Kabarnya motivasi utama kelompok teroris di Indonesia, melakukan aksi teror di berbagai daerah termasuk bom Makassar dan teror Mabes Polri baru-baru ini dikarenakan keinginan meninggal dengan keadaan syahid. Selain syahid, motivasi surga serta 72 bidadari merupakan supporting yang menggerakan aksi teror tersebut, tentunya sangat konyol mengharapkan surga namun menggapai tersebut dengan cara menghabisi nyawa orang lain.
Sangat ambigu, apabila mengaitkan surganya Allah SWT untuk melakukan pembunuhan apalagi pembunuhan tersebut tidak diajarkan didalam Al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Tentunya, makna yang dipahami oleh kelompok tersebut merupakan kekeliruan, dimana seolah-olah perang dan pembunuhan adalah yang biasa.
Selain itu, impian akan mendapatkan 72 bidadari ini disebutkan dalam hadis riwayat al-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad yang bersumber dari sahabat Miqdam bin Ma’di. Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang mati syahid mendapatkan tujuh keistimewaan dari Allah; diampuni sejak awal kematiannya, melihat tempatnya di surga, dijauhkan dari adzab kubur, aman dari huru-hara akbar, diletakkan mahkota megah di atas kepalanya yang terubat dari batu yakut terbaik di dunia, dikawinkan dengan tujuh puluh dua bidadari, serta diberi syafaat sebanyak 70 orang dari kerabatnya.”
Bagi orang seperti saya, dimana memahami agama sebagai bentuk keyakinan dan kedamaian hadis ini masih bisa dipertanyakan. Walaupun terdapat perawi hadis yang sudah banyak perawi hadis sahih, namun sangat sulit untuk mengamalkannya. Sehingga konotasi hadis dan waktu yang dimaksudkan perlu ditinjau kembali, agar tidak terjebak dalam sebuah hadis dan berakhir kepada tindak pidana.
Selain itu, doktrin jihad dan mati syahid oleh aktor intelektual dalam kelompok teroris menganggap bahwa darah yang ditumpahkan saat aksi teror merupakan keberuntungan dan dianggap sebagai korban yang mulia. Terbalik jika pemikiran kita yang saat ini, dimana membunuh merupakan hal yang dilarang oleh hukum negara dan hukum agama. Allah berfirman dalam QS. Al-Maidah Ayat 32, yakni:
مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ أَنَّهُۥ مَن قَتَلَ نَفْسًۢا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِى ٱلْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحْيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعًا ۚ وَلَقَدْ جَآءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِٱلْبَيِّنَٰتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم بَعْدَ ذَٰلِكَ فِى ٱلْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ
Artinya: Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.
Selain itu, balasan bagi orang yang melakukan pembunuhan seperti yang dijamin Allah ditegaskan dalam QS. An-Nisa: 93 sebagai berikut:
وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآؤُهُۥ جَهَنَّمُ خَٰلِدًا فِيهَا وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُۥ وَأَعَدَّ لَهُۥ عَذَابًا عَظِيمًا
Artinya: Dan barang siapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahanam, dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.
Sedangkan di dalam QS. Al-Baqarah Ayat 256, diterangkan sebagai berikut:
لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَلَهَا ۗوَاللّٰهُسَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
Artinya: Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
Menariknya, QS. Al-Baqarah Ayat 256 seolah-olah membantah pemikiran kelompok teroris dimana mereka memaksakan Islam menjadi agama yang tunggal. Selain itu, tuntutan agar Islam menjadi haluan bernegara dan berbangsa seperti di Indonesia sangat tidak memungkinkan untuk diterapkan, seperti banyak catatan sejarah mencatat bahwa banyak kelompok Islam fundamentalis menginginkan Indonesia bersyariah tetap saja tidak menjadi kenyataan.
Singkatnya, sangat sulit untuk menyelam pemikiran kelompok teroris dimana mengingkan Islam sebagai agama tunggal namun menggunakan agama Islam sebagai landasan melawan ataupun melakukan aksi teror. Sayangnya, Islam tidak mengajarkan untuk membunuh sesama muslim maupun non-Muslim, selain itu iming-iming surga yang diagung-agungkan sangat ambigu untuk dilaksanakan.