Untuk membasmi jaringan terorisme harus dilakukan dari pintu masuknya ekstremisme, yaitu ajaran Wahabi dan Salafi, ujar KH. Said Aqil Siradj ketika membuka webinar Mencegah Radikalisme dan Terorisme Untuk Melahirkan Keharmonisan Sosial, Selasa (30/3/2025) lalu. Dia mengatakan, Wahabi maupun Salafi sama-sama suka mengecap musyrik, bidah, sesat, dhalal, kafir, suka mengharamkan, bahkan sampai halal darahnya boleh dibunuh, jika pahamnya tidak sesuai dengan apa yang telah diajarkan dan dilakukan oleh Rasulullah SAW pada zamannya.
Kiai Said pula mengatakan, apabila bangsa Indonesia ingin menyingkirkan jaringan intoleransi, ekstremisme, dan radikalisme yang berujung ke masalah terorisme, maka harus menumpas paham-paham tersebut sampai ke akar-akarnya. Menurutnya, benih-benih terorisme itu berasal dari ajaran Wahabi dan Salafi. Namun, inti ajaran Wahabisme bukanlah terorisme, tapi dari paham Wahabi itulah muncul bibit-bibit teroris yang akan mengancam negeri, karena ajaran wahabi memusyrikkan segala hal. Untuk itu kita harus mewaspadainya.
Tradisi Wahabi telah menciptakan ketegangan di kalangan umat Islam sendiri, bahkan sampai berdarah-darah. Hal tersebut terjadi karena metode dakwah yang dilakukan Wahabi sering menjustifikasi kelompok Islam lainnya bidah, sesat, kafir, syirik, dan sebagainya. Menurut KH. Chasan Abdullah dalam kata pengantar buku Sejarah Lengkap Wahhabi mengatakan, banyak sejarawan Muslim mencatat, bahwa kemunculan Wahabi ditegakkan melalui kekuatan senjata. Artinya, mereka menebar ajaran Wahabi menggunakan praktik-praktik kekerasan.
Paham Wahabi jika ditelisik lebih dalam lagi, pada dasarnya merupakan bentuk lain dari Salafiyah. Bahkan Wahabi adalah Salafiyah dalam bentuknya yang lebih puritan. Perlu kita ketahui, ideologi pemikiran Wahabi selalu membabat khazanah lokal Islam yang moderat dengan mengafirkannya. Para penganut Wahabi di sini selalu berusaha meyakinkan Muslim lain, bahwa pahamnya tersebut adalah paham yang paling benar. Selain itu, untuk menebar Ideologinya, kaum Wahabi mendirikan tempat pendidikan dan menerbitkan banyak buku dengan sampul yang sangat mewah agar menarik minat pembaca, bahkan buku-buku tersebut dibagikan secara gratis.
Usaha kaum Wahabi dalam meradikalkan penduduk negeri terus terjadi, ketika mereka memberikan beasiswa bagi anak bangsa untuk belajar ke universitas-univesitas di Arab Saudi dan beberapa negara yang sealiran. Perlu kita ketahui, gerakan Wahabi menjadi besar, karena memiliki basis di kerajaan penghasil minyak dunia terbesar dunia, yakni Arab Saudi (Nur Khalik Ridwan, 2020). Kaum Muslimin yang dibunuh atas tuduhan bidah dan kafir menandakan kebenaran ucapan Kiai Said yang di atas. Maka dari itu, kita harus membendung paham Wahabi agar tidak merajalela di negeri nan damai ini.
Berbeda dengan Wahabi, di negeri ini ada Islam Nusantara yang secara normatif dan doktrinnya mengacu pada Islam yang menganut rukun Iman dan Islam kaum ahlussunnah wal jamaah. Ortodoksi Islam Nusantara ini berbeda dengan ortodoksi Islam Arab Saudi yang hanya mengandung unsur Kalam (teologi) Salafi-Wahabi dan Fiqih Hambali. Islam Arab Saudi yang mengandung banyak bidah dan sesat sangat tidak cocok hidup di Nusantara. Selain itu, Islam Nusantara adalah Islam moderat yang representasi adalah Islam Indonesia yang inklusif, akomodatif, toleran, dan dapat hidup berdampingan secara damai dengan umat lain.
Kemunculan Wahabi di negara ini tentu menjadi tantangan bersama. Karena bangsa ini adalah negeri yang majemuk dengan melimpahnya bahasa, adat, suku, kearifan lokal, dan beragam budaya. Sedangkan jika Wahabi menguasai negeri ini, maka kemajemukan tersebut akan hilang dan di bumi hanguskan. Karena kaum Wahabi selalu menyebutkan kelompok lain sebagai ahli bidah yang sesat, kafir, bisa dibunuh apabila tidak bertaubat, dan sejenisnya. Maka dari itu, ucapan KH. Said Aqil Siradj tersebut benar adanya, sebab melalui klaim fitnah itu, ajaran Wahabi menjadi pintu masuk terorisme.