Kolom

Milenial Kok Jadi Teroris?

3 Mins read

Dua pelaku teror bom bunuh diri di Katedral Makassar, pada Minggu (28/3/2025), diketahui merupakan pasangan milenial. Padahal, kita tahu bahwa milenial sebagai aset bangsa, yang menentukan wajah bangsa ini ke depan. Dengan karakteristiknya, yaitu sadar teknologi, serta toleransi, milenial diharapkan mampu mewujudkan negeri yang aman, dan damai. Namun, pada kenyataannya, milenial saat ini sangat mengkhawatirkan. Pasalnya, banyak yang terpapar paham radikalisme, bahkan sampai melakukan aksi nekat, yaitu bom bunuh diri.

Generasi milenial sendiri adalah generasi produktif yang melek teknologi informasi. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2018, jumlah generasi milenial berusia 20-35 tahun mencapai 24%, setara dengan 63,4 juta dari 179,1 jiwa yang merupakan usia produktif (14-64 tahun). Dengan begitu, tidak salah bila generasi milenial disebut sebagai penentu masa depan Indonesia. Maju mundurnya Indonesia di masa depan, ditentukan oleh kaum milenialnya saat ini. Inilah yang disebut sebagai bonus demografi.

Namun, berdasarkan survei terbaru yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Selasa (30/3/2025), tercatat 80% generasi milenial, rentan terpapar radikalisme. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan. Sebab, masa depan yang damai, aman, dan seimbang hanya akan menjadi sebuah imajinasi belaka.

Kekuatan internet dan media sosial menjadi faktor utama menyasarnya paham radikalisme di kalangan milenial. Tercatat pada awal 2016, ada 88 juta pengguna internet, kemudian 2017 meningkat menjadi 132 pengguna. Jumlah tersebut merupakan separuh dari penduduk Indonesia, yaitu 262 juta jiwa. Sementara, 79% warganet, 106 juta jiwa, merupakan pengguna aktif media sosial. Para kelompok ekstremis, memanfaatkan teknologi untuk menyasar kaum milenial dengan menyebarkan ideologi jihad mereka. Oleh karena itu, segala ide, gagasan radikalisme, dan terorisme disebarkan dengan mudah memanfaatkan kemajuan teknologi.

Media internet mengambil porsi dan peranan yang sangat besar dalam memberikan informasi kepada publik, terutama kaum milenial akan ideologi radikal. Dunia maya telah menjadi bagian penting dalam membentuk pemikiran, perilaku, perbuatan sekaligus gaya hidup manusia. Menurut hasil penelitian Gabriel Weimann menunjukkan bahwa jaringan kelompok teroris mempengaruhi perhatian lebih pada penggunaan dunia maya. Hal ini dapat dilihat dari jumlah dan ragam situs yang dikelola oleh kelompok-kelompok jihadis yang dari tahun ke tahun selalu meningkat.

Sebagaimana tercatat dalam laporan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) 2019, sebanyak 11.803 konten internet dari 2009-2019, yang diblokir karena memuat radikalisme dan terorisme. Hal ini diperparah dengan fakta bahwa perekrutan kaum milenial dalam organisasi-organisasi radikal banyak dilakukan dengan menggunakan media internet. Dengan rentannya generasi milenial terpapar ancaman konten radikalisme, tentu saja amat meresahkan. Sebab, masa depan bangsa menjadi taruhan.

Seharusnya milenial mampu menjadi agen perdamaian, bukan perpecahan. Pasalnya, menurut Lancaster dan Stillman (2002), menyebutkan bahwa generasi milenial mempunyai karakteristik yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Milenial jauh lebih realistis, sangat menghargai perbedaan, lebih memilih bekerja sama daripada menerima perintah dan sangat pragmatis ketika memecahkan persoalan, memilih rasa optimis yang tinggi, fokus pada prestasi, percaya pada nilai-nilai moral dan sosial, menghargai adanya keragaman. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa milenial memiliki karakteristik yang paling utama dan penting, yaitu toleransi.

Dari karakteristik tersebut, seharusnya dapat menjadi modal bagi milenial, untuk membentengi dirinya dari paham radikalisme. Dengan cara cerdas dalam bermedia sosial, atau memiliki literasi digital sehingga mampu menyikapi setiap informasi yang berkembang dengan berpikir kritis. Menurut Farinia Fianto dalam buku Muslim Milenial: Catatan dan Kisah WOW Muslim Zaman Now (2018), menjelaskan bahwa literasi digital secara holistik menekankan pada aplikasi berpikir kritis, berakal sehat, dan berempati, yakni membuka diri, menyelami perspektif lain sehingga mampu memahami dan merasakan dari perspektif berbeda, yang pada gilirannya memunculkan sikap dan karakter yang berintegritas dan humanis.

Milenial harus fokus pada prestasi. Yang mana, milenial seharusnya berjihad dengan cara membranding dirinya melalui prestasi-prestasi yang patut diapresiasi. Milenial dengan kreativitasnya, seharusnya mampu menciptakan berbagai karya yang membanggakan, baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun negara. Peluang besar yang dimiliki oleh milenial saat ini, tentu harus dimanfaatkan dengan baik. Menjadikan media sosial sebagai alat untuk mengobarkan semangat perdamaian, serta pengalaman yang memotivasi dalam kesuksesan.

Milenial saat ini, harus memilih sosok role model yang tepat. Jika ingin mempelajari ilmu agama, tentu harus memilih ulama yang tepat. Yang mana, dakwahnya tidak berunsur pada provokasi dan hanya mencaci maki, tetapi mengarah pada persatuan serta perdamaian. Kemudian, milenial bisa mencontoh beberapa youtubers atau selebgram, yang sering menyampaikan pesan-pesan baik dan memberikan pencerahan mengenai isu yang berkembang. Misalnya, Gita Savitri Devi, seorang milenial yang aktif dalam sosial media, untuk menginspirasi dan mengedukasi para pengikutnya. Maka dari itu, milenial harus cerdas dalam memilih dan memilah akun-akun yang perlu diikuti atau tidak.

Dengan demikian, milenial keren yaitu milenial yang memiliki segudang prestasi. Menjaga agamanya dengan menyebarkan kebaikan. Memajukan negaranya dengan ilmu pengetahun, serta keahlian yang dimilikinya. Bukan malah mencoreng nama agamanya dan memecah belah bangsanya dengan perilaku keji, yaitu bom bunuh diri. Yuk, jadi milenial keren dan kritis, bukan teroris.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2024)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…