Kolom

Bung Karno Menolak Khilafah

4 Mins read

Bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar dan teror di Mako Brimob Jakarta masih membekas dalam ingatan. Pasalnya, kejadian serupa tidak hanya sekali terjadi di Indonesia, tetapi beberapa kali. Dan motifnya beragam, dari mulai menganggap pemerintahan sekarang kufur dan mengklaim demokrasi serta Pancasila toghut. Lucunya, dari sekian motof itu, hanya satu solusinya, yakni khilafah. Khilafah menjadi senjata dan alat utama yang menjadi rujukan mereka serta kalangan Muslim yang konservatif. Bagi mereka, di era sekarang, apapun persoalannya, baik itu ekonomi, pendidikan, sosial, dan kenegaraan, hanya dapat diselesaikan dengan satu jalan keluar, yakni khilafah.

Pemikiran-pemikiran semacan ini, yang menurut saya tidak saja keliru, tetapi juga lucu. Bagaimana tidak lucu? Lah, dengan mereka berlaku seperti itu, berarti mereka sudah melabrak fitrah kita sebagai manusia. Bukankah yang menjadikan manusia lebih utama dari makhluk Tuhan lainnya adalah akal? Dan sebaik-baiknya akal adalah tatkala dapat kita gunakan dengan semestinya untuk kepentingan diri sendiri dan orang lain. Pemahaman tentang bom bunuh diri adalah jihad fii sabilillah dan mengembalikan sistem negara ke khilafah Islamiyyah merupakan cara berpikir, yang menurut saya tidak menggunakan akal dengan semestinya.

Akal seharusnya dapat digunakan dengan semestinya, dan dapat menjadi jalan keluar terhadap persoalan-persoalan yang kian hari-kian kompleks. Dan tentunya, akal harus dapat melahirkan jawaban-jawaban yang kontekstual serta dinamis, bukan malah kembali pada utopis belaka. Jika saja Bung Karno masih hidup, dapat saya pastikan, ia akan menjadi orang pertama yang menolak sistem khilafah. Hal ini dapat kita lihat dari beberapa khazanah tulisan-tulisan serta pidatonya mengenai konsep Islamisme.

Pernyataan Bung Karno yang tegas menolak khilafah jelas terekam dalam tulisannya yang terbit sekitar tahun 1930-an, di masa ketika kekhilafahan Turki Usmani tumbang. Dalam tulisannya berjudul Islam Sontoloyo di buku Di Bawah Bendera Revolusi (1946) ia mengatakan, “islam harus berani mengejar jaman, bukan seratus tahun, tetapi seribu tahun. Islam ketinggalan jaman. Kalau Islam tidak cukup kemampuan buat mengejar seribu tahun itu, niscaya ia akan tetap hina dan mesum. Bukan kembali pada Islam glory yang dulu, bukan kembali pada jaman khilafah, tetapi lari ke muka, lari mengejar jaman.”

Dari pernyataannya demikian, dapat dilihat bahwa alasan Bung Karno menolak khilafah adalah karena sebagai Muslim, ia tak mau umat Islam menjadi mundur dan terbelakang. Baginya, khilafah sebagai lembaga politik sudah tidak rlagi elevan diterapkan di jaman modern. Bukan berarti pula dalam hal ini, Bung Karno antipati terhadap Islam dan menjunjung tinggi Barat dengan demokrasi serta nasionalismenya, tidak!

Bung Karno mengkritik pendukung khilafah yang justru tenggelam di masa silam yang mereka anggap sebagai masa kebesaran, padahal hakikatnya terperosok dalam ketertinggalan. Dan itu bertentangan dengan spirit Islam yang diyakini Bung Karno sebagai spirit kemajuan. Bung Karno menegaskan, “api Islam bukanlah Islam yang kuno. Api Islam bukanlah Islam yang ngotot kembali ke jaman Khalifah. Namun, api Islam dalam tafsirnya adalah kemajuan (Islam is progress). Bagi Bung Karno, watak progresif Islam mesti ditampilkan dengan menolak sikap taklid yang mengagungkan masa lalu dan mengidolakan kembalinya khilafah Islamiyyah.

Di mata Bung Karno, institusi politik apapun termasuk khilafah adalah produk peradaban manusia, ranah kreativitas manusia. Upaya mengubah atau mangganti satu bentuk politik ke bentuk lain adalah wilayah mubah dari perspektif hukum Islam. Tolak ukurnya jelas, ditentukan oleh seberapa efektif dan berhasil institusi politik tersebut dalam mewujudkan kemaslahatan publik.

Masih dalam buku yang sama Bung Karno mengatakan, “mengapa kita musti kembali ke zaman ‘kebesaran Islam’ yang dulu-dulu? Hukum Syariat? Lupakah kita, bahwa hukum Syariat itu bukan hanya haram, makruh, sunnah, dan fardlu saja? Lupakah kita, bahwa masih ada juga barang ‘mubah’ atau ‘jaiz’? Alangkah baiknya, kalau umat Islam lebih ingat pula kepada apa yang mubah atau yang jaiz ini! Alangkah baiknya kalau ia ingat bahwa ia di dalam urusan dunia, di dalam urusan statemanship, ‘boleh berqias, boleh berbid’ah, boleh membuang cara-cara dulu, boleh mengambil cara-cara baru…asal tidak nyata di hukum haram atau makruh oleh Allah dan Rasul!”

Persoalannya, bagaimana dengan pendukung khilafah yang mengklaim bahwa khilafah adalah bagian dari ajaran Islam? Bagi mereka, penegakan khilafah adalah upaya menerapkan Islam secara komprehensif, menyeluruh, secara kaffah.

Jawabannya simpel, Islam memang mengatur semua aspek kehidupan. Aturan dan hukum dalam Islam memang bersifat komprehensif atau kaffah. Namun, harap diingat, cara ajaran Islam mengatur kehidaupan itu berbeda-beda, tergantung domainnya. Dengan kerangka berpikir semacam ini, kita bisa melihat bahwa menurut Bung Karno, khilafah adalah institusi politik yang masuk dalam ranah mutaghayyirat, yang bisa berubah dan berganti sesuai dengan perubahan zaman, karena institusi khilafah adalah produk peradaban manusia.

Menarik untuk dicatat, pandangan keislaman Sukarno semacam ini justru sejalan dengan konsepsi “Islam Berkemajuan” yang saat ini diusung oleh Muhammadiyah. Yakni paham keislaman yang mampu beradaptasi, mengakomodasi, serta menyesuaikan secara tegas dengan dinamika zaman. Dan juga sejalan dengan konsepsi “fikih sosial” dalam perspektif ulama besar NU, KH Sahal Mahfudz. Menurutnya, fikih harus mampu menampilkan dinamisme dan fleksibilitasnya berhadapan dengan perubahan sosial yang melaju kencang.

Dalam arti semacam ini, kita bisa menangkap adanya watak progresif dari agama Islam yang didengungkan Bung Karno, yakni pemahaman Islam yang mampu merengkuh api Islam. Bukan seperti pengusung khilafah yang gagal meraih api Islam, dan hanya mendapatkan abu dan asapnya belaka.

Muhammad Abduh, ulama dan tokoh reformisme Islam mesir abad 19 yang dikagumi Bung Karno pernah mengatakan, al-Islam mahjubun bil muslimin. Islam terhalang/tertutup oleh kaum muslim sendiri. Pernyataan Muhammad Abduh di sini, saya tafsirkan tidak lain daripada watak pengusung khilafah itu sendiri. Kalangan yang ngotot kembali ke sistem khilafah pada hakekatnya membawa umat Islam dalam kemunduran. Islam terhalang jalan menuju kemajuan karena ulah mereka. Padahal, bagi Bung karno, Islam is progress.

Dengan demikian dapat kita tutup, bahwa pemahaman Bung Karno tentang Islamisme menekankan pada rasionalitas dengan dapat dibuktikan dengan pernyataanya, bahwa kemajuan Islam adalah kembalinya penghargaan terhadap akal. Umat Islam harus berani melepaskan diri dari utopis khilafah masa laludan memberanikan diri untuk menatap masa depan yang sarat dengan kompetisi dan kompleksitas kultur dan ilmu pengetahuan. Bukan malah ngotot menegakkan khilafah Islamiyyah yang usang.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2024)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…