Kolom

Bung Karno, Pemimpin yang Memihak Rakyat Kecil

2 Mins read

Stigma bahwa petani merupakan golongan rakyat kecil tidak dapat pula disalahkan. Sebab, sejauh saya ketahui, khususnya di perkampungan, rakyat yang hidupnya bergantung pada hasil pertanian memang demikian. Ada masyarakat yang hidupnya bergelimang harta dari hasil pertanian, tetapi jumlahnya jauh berbeda dengan yang pas-pasan. Golongan kedua ini, yang sebenarnya harus dirangkul dan dilindungi oleh pemerintah. Dalam artian, pemerintah dapat menjadi jembatan untuknya menapaki kehidupan yang lebih.

Alih-alih menjadi fasilitator para petani mendistribusikan hasil panennya dengan harga yang tinggi, kenyataan yang terjadi malah sering kali sebaliknya. Seperti, wacana impor beras di tengah panen raya. Hasil bumi Indonesia, khususnya padi sebenarnya menjadi salah satu produksi terbesar di Asia Tenggara. Namun, angka pertumbuhan masyarakat yang tinggi, tidak dibarengi dengan suplai padi yang tinggi pula, sehingga impor beras menjadi salah satu solusi terbaik. Tujuannya, tentu untuk dapat memenuhi kebutuhan pangan nasional.

Namun, yang menjadi masalah, wacana impor di waktu yang tidak tepat juga dapat menjadi persoalan. Sebab, tidak semua petani kita merupakan masyarakat yang makmur. Maka dari itu, sudah barang wajib pemerintah sebagai institusi yang memiliki kebijakan harus dapat berada di jalur bersama melindungi, serta memihak kepada rakyat, khususnya masyarakat kecil.

Berbicara tentang keberpihakan pemimpin terhadap rakyat kecil, tentu kita harus banyak belajar dari sosok Bung Karno. Sebagai pemimpin, Bung Karno sukses menjadi abdi bagi rakyatnya. Ia merupakan pemimpin yang secara tegas dan nyata membela kepentingan rakyat kecil. Karena bagi ia, monopoli kapitalisme telah membunuh keberadaan golongan rakyat kecil, baik petani, buruh tani, pedagang kecil, nelayan, maupun sebagainya. Mereka dimiskinkan secara sistematis oleh imperialisme kapitalisme. Hal semacam ini, yang kemudian Bung Karno namani dengan neo-kolonialisme.

Bukan hanya sukses mendedikasikan dirinya sebagai abdi rakyat, tetapi juga sukses membuktikan, jika ia dekat dengan rakyat. Dikisahkan oleh Sigit Aris Prasetyo dalam Bung Karno dan Revolusi Mental (2017), sejak masa kecilnya, Bung Karno telah akrab dengan masyarakat kecil yang hidup di sekelilingnya. Hal-hal semacam ini, yang sekarang kita sulit temukan dari para pemimpin kita. Bahkan, Bung Karno kerap kali menangis tatkala melihat rakyatnya yang masih berada dalam jerat kemiskinan.

Bung Karno sadar betul, jika rakyatnya merupakan bagian daripada hidup dan bangsanya. Karena itu, suatu kewajiban bagi ia sebagai pemimpin menjadi pelindung dan pengayom rakyatnya. Ia sangat menghormati dan mengasihi rakyat kecil, menghargai hal-hal kecil yang dilakukan oleh rakyatnya. Bung Karno memiliki perasaan halus dan lembut. Ia kerap kali tidak tega melihat penderitaan yang dialami rakyatnya.

Hal ini bisa kita saksikan dalam ceritanya tatkala bertemu petani kecil di Bandung, sahabatnya Wagiman, Manap Sofiano, dan masih banyak yang lainnya. Sampai-sampai, sebagaimana ditulis Cindy Adam dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat (2017), bahwa rakyat kecil begitu mencintai Bung Karno sebagai pemimpin merdeka.

Sedikit kisah Bung Karno tentang kedekatan dan keberpihakannya kepada rakyat kecil, dapat menjadi pelajaran untuk direlevansikan oleh kita dan para pemimpin bangsa. Sikap dan kebiasaan Bung Karno untuk ingin selalu berada di tengah-tengah masyarakat kecil harus dapat diteladani betul oleh kita. Sebab, bagaimanapun juga rakyat merupakan jantung suatu bangsa.

Tidak hanya kebiasaan dan sikap, tetapi juga kebijakan-kebijakan Bung Karno yang berpihak pada rakyat kecil harus menjadi pelajaran penting. Menjadi sangat menyayat-nyayat hati, saat menyaksikan rakyat kecil hanya dijadikan komoditas eksploitasi dan korban dari kepentingan politik pribadi dan kelompok elite. Bung Karno telah mencontohkan, bahwa sebaik-baiknya pemimpin adalah yang memihak pada rakyat kecil, bukan malah sebaliknya. Pekerjaan rumahnya, bagaimana kita dapat melanjutkan langkah-langkah baik itu ke depan.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2024)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…