Kolom

KH. Said Aqil Siradj, Ulama Pemersatu Bangsa

2 Mins read

Penganugerahan gelar bangsawan, Kanjeng Pangeran Arya (KPA) oleh Keraton Surakarta Hadiningrat kepada KH. Said Aqil Siradj, menambah prestasi ulama yang penuh kharisma tersebut. Gelar itu diterima, karena dedikasi Kiai Said di bidang keumatan dan pelestarian budaya Nusantara. Perjuangannya menyebarkan Islam Nusantara juga membuat Kiai Said pantas atas gelar tersebut, sebab Kanjeng Pangeran Arya adalah gelar kebangsaan Jawa yang diberikan kepada seseorang yang berjasa banyak bagi kerajaan. Sudah banyak yang tahu, bahwa Kiai Said adalah salah satu tokoh pemersatu bangsa dan penyebar Islam yang berpengaruh di negeri ini.

Terbukti ketika ia masuk dalam daftar 500 Muslim berpengaruh di dunia 2021, dan masuk dalam The Top 50, bersama dua tokoh Muslim Nusantara lainnya, yakni Presiden Joko Widodo dan Habib Luthfi bin Yahya. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini tercatat dalam posisi 46. Yang menarik, ketiganya adalah Muslim yang menganut Islam moderat dan toleran. Sebagai muslim yang berpengaruh, Kiai Said pasti memiliki pandangan, bahwa Islam tidak hanya dikategorikan pada akidah dan syariah saja, tetapi juga Islam sebagai peradaban dan Islam sebagai agama kemanusiaan. Dengan hal tersebut, negara ini dapat berkontribusi bagi perdamaian dunia.

Apabila mengutip dari Clifford Geertz, di buku The Religion of Java, mengkategorikan dengan tiga aliran orang Jawa, yakni abangan, santri, dan priyayi. Istilah abangan adalah sebutan untuk golongan penduduk Jawa Muslim yang mempraktikkan Islam dalam versi yang lebih sinkretis. Istilah santri adalah seseorang yang mendalami agama Islam di pesantren. Sedangkan Priyayi adalah istilah dalam kebudayaan Jawa untuk kelas sosial dalam golongan bangsawan atau seseorang yang kedudukannya dianggap terhormat. Ketiga istilah tersebut, menurut saya sudah ada dalam diri KH. Said Aqil Siradj. Karena saat ini Kiai Said adalah seorang ulama, bangsawan, dan sekaligus budayawan.

Kemudian yang sangat istimewa, adalah ketika ia memuliakan bangsa, negara, dan budaya. Saat berdakwah ia tidak pernah mengesampingkan atau menyudutkan budaya Nusantara. Bahkan ia menjadi salah satu ulama penyebar Islam Nusantara. Islam Nusantara adalah paham yang mengakomodasi kearifan lokal (local wisdom) atau praktik tradisi masyarakat Indonesia yang tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam, tentunya itu sudah sesuai dengan tuntunan Al Quran dan hadis shahih, kata Robikin Emhas saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Kebangsaan Nahdlatul Ulama (NU), di Meulaboh, Aceh Barat, 2019 lalu.

Menurut saya, Islam Nusantara adalah ajaran agama Islam yang tidak menyimpang dari paham sesungguhnya yang diselaraskan dengan budaya Nusantara, sehingga bisa menjadi ajaran pemersatu bangsa. Dengan Islam Nusantara yang digaungkan oleh NU, negeri ini dapat hidup dengan damai. Karena tidak menyingkirkan budaya, kepercayaan, dan agama lainnya. Lain pula dengan Islam pengikut Wahabi, yang menyebut kelompok lain sebagai ahli bidah yang sesat dan halal dibunuh jika tidak bertaubat (Nur Khalik Ridwan, dalam buku Sejarah Lengkap Wahhabi). Jika dibandingkan antara Islam Nusantara dengan Wahabi, maka yang cocok hidup di negeri ini adalah Islam Nusantara.

Untuk itu, Kiai Said memiliki tantangan tersendiri sekaligus menjadi tantangan bangsa, yakni ia harus selalu menyerukan kepada masyarakat akan pentingnya setiap individu memiliki jiwa kebangsaan. Dengan jiwa kebangsaan yang dimiliki setiap orang, maka akan berpengaruh pada situasi dan kondisi lingkungan negeri ini. Karena pada diri seseorang yang memiliki jiwa kebangsaan atau nasionalis, maka paham-paham yang bertentangan dengan Pancasila akan hilang dengan sendirinya dari negeri ini. Inilah tantangan Kiai Said selaku tokoh Muslim yang berpengaruh terhadap kondisi bangsa.

Sementara itu, Kiai Said dalam setiap dakwahnya selalu menekankan kepada jamaahnya untuk mencintai Tanah Air, mencintai Pancasila, menghormati sesama tanpa memandang latar belakangnya, dan segala hal yang melahirkan kebaikan. Dengan demikian, hal ini yang membuat Kiai Said adalah ulama pemersatu bangsa. Berkat pencerahannya dan pengorbanannya dalam mempersatukan umat untuk negeri, ia banyak mendapat penghargaan dan prestasi. Oleh karena itu, gelar kebangsaan yang diterima Kiai Said, sudah sangat tepat. Dan selamat untuk KH. Said Aqil Siradj.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2024)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…