Ramainya wacana impor beras telah berdampak pada stigma, jika kebijakan pemerintah tidak memihak pada rakyat. Padahal, hakikat seorang pemimpin adalah menjalankan hak dan kewajibannya sebagai abdi rakyat. Dengan artian, dalam kondisi dan situasi apapun, pemimpin harus dapat mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang arif dan berkeadilan. Berkeadilan yang memang dianggap adil oleh sebagian besar masyarakat. Bukan hanya adil bagi sekelompok atau golongan tertentu.
Era globalisasi sedikit banyaknya telah mempengaruhi kebijakan-kebijakan pemerintah terhadap publik. Globalisasi merupakan proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan lainnya. Kemajuan infrastruktur transportasi dan telekomunikasi, termasuk kemunculan telegraf dan Internet, merupakan faktor utama dalam globalisasi yang semakin mendorong saling ketergantungan aktivitas ekonomi dan budaya. Kesenjangan ini, yang sebenarnya harus diwaspadai oleh pemerintah. Sebab, bagaimanapun juga kita tidak bisa terkontaminasi oleh pengaruh luar, khususnya dalam hal budaya dan ekonomi.
Karena itu, kewajiban dari seorang pemimpin suatu negara dapat mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tegas dan memihak kepada rakyat. Kepemimpinan merupakan proses seorang individu untuk mempengaruhi sekelompok individu dalam mencapai suatu tujuan. Tujuan tersebut bukan hanya tujuan yang berisi keinginan pemimpin, melainkan suatu cita-cita yang harus dicapai seluruh rakyat. Proses penetapan kepemimpinan tidak didasarkan oleh sifat yang ada di dalam diri seorang pemimpin, melainkan suatu kesepakatan yang terjadi antara pemimpin dan rakyatnya. Dalam hal ini, para pemimpin sekarang, sedikit banyaknya harus meneladani bagaimana Sultan Agung menjadi pemimpin Mataram dulu.
Globalisasi, sebenarnya bukan hal yang baru dalam sejarah peradaban dunia. Hal dapat kita buktikan dalam sejarah peradaban Islam era Abbasiyyah (750-1517), di mana Islam menjadi kekuatan besar baik dalam hal militer, kebudayaan, arsitektur, maupun intelektual. Faktornya tidak lain, daripada pengaruh globalisasi itu sendiri. Philip K. Hitti dalam History of The Arabs (2018) mengatakan, puncak keemasan Abbasiyah banyak dipengaruhi oleh bangsa-bangsa luar, seperti Romawi, Yunani, dan Persia.
Begitu pun dalam konteks Indonesia, sebenarnya kita tidak lagi asing dengan istilah globalisasi. Era di mana hubungan antar bangsa-bangsa terjadi, baik dalam hal budaya maupun ekonomi. Pelajarannya, bagaimana para pemimpin kita dulu dapat dengan tegas dan arif memutuskan serta mengeluarkan kebijakan yang benar-benar memihak kepentingan bangsa dan rakyat. Seperti yang terjadi pada masa-masa awal VOC datang ke Nusantara, di mana VOC ingin membangun persahabatan dan kerja sama perdagangannya di Tanah Jawa (1614). Namun, dengan tegas Sultan Agung memperingatkan kepada pihak VOC, sebagaimana digambarkan M.C Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (2005), bahwa persahabatan yang mereka sama-sama inginkan tidak akan mungkin terlaksana, apabila VOC berusaha Tanah Jawa.
Di samping ketegasannya, ada pula 3 hal yang dapat kita teladani dari sosok Sultan Agung, sebagai pemimpin Jawa waktu itu. Pertama, semangat kebangsaan. Perjuangan Sultan Agung dalam menghadapi VOC pada kurun waktu tahun 1628 sampai 1629 di Batavia, dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk semangat kebangsaan pada waktu itu. Hal ini, walau dalam konteks yang berbeda, setidaknya seorang pemimpin harus dapat mengambil nilai-nilai perjuangannya terhadap harkat dan martabat bangsa.
Kedua, Cinta Tanah Air. Cinta tanah air merupakan suatu cara bersikap, berpikir, dan berbuat yang menggambarkan rasa kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bangsa. Kecintaan Sultan Agung terhadap Tanah Airnya, ditunjukkan dengan semangat perjuangannya melawan kolonialisme. Ia rela berkorban dan pantang menyerah membela kepentingan bangsa dan rakyatnya. Walau pada waktu itu Indonesia belum terbentuk sepenuhnya, tetapi apa yang telah dilakukan oleh Sultan Agung sebagai seorang pemimpin dapat menjadi teladan dalam hal cinta Tanah Air.
Ketiga, kerja keras. Semangat kerja keras yang ditunjukan oleh Sultan Agung dapat kita lihat, tatkala ia memobilisasi rakyatnya untuk melakukan penyerangan ke Batavia. Penyerangan itu pun bukan hanya sekali saja terjadi, tetapi dilakukan sebanyak dua kali. Hal ini menunjukkan bahwa Sultan Agung benar-benar bekerja keras dalam melawan pendudukan asing di daerah Jawa.
Benar, jika globalisasi tidak sepenuhnya berdampak buruk terhadap suatu bangsa, buktinya Islam pada era Abbasiyah. Namun, berbeda halnya dalam konteks Indonesia, baik Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, maupun Jepang kedatangan mereka di samping memengaruhi budaya dan ekonomi, tetapi juga dalam misi kolonialisme. Menguasai Indonesia dengan segala kekayaan alamnya yang melimpah, sehingga mereka dapat memonopoli perdagangan hasil alam kita.
Karena itu, konteks globalisasi hari ini yang tidak jauh berbeda dengan masa awal-awal pendudukan bangsa Eropa ke kita, harus dibarengi dengan ketegasan dan kearifan dari seorang pemimpin dalam mengeluarkan kebijakan. Pemimpin sekarang harus dapat menjadi representasi kemakmuran rakyat. Jangan sampai rakyat menjadi korban dari kebijakan pemimpin yang tidak berkeadilan. Jauh-jauh hari Sultan Agung telah mencontohkan, bagaimana menjadi pemimpin yang baik dan dicintai rakyatnya. Saatnya, kita hari ini, untuk dapat meneladani dan melanjutkan estafet kepemimpinannya ke depan.