagi pihak lain. Dan terorisme jelas lawan dari semua definisi kebaikan. Surga dihadirkan untuk orang-orang yang tak malas, untuk manusia yang memandang dunia penuh optimisme sebagai batu pijakan meraih bekal akhirat. Kelompok teror adalah orang-orang yang patah arang dengan mental hidup lemah dan menyia-nyiakan kesempatan beramal yang Allah karuniakan.
Dalam suatu hadis diceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa berjumpa Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, maka dia akan masuk surga. Muadz bertanya: Bolehkah jika itu aku sampaikan kepada orang-orang? Beliau menjawab: Jangan, karena aku khawatir mereka akan lengah sehingga terlalu mengharap keluasan rahmat Allah, lalu menjadi malas (untuk beramal) (HR. Bukhari).
Konsep surga yang kita tahu selama ini hanyalah sekadar gambaran untuk membumikan idealita karunia Tuhan bagi hamba-Nya yang beramal saleh. Di mana sejatinya tak ada manusia yang mampu mencandra bagaimana kebahagiaan dan kenikmatan hakiki yang Allah janjikan itu. Surga didefinisikan sebagai kenikmatan yang mata tak mampu melihat, telinga tak bisa mendengar, dan tak pernah terbesit dalam benak manusia. Hal ini sejalan dengan makna linguistiknya, di mana kata surga berasal dari huruf jim dan nun yang berarti tertutup, tak terjangkau oleh panca indera manusia.
Apa yang diungkapkan al-Quran ataupun hadis secara kebahasaan mengenai surga adalah hasil dari pengaitan dengan realitas kultural. Surga yang di dalamnya mengalir sungai, rimbun dengan pepohonan dan aneka buah adalah gambaran untuk memberikan efek psikologis masyarakat Arab saat al-Quran diturunkan. Unsur-unsur tadi adalah simbol kehidupan ideal bagi masyarakat Arab yang hidup di padang pasir kering dan tandus.
Adapun konsep bidadari yang Allah hadirkan, juga tak lepas dari konteks psikologis-historis bangsa Arab pra-Islam yang hidup di tengah dua imperium besar, yakni Romawi dan Persia. Tak sedikit dari mereka berkiprah menjadi prajurit kedua imperium tersebut. Kultur kerajaan, kemewahan, dan kehadiran istri beserta selir-selir bagi raja telah membentuk konsep hidup bahagia dalam benak mereka. Selir dan istri raja, itulah bidadari yang kemudian digambarkan oleh teks agama Islam.
Itu semua adalah simbol akan kenikmatan yang Allah sesuaikan dengan kemampuan akal manusia. Tugas makhluk Tuhan di dunia hanyalah untuk fokus beramal ibadah (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56). Sebagai hamba Tuhan, tidak layak rasanya jika kita terlalu matematis dalam membaca konsep surga-neraka dan pahala-dosa. Para pesuluk dan kekasih Tuhan jamak mengabarkan, bahwa kebahagiaan tertinggi seorang hamba bukanlah surga, melainkan ridha Tuhan dan rasa cinta kepada-Nya yang membuncah.
Oleh karena itu, dengan selalu belajar dan berfokus pada upaya personal untuk beramal saleh, dapat menjadi langkah preventif agar tak mudah terbujuk rayu doktrin dangkal kelompok teroris tentang surga. Karena dengan keluasan ilmu, cara pandang kita akan surga akan tercerahkan dan kita bisa menjadi hamba yang lebih berkelas di mata Tuhan sebagaimana kedudukan para kekasih Allah yang menyembah-Nya bukan lagi karena pamrih surga.
Pengalaman sufistik Rabi’ah al-Adawiyah amat layak untuk kita hayati. Besarnya cinta kepada Allah dan harapan akan perkenan-Nya tak lagi membuat ia gentar dengan api neraka. Dalam penggalan ungkapan mahabbahnya ia mengatakan, “Wahai Tuhanku, jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan masuk surga-Mu, maka haramkanlah surga itu dariku. Namun, jika aku menyembah-Mu karena cinta kepada-Mu, maka berikanlah balasan-Mu yang besar itu padaku. Izinkan aku menyaksikan wajah-Mu Yang Agung dan Mulia.”
Surga dan bidadarinya adalah doktrin pamungkas jaringan teroris yang berbahaya dan benar-benar harus diantisipasi. Dengan terus belajar, bukan hanya kemudahan menuju surga yang bisa dicapai, tetapi kita bisa menemukan dimensi yang lebih luas akan konsep surga. Kita bisa memahami bahwa mencintai Tuhan dan mendapat ridha-Nya adalah level lebih tinggi dari pengharapan atas surga. Mental semacam ini dapat mencegah kita dari perasaan mudah terpukau atas dimensi eskatologis semacam surga yang didoktrinkan jaringan teroris.
Janji-janji surgawi semestinya membuat kita lebih giat beramal saleh. Jangan bernafsu menggapai surga dengan cara-cara instan yang merusak seperti bom bunuh diri, dan di saat yang sama meninggalkan neraka dunia bagi yang masih hidup. Mari meniti jalan menuju surga lewat cara autentik yang diajarkan Nabi kita. Jalan para pencari ilmu dan pecinta. Wallahu a’lam. []