Dari 23 negara di wilayah Asia, Indonesia termasuk negara tertinggal dalam membuka Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, menyatakan sekolah wajib memberi opsi pembelajaran tatap muka terbatas setelah pemberian vaksinasi kedua usai dijalani tenaga pendidik (18/3/2025). Kendati demikian, tidak mudah melakukan pembelajaran luring di tengah pandemi, karena itu perlu adanya persiapan matang dalam pembukaan sekolah tatap yang diatur dengan baik oleh sistem dan kerjasama pihak pendidikan yang terkait.
Keputusan melakukan sekolah tatap muka oleh Kementerian Pendidikan merupakan kabar yang menggembirakan. Meski tak menafikan kekhawatiran terhadap potensi penularan virus Covid-19 akan mudah terjadi pasti ada. Lebih dilemanya, jika sekolah tatap muka tidak segera dibuka, maka ironi yang kerap dikeluhkan pendidik dan guru, bahwa metode daring tidak bisa memberi pembelajaran yang kondusif, selain itu data statistik yang ditunjukkan juga sulit diabaikan sebab fenomena pernikahan dini selama pandemi yang kian melonjak.
Berdasarkan publikasi laporan Pencegahan Perkawinan Anak (2020) yang dirilis Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, sebanyak 1,2 juta perkawinan terjadi pada anak dengan usia kurang dari 18 tahun. Bahkan, 61,3 ribu di antaranya belum genap 15 tahun. Fenomena ini menjadi Pekerjaan Rumah (PR) besar bagi pendidikan yang bertanggung jawab mewujudkan generasi emas bagi kemajuan bangsa Indonesia.
Itu sebabnya, PTM merasa sangat diperlukan. Adapun sistem yang bagaimana akan digunakan dalam PTM, maka Indonesia harus menilik sistem di beberapa negara yang sudah menerapkan sekolah tatap muka, seperti di Finlandia, Denmark, Swedia, Norwegia, Inggris, Jerman, Tiongkok, dan lainnya. Pertimbangan lain, PTM lebih baik diselenggarakan sebab berdasarkan data riset atau penelitian rentan wabah Covid-19 banyak menimpa orang dewasa berusia di atas 25 tahun, sementara anak-anak sekolah dasar lebih kecil dan angka kesembuhannya lebih cepat, karenanya siswa di bawah usia 15 tahun diperbolehkan untuk tidak memakai masker. Bagi siswa SMA sendiri metode pembelajaran luring dan daring masih dilakukan secara bergantian.
Kemudian untuk mengurangi aktivitas berkerumunan, siswa hanya berkegiatan dan bertemu dengan dengan teman sekelasnya saja. Wajib bagi siswa membawa bekal pribadi untuk di waktu istirahat atau sekolah menyiapkan katering yang diantarkan langsung tepat di depan kelas. Dalam rangka memfilter, sekolah tidak bisa menerima tamu siapapun, selain siswa, guru, dan yang memiliki kepentingan di sekolah. Jadwal datang dan kepulangan diatur agar tidak menimbulkan kerumunan, orang tua tidak dibolehkan masuk.
Ketika dari salah satu siswa ada yang terdeteksi positif Covid-19, maka harus diisolasi selama 14 hari dan hanya satu kelas saja, termasuk ketika dari satu kelas itu ada yang negatif, paling tidak bukan satu sekolah yang terkena imbasnya. Jika ada yang sakit, siswa mesti diistirahatkan sampai kembali pulih. Hal tersebut sebagai upaya mencegah kerentanan virus masuk pada tubuh yang sedang rendah imunnya.
Di Finlandia, tidak ada pemeriksaan hasil covid menggunakan termometer, melainkan pengecekan Covid-19 dilakukan dengan sebuah aplikasi Penanda Korono (Koronavilku), yang uniknya aplikasi ini menjaga anonimitas atau kerahasiaan pengguna. Konon, sudah dua juta aplikasi ini terunduh dan terpasang di telepon genggam mereka.
Sarana dan prasarana kesehatan menjelang PTM setiap sekolah harus dipersiapkan dengan baik untuk memudahkan peninjauan lebih lanjut perkembangan virus Covid-19 di sekolah. Panduan mitigasi pun harus disiapkan secara lengkap oleh sekolah, sikap apa yang harus dilakukan ketika ada bagian siswa di sekolah terdampak Covid-19, demi menjaga kondusif pembelajaran selama pandemi.
Oleh karena itu, setiap sekolah atau otoritas daerah mesti bekerja sama dengan tenaga kesehatan setempat untuk penanganan awal dan perawatan ketika ada pasien baru yang terdampak agar pembelajaran bisa tetap berlangsung dengan baik. Demikian, meski pembelajaran tatap muka dilakukan dengan kegiatan yang ketat dan terbatas, tetapi paling tidak kedatangan mereka ke sekolah dapat memberi stimulus atau membangkitkan kembali semangat belajar anak yang sempat menghilang. Sebab hal yang paling menakutkan adalah ketika semangat belajar itu pudar,