Perayaan Paskah, Minggu (4/4/2024) kemarin menjadi puncak beriman umat Kristiani. Proses pemaknaan misteri iman dalam Pekan Suci yang dimulai dari Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, dan Minggu Paskah mengajarkan kita tentang kerendahan hati, pengorbanan, cinta, rasa, dan harapan. Paskah adalah bukti konkrit Tuhan mencintai manusia. Lalu, pertanyaannya, apa yang bisa kita lakukan hari ini untuk memaknai Paskah?
Berbagai Gereja dan Uskup di Indonesia memaknai Paskah kali ini dengan cukup berbeda. Pasalnya, Paskah kali ini dirayakan di tengah Pandemi dan bayang-bayang teror Gereja Katedral Makassar, Minggu (29/3/2025). Nuansa kebangsaan dan kemanusiaan di Paskah kali ini cukup kental terasa. Hal ini terlihat dari khutbah-khutbah yang mengimbau umat untuk lebih peduli terhadap bangsa, negara, dan sesama.
Dalam memaknai Paskah, tentu kita tidak perlu mengorbankan diri dengan disiksa, dicambuk, dan wafat di Kayu Salib seperti Yesus. Menjadi manusia Paskah juga berarti mau belajar dari Yesus yang memberikan karya keselamatan dalam bentuk pengorbanan diri untuk menebus dosa manusia. Pengorbanan Yesus 2000 tahun yang lalu, tentu bisa kita tiru dengan berkarya juga untuk sesama demi kehidupan yang lebih baik.
Melihat umat Kristiani dalam merayakan Paskah tahun ini, rasanya kita melihat harapan mereka menjadi manusia Paskah yang Indonesia. Menjadi manusia Paskah yang Indonesia adalah bentuk ajakan untuk berkarya bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk saudara-saudara kita sebangsa dan setanah Air. Mencintai Indonesia tentu bukan hanya sekadar membeli produk-produk dalam negeri, tetapi juga harus dengan menjaga harkat dan martabat bangsa, menjaga persatuan, gotong-royong, dan menjunjung tinggi kemanusiaan.
Hal ini tentu, tidak hanya berlaku untuk umat Kristiani, tetapi juga semua umat beragama di Indonesia. Sebab, bukan Indonesia jika tidak beragam. Bukan Indonesia jika tidak menjaga persatuan. Adanya aksi teror dan bom bunuh diri di Gereja Katedral, satu pekan sebelum perayaan Paskah menjadi bukti, jika keindonesiaan masih belum nampak dalam diri umat beragama kita. Perbedaan masih menjadi persoalan bagi sebagian kecil masyarakat.
Padahal, ada banyak nilai-nilai penting yang dapat kita petik dari Paskah, khususnya dalam hal kemanusiaan. Diantaranya, pengorbanan. Jika ditarik ke titik awal mula dirayakannya Hari Paskah, kita akan dihadapkan pada satu kejadian hebat, yakni pengorbanan seoarang Yesus untuk umatnya. “Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”, (Matius 20:28).
Ada juga, cinta. Mengutip lagu religius Jesus loves the little children, yang syairnya ditulis oleh C. Herbert Woolston (1856—1927) dan musiknya disusun oleh George F. Root, “Tuhan cinta semua anak. Semua anak di dunia. Kuning putih dan hitam. Semua dicinta Tuhan. Tuhan cinta semua anak di dunia”. Lagu itu menunjukkan bahwa Tuhan mencintai semua anak dari bangsa manapun. Dari kecintaan itu, tidak mengherankan jika Tuhan mengirimkan anaknya yang tunggal, yakni Yesus, yang kemudian dianggap sebagai juru selamat.
Berangkat dari pengorbanan dan cinta, kemudian kita akan menemukan hakikat nilai sebenarnya dalam Paskah, yakni kemanusiaan. Jika merunut ke titik awal kemunculan Yesus di panggung sejarah, kemanusiaan adalah isu kunci dari seluruh potret kenabian-Nya. Kisah tentang Putra Tuhan yang menjelma dalam diri seorang manusia, dengan segala risiko munculnya keraguan abadi tentang kenabiannya yang memperjuangkan kemanusiaan.
Terbukti kemudian, kenabian Yesus di atas basis pembelaan kemanusiaan serentak menarik gelombang dukungan dari massa, rakyat, umat yang sudah jengah dan bosan dengan perilaku feodal pemuka agama dan politik. Mereka melihat perlawanan Yesus lebih daripada sekadar sebuah aksi personal. Mereka memahami Yesus sebagai simbol dari kerinduan dan hasrat yang sudah lama terpendam di susut-sudut keseharian hidup mereka. Fredy Simanjuntak dalam Problematika Disorganisasi Dan Disharmonisasi Keluarga (2018) mengatakan, hubungan penuh kasih dan belas kasihan kepada orang-orang merupakan cermin dari kehidupan Yesus sendiri, penuh kedekatan dan ketidakterpisahan dengan Bapa-Nya.
Yesus sebagai patokan, tokoh central umat Kristiani dalam praktek hidup pelayanan dan pengajarannya mewariskan nilai luhur tentang toleransi. Manusia sebagai sesama wajib hidup harmoni dalam kasih. Dalam Paskah kali ini, pemaknaan perbedaan, kemajemukan masyarakat Indonesia harus dimaknai sebagai anugerah Tuhan dan kekayaan besar bangsa yang wajib dijaga dan disyukuri. Kepelbagaian suku, bangsa, ras dan agama adalah keunggulan dan kekuatan Indonesia sebagai bangsa yang besar.
Cahaya lilin Paskah, yang membuncahkan mata iman umat Kristiani, karena dirayakan di tengah pandemi, sebenarnya menyiratkan pesan-pesan kemanusiaan untuk kehidupan. Pesan-pesan yang melampaui bentangan waktu dan kategori-kategori sosial. Artinya, pesan-pesan itu memiliki makna universal. Pesan yang mengajak tanpa batas, yakni menjaga persatuan dalam bingkai kemanusiaan dan keberagaman.