Mantan Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI), Munarman, dengan tegas menyatakan dirinya siap memberikan bantuan hukum untuk Partai Demokrat pimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), anak dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), pemimpin Majelis Tinggi Partai Demokrat. Pernyataan itu ia sampaikan menyusul adanya kisruh dualisme di internal Partai Demokrat antara kubu AHY dengan kubu Moeldoko yang terpilih menjadi Ketua Umum Partai Demokrat hasil Kongres Luar Biasa (KLB) yang digelar di Deli Serdang, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu. Munarman berpretensi bahwa ia akan selalu berada di pihak yang terdzalimi.
Namun demikian, sikap yang ditunjukkan Munarman tersebut mengindikasikan adanya kedekatan antara FPI, yang diwakili Munarman dengan SBY yang menjadi pemimpin Majelis Tinggi Partai Demokrat. Jika kita melihat FPI di era SBY menjadi presiden, maka dukungan atau bantuan yang diberikan oleh Munarman saat ini memberikan sinyalemen kuat kepada kita bahwa FPI memang benar-benar memiliki kedekatan khusus dengan SBY. Setidaknya, ada beberapa alasan, kenapa FPI begitu dekan dengan SBY.
Pertama, FPI di era SBY diberi keleluasaan lebih untuk melakukan aktivitas organisasinya. Sebagaimana diketahui, FPI merupakan organisasi masyarakat (ormas) yang sudah ditetapkan terlarang oleh pemerintah Indonesia pada akhir Desember tahun lalu. Mereka dilarang karena termasuk ormas yang anti-Pancasila dan NKRI, sebagaimana termaktub dalam AD/ART organisanya yang mengusung penerapan syariat Islam dan Khilafah Islamiyah. Bahkan, mereka secara tegas memberikan dukungan kepada kelompok teroris, ISIS dan Al-Qaeda.
Namun demikian, di era SBY mereka mendapat ruang kebebasan berekspresi yang lebih. Bahkan, saking luwes dan tidak tegasnya pemerintahan SBY kepada FPI, FPI kerap melakukan aksi-aksi intoleran dan kekerasan berkali-kali. Abdul Wahab Jamil dalam buku Manajemen Konflik Keagamaan (2014) menyebutkan bahwa FPI kerap dikritik berbagai pihak karena main hakim sendiri yang berujung pada perusakan hak milik orang lain. Rangkaian aksi penutupan tempat perjudian, pelacuran, klub malam, ancaman terhadap warga negara tertentu, sweeping warga negara tertentu, konflik dengan ormas lain, merupakan wajah FPI yang paling sering muncul di media massa.
Aksi-aksi intoleran FPI di atas, nyatanya tak mendapat tindakan tegas dari pemerintah untuk kemudian membubarkannya. Justru sebaliknya, kehadiran FPI terkesan dibiarkan, sehingga FPI dapat berkembang secara masif ke semua lapisan masyarakat, bahkan menyusup ke dalam pemerintahan itu sendiri. Prinsip ‘zero enemy’ yang dipegang SBY, nampaknya membuat FPI kian leluasa untuk terus menjalankan aktivitas organisasinya tersebut. Bagi saya, keleluasaan lebih yang diberikan SBY kepada FPI mengindikasikan adanya kedekatan khusus di antara keduanya.
Kedua, dugaan keterlibatan SBY dalam demo berjilid-jilid Aksi 212. Sebagaimana kita tahu, Aksi 212 merupakan aksi yang fenomenal di tahun 2016 silam. Aksi tersebut setidaknya telah menghadirkan ratusan ribu, bahkan jutaan orang di sekitar Monas hingga Bundaran HI di Jakarta. Salah satu kelompok yang ormas yang menjadi bagian aksi tersebut adalah FPI.
Dalam hal ini, pengamat politik Boni Hargens mengatakan, bahwa SBY merupakan aktor di balik aksi demo berjilid-jilid tersebut. Hal itu didasarkan pada konferensi pers mantan Presiden RI ke-6 tersebut, yang meminta aparat penegak hukum untuk memproses Ahok dalam kasus dugaan penistaan agama, sehingga jangan sampai menimbulkan opini Ahok kebal hukum. Karena jika tidak, maka sampai lebaran kuda pun akan tetap ada unjuk rasa. Menurut Boni, konferensi pers itu merupakan gerakan kekuasaan untuk kepentingan Pilkada DKI 2017. Mengingat, putra sulung SBY, AHY, maju sebagai calon gubernur. Karena itu, kiranya wajar jika SBY memiliki kedekatan dengan FPI. Keterlibatan SBY dalam Aksi 212 merupakan bukti nyata kedekatan di antara mereka.
Ketiga, bantuan hukum dari Munarman kepada Partai Demokrat kubu AHY. Sikap yang ditunjukkan Munarman tersebut merupakan bukti paling mencolok bahwa di antara FPI dan SBY memiliki kedekatan. Jika ditelisik lebih jauh lagi, antara FPI dan SBY terdapat hubungan mutualisme. Bantuan hukum yang dijanjikan Munarman kepada Demokrat kubu AHY kian menegaskan mesranya kedekatan FPI dengan SBY. Keduanya saling membantu guna mencapai kepentingan masing-masing.
Jika kita melihat hubungan kedekatan FPI dan SBY di atas, maka SBY terkesan memelihara ormas intoleran dan radikal tersebut. Mulai dari pemberian keleluasaan yang diberikan SBY kepada FPI selama ia menjabat sebagai presiden hingga kasus demo berjilid-jilid pada 2016 silam. Bisa dibilang, SBY memanfaatkan kedekatannya dengan FPI tersebut demi meraup kepentingan politiknya.
Singkatnya, pemberian keleluasaan yang lebih kepada FPI di era SBY, ditambah keterlibatan SBY dalam Aksi 212 yang berjilid-jilid oleh FPI, dan bantuan hukum dari Munarman yang ditawarkan kepada Partai Demokrat kubu AHY, itu semua merupakan fakta-fakta kedekatan FPI dengan SBY.