Berita

Yahya Waloni, Bukan Tandingan Quraish Shihab

2 Mins read

Lekat dengan nuansa provokatif dan kasar, kini ceramah Yahya Waloni kembali disorot akibat mendoakan Quraish Shihab agar cepat tutup usia. Seharusnya, ia sebagai muallaf yang baru belajar Islam lebih sadar diri dalam bertutur kata, bahwa orang yang dihujatnya ini tidak sebanding dengannya, baik dari keilmuan, akhlak, dan kontribusi yang telah diberikan masyarakat. Demikian, Yahya Waloni yang kerap berkata buruk dalam ceramahnya tidak seharusnya diikuti, karena akan mudah memantik permusuhan dan memecah belah umat.

Siapa yang tidak kenal dengan Quraish Shihab, seorang mufassir kenamaan Tanah Air yang juga telah melahirkan banyak karya yang menginspirasi masyarakat Muslim agar beragama dengan ramah dan berwawasan. Bagi Prof. Quraish kenikmatan beribadah sulit dirasakan, bila dalam keberagamaan seseorang selalu terganggu dengan banyaknya perbedaan, lantas emosi keberagamaan ini menimbulkan pemaksaan yang berlanjut pada kerusuhan.

Adapun yang melatarbelakangi Yahya Waloni berkata demikian lantaran ia tak setuju dengan Prof. Quraish yang menilai sebagai pendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada perdebatan surat al-Maidah ayat 51 yang diunggah oleh kanal Youtube Jarrak Pos Banten TV pada 4 Juni 2018. Meski peristiwanya telah lewat, tetapi ceramah-ceramah Yahya Waloni yang berseliweran di media sosial masih bisa diakses kapan pun. Artinya, penting untuk berkata baik, apalagi seorang penceramah mestinya dapat menunjukkan sikap yang tidak seharusnya suka menghujat, emosional, berusaha lebih ramah, dan penuh hikmah menyampaikan dakwahnya.

Berbalik dengan Yahya Waloni, Prof. Quraish Shihab justru senantiasa berhati-hati dalam menyampaikan dakwahnya. Sepanjang karirnya selama puluhan tahun sebagai pendidik dan pendakwah, tidak pernah terdengar darinya ungkapan kasar atau doa buruk yang ditunjukkan kepada siapapun, walaupun ia tak jarang dituduh kafir, sesat, dan sebagainya. Itu bedanya, ulama yang berkelas dengan orang yang sekadar pansos di media sosial atau mencari sekutu.

Ulama yang berkelas, ia lebih mengedepankan akhlak dan wawasan keilmuannya, berbekal keduanya kebesaran akan menyertainya dan masyarakat dengan sendirinya mengakui hal itu. Sedangkan, ustadz pansos tidak memperhatikan keduanya, baik akhlak maupun ilmunya yang masih dangkal tetap dibanggakannya.

Menurut Tom Nichols dalam buku Matinya Kepakaran (2020), seorang pakar harus bisa mengendalikan emosinya secara stabil, sekalipun ia dalam situasi krisis. Senada dengan sikap Prof. Quraish, kepakarannya dalam ilmu agama menjadikan ia tidak mudah bersikap gegabah dalam mengambil sikap atau bertutur kata. Kendati ia mengetahui kekeliruan atas suatu pemahaman agama, tetapi ia tidak pernah ia menghakimi atau mempermalukan seseorang.

Setiap pakar memiliki kode etik etika kebijaksanaan, yang mana ia mesti mesti memaklumi keawaman masyarakat. Utamanya, seorang yang merasa menjadi pakar keagamaan. Akhlak merupakan fondasi bagi umat beragama yang taat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak (HR. Al-Baihaqi).

Ketulusan atau akhlak yang baik adalah ketika seorang buta dapat merasakan kebaikannya tanpa harus melihat, dan seorang tuli bisa mendengar kebaikannya tanpa telinga. Demikian, kebaikan harus ditebarkan kepada seluruh umat manusia, tanpa terkecuali mereka yang mengalami kekurangan fisik.

Mulai kini, mari kita lebih selektif lagi mengikuti seseorang dalam pemahaman agama, yaitu tidak mengikuti dakwah orang yang berkata kasar, mengajak pada permusuhan, berpikiran ekstrim atau yang kerap memarginalkan orang lain. Ketimbang merespons balik keburukan sikap Yahya Waloni, ada baiknya kita mengabaikannya dan lebih fokus belajar dari Quraish Shihab sebagai ulama kharismatik dalam memberi teladan yang baik.

Related posts
Berita

Amal Baik Tidak Menggugurkan Kewajiban Shalat

Shalat lima waktu adalah ibadah wajib bagi setiap Muslim. Printah ini mutlak sebagai bukti pengabdian hamba kepada Tuhannya, tak bisa digugurkan dengan…
BeritaKolomNasihat

Mencermati Warisan Kolonial di Masa Kini

Kolonialisme bukan sekadar menjadi persoalan masa lalu. Kemerdekaan secara de facto dan de jure yang telah disandang bangsa ini nyatanya bukan jaminan…
BeritaKolom

Terpidana Korupsi Tak Layak Dikasihani

Pengadilan Tinggi DKI Jakarta menerima banding yang diajukan terdakwa kasus korupsi Pinangki Sirna Malasari. Majelis hakim memutuskan memangkas hukuman Pinangki, dari 10…