Kolom

PKS Wahana Terorisme?

4 Mins read

Sikap Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam menanggapi aksi terorisme yang marak terjadi belakangan ini, kembali menjadi sorotan publik. Pasalnya, beberapa pernyataannya seperti mengarah kepada dukungan terhadap gerakan terorisme yang cendrung menyalahkan pemerintah. Dan secara tidak langsung menjadikan PKS sebagai wahana bagi terorisme.

Mardani Ali Sera, Ketua DPP PKS mengatakan, penyebab adanya aksi terorisme adalah masalah pikiran, ekonomi dan ketidakadilan pemerintah. Politikus PKS lainnya, Bukhari Yusuf yang saat ini menjabat sebagai Anggota Komisi Agama DPR RI mencurigai bahwa aksi terorisme di Katredal Makasar pada Minggu (3/2021) sebagai agenda setingan. Hidayat Nur Wahid mengusulkan agar teroris tidak ditembak mati, tetapi ditembak dengan tembakan bius, supaya dapat menggali inforrmasi dari pelaku terorisme.

Sebelumnya, pada 2018 beredar puisi eks Presiden PKS Anis Matta yang berisi tentang pujian dan dukungan terhadap gembong teroris, Osama bin Laden. Secara akal sehat, hanya orang yang memiliki hubungan khusus sajalah yang mengidolakan penjahat teroris kelas dunia macam Osama bin Laden tersebut. Jalan pikirian Osama bin Laden yang memusuhi pemerintah, dipraktikkan oleh PKS. Di dalam negeri, PKS juga yang bersedih dan tidak menyetujui dibubarkannya ormas radikal FPI. Padahal jelas, ormas FPI melanggar peraturan ormas dan dalam visi misinya bertenangan dengan UUD 1945 dan Pancasila, tetapi disini kita dapati PKS tetap mendukung FPI. Bahkan, tahun 2018, terlihat kemesraan antara tokoh PKS Mardani Ali Sera dengan pentolan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Ismail Yusanto.

Narasi-narasi yang dibangun oleh PKS lambat laun membangkitkan gairah bagi kelompok radikal dan kelompok teroris. Mereka akan merasa punya rumah untuk menyusun strategi dan membangun kekuatan, mereka merasa ada yang mendukung dan dilindungi oleh PKS. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan sikap pemerintah yang bertekad tidak memberi ruang sedikitpun bagi radikalisme dan terorisme. Rasanya, selagi masih ada PKS, radikalisme dan terorisme akan sulit ditumpas ke akar-akarnya.

Akan sulit karena PKS selalu menjadikan agama sebagai tameng mereka. Sekaligus PKS juga memiliki legal hukum sebagai partai politik yang diakui keberadaanya. Dengan posisinya sebagai salah satu partai yang diakui negara, PKS dengan leluasa melebarkan sayapnya ke segala penjuru. PKS boleh saja ikut mengutuk aksi terorisme, namun tidak berarti PKS anti terorisme. Dikalangan kampus-kampus misalnya, yang menjadi lahan tumbuh suburnya kelompok intoleransi melalui gerakan-gerakan terbiyah yang menjadi bibit terorisme.

Mengatakan penyebab terorisme adalah ketidakadilan pemerintah, merupakan ciri kecil sifat terorisme. Dalam buku Bayang-Bayang Terorisme : Potret Genealogi dan Ideologi terorisme di Indonesia karya Yudi Zulfahri, seroang mantan pasien pelaku radikal di Aceh, menjelaskan salah satu ciri yang dimiliki kelompok terorisme yakni menyalahkan pemerintah, menganggap pemerintah thogut, kafir dan semacamnya. Salah satu yang melekat dalam terorisme yaitu justifikasi ideologis. Bahwa setiap aksi teror, baik secara fisik maupun indoktrinasi, memiliki background ideologi tertentu. Setiap pergerakan mereka berada di rel ideologi tersebut. Karenanya, menurut Yudi Zulfahri, musuh bagi pelaku terorisme adalah orang-orang yang menjadi musuh bagi ideologinya.

Kita memang tidak menyaksikan secara langsung PKS menolak ideologi Pancasila, nemun kedekatan dan dukungannya terhadap ormas radikal seperti FPI dan HTI yang memiliki cita-cita mendirikn khilafah di bumi pertiwi, sudah cukup memberikan gambara tujuan PKS sebenarnya. PKS sebagai partai politik dengan mudah berkamuflase memberi payung perlindungan dan rumah singgah bagi terorisme yang terpojok. PKS dengan segala tipu daya embel-embel partai Islam, mampu memalingkan citra buruk publik terhadapnya. Akibatnya, banyak kaum muda yang terjerumus masuk PKS didoktrin dengan paham intoleransi dan paham radikalisme.

Untuk itu, perlu pengawasan terhadap generasi muda agar tidak terdoktrin paham radikalisme ala PKS. Tidak hanya generasi muda, saya kira seluruh anak bangsa kalau bisa jangan sampai ikut PKS. Tidak mudah pastinya membentengi temen-temen kita, keluarga kita, dan sudara-saudara kita untuk tidak masuk dalam lingkaran PKS. Meski sulit, namun bukan sebuah ketidakmungkinan untuk melaksanakannya.

Beberapa langkah yang bisa dilaksanakan untuk tidak masuk dalam lingakaran PKS, pertama membenahi literatur media sosial. Mengapa? Karena era ini hampir semua kegiatan bermula dari media sosial. Lewat media sosial, hampir seluruh informasi bisa didapatkan, termasuk berita hoaks dan paham radikal. Kasarnya, hanya dengan handphone dan sambungan internet, dunia seolah dalam genggaman kita. Dengan pembenahan literasi digital, yaitu dengan mengontrol konten-konten yang mesti diakses dan membatasi penggunaan media sosial.

Di era digital ini ideologi teroris pun berkembang mengikuti zaman. Abu Musab al-Suri, seorang jihadi global yang ditangkap pada tahun 2005 di Pakistan dan diserahkan kepada Amerika, telah membangun sebuah ideologi untuk jihad global abad-21, yaitu dengan memanfaatkan sepenuhnya teknologi modern. Jihad modern, menurut Abu Musab al-Suri, tidak dapat mengandalkan organisasi kuno, yang dengan mudah dikalahkan oleh polisi, keamanan, dan pasukan militer. Jihad modern banyak mengandalkan media sosial untuk memperkuat dampaknya. Itulah mengapa literasi digital amat penting guna mencegah paham radikalisme pada generasi muda kini.

Yang kedua, mensosialsisasikan bahwa paham ideologi PKS amat berbahaya. Prof. JE Sahetapi mengatakan, “PKS adalah komunisme dalam kemasan yang berbeda. Mereka komunis dalam kemasan agamis.” Artinya, betapapun manis manjanya PKS, sejatinya itu hanya perupakan kedok belaka. Telah banyak kalangan yang menginginkan agar PKS dibubarkan saja, karena bertumpuknya bukti-bukti PKS mendukung kelompok teroris.

Secara kasat mata, antara prilaku terorisme yang keras dan tidak manusiawi mungkin bertentangan dengan PKS. Rasanya tidak mungkin ada kaitannya dengan PKS yang notabene partai Islam, terlebih banyak kader PKS menuduki jabatan di pemerintahan. Semakin menjauhkan stigma sebagian masyarakat akan kaitannya PKS dengan kelompok teroris. Menjadi tugas kita bersama untuk meluruskan pandangan dan membuka mata hati masyarakat untuk berfikir cermat mengenai PKS ini.

Yang kedua, jangan pernah ikut atau bergabung dengan lembaga-lembaga dan kajian-kajian yang berada di bawah naungan PKS. Sebab, jika sudah masuk ke dalam lingkungan PKS, doktrin-doktrin radikal ala PKS perlahan diterapkan tanpa kita sadari. Gerakan yang mesti dihindari dilingkungan kampus misalnya, adalah gerakan Tarbiyah dan Liko ala PKS. Yang mana melalui kajian-kajian itulah mulai ditanamkannya doktrin intoleransi.

Dengan demikian, telah nampak jelas sekali melalui narasi-narasi yang dibangun oleh PKS yang mengarah pada dukungan terhadap teroris. Narasi dan dukungan itu menjadikan PKS sebagai wahana bagi kelompok terorisisme. Oleh karennya, sebaiknya jangan pernah coba-coba bergabung atau mengikuti PKS. Yakinlah, jika pendapat kita bersebrangan dengan PKS, berati kita sudah benar.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2024)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…