KolomNasihat

Redupnya Kesalehan Informasi Di Media Sosial

3 Mins read

Media sosial telah menyihir sebagian besar umat manusia. Kehadirannya di tengah kemajuan teknologi informasi seolah menjadi potret kecanggihan manusia modern. Pemanfaatan media sosial dalam konteks masa kini merupakan instrument penting untuk mempermudah interaksi dan jaringan dalam berbagai aspek kehidupan, akan tetapi pemanfaat tersebut membuat kesalehan informasi yang diakses kian redup bahkan hilang.

Media sosial menjadi mesin produksi kebenaran. Jika dulu kita melihat benar atau tidaknya suatu informasi, kita akan membaca buku, jurnal dan produk ilmu pengetahuanl lainnya. namun kini, kita cukup membuka media sosial dan akan kita dapatkan semua informasi dan segala serpihan itu. Bahkan, percakapan yang hadir di media sosial hanya melahirkan kebisingan, dengan masing-masing menyimpulkan dan bahkan tanpa kesepakatan.

Di Media sosial, semua orang seolah merasa jadi pakar. Semuanya merasa top dengan memberikan komentarnya. Media sosual menjadi ruang tanpa batas bagi semua orang untuk menyampaikan berbagai informasi setengah matang atau bahkan tidak penting sama sekali. Meminjam ungkapan Tom Nichols dalam bukunya The Death of Expertise, menganalogikan internet dengan Hukum Sturgeon yang mengatakan bahwa 90 persen dari semua hal (di dunia maya) adalah sampah.

Sementara, ungkapan Tom Nichols tentu bukan tanpa alasan, sebab internet dan media sosial telah menjadi sarana penyebaran informasi bohong dan hoax. Menjadi alat untuk menyerang pengetahuan yang sudah mapan. Di dunia maya, kita akan menemukan berbagai perdebatan tanpa memberikan ruang diskusi yang sehat. Di dalamnya, juga ditemukan cacian yang mengecilkan pendapat orang lain yang berbeda.

Bahkan, otoritas keilmuan kalah oleh gelombang viralisasi. Kebenaran yang tak diviralkan adalah kekeliruan. Kesalahan yang diviralkan adalah kebenaran. Media sosial telah memaksa awam pun harus berpikir serius. Akibatnya alur informasi, penalaran dan kesimpulannya kerap keliru, karena informasinya serpihan. Diperlukan kemampuan merakit dan merangkai, menyusun dan membuang informasi agar utuh sebagai bahan pengambilan keputusan. Keberlimpahan informasi tersebut tidak menunjukan rasionalitas, malah sebaliknya jadi sikap irrasional.

Informasi dari media sosial lebih menggairahkan daripada buku. Memang tak perlu berpikir serius, atau menggunakan daya ingat yang kuat. Dalam konteks ini kita telah kehilangan satu fase budaya, yaitu membaca (literasi). Meskipun tak bisa dipungkiri seharusnya masyarakat budaya membaca tumbuh dengan adanya media sosial. Namun, budaya literasi, terlambat berkembang. Justru kini, berkembang budaya jari tangan di media sosial. Lalu lahirlah para pakar instan yang pada akhirnya seleksi sosial yang akan mengukuhkan.

Redupnya kesalehan informasi yang diakses ini bersifat individual-vertikal, dan sosial-horisontal. Artinya, adanya informasi yang ada di media sosial tidak adanya sikap kritis masyarakat terhadap informasi yang didapatkan. Maka dari itu, Pada kondisi seperti ini, tak ada benteng pertahanan yang dapat diandalkan selain diri sendiri. Sebab, area peperangannya sudah bukan lagi dalam bentuk sistem, tapi langsung head to head dengan setiap orang.

Hoaks dan informasi salah yang rutin membanjiri platform media sosial berisiko menyatukan berita nyata/benar dengan berita palsu di benak publik. Fenomena clickbait di dunia digital yang bertujuan menarik pembaca untuk meng-klik berita-berita di media daring memperkeruh kondisi ini. Meskipun demikian, banyaknya pengguna media sosial ini berjalan seiring dengan peredaran hoaks.

Berdasarkan catatan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO), pada 2019, rata-rata terdapat 100 hoaks per bulan, 60 persen di antaranya soal politik. Saat ini, rata-rata lebih dari 100 hoaks per bulan, khusunya hoaks Covid-19. Alih-alih mencerdaskan, hoaks justru menyesatkan publik dengan informasi menyimpang. Jika hal itu dibiarkan, masyarakat bisa terjerumus dalam kubangan kabar yang keliru.

Edukasi dunia digital atau yang lebih mengerucut tentang penggunaan media sosial, menjadi poros dalam mencetak generasi yang seharusnya cerdas menerima informasi. Adapun terdapat tiga rukun saleh berinformasi yang harus dipahami dan diaplikasikan di tengah masyarakat dalam mengakses media sosial, diantaranya pertama yakni tunda. Tunda di sini artinya setiap informasi yang diterima ditunda terlebih dahulu. Jangan mudah percaya begitu saja, apalagi langsung mengomentari dan bersikap.

Kedua, memeriksa dengan teliti rujukan, sumber berita dan apa yang diinformasikan di media sosial. Dalam khazanah ilmu hadis, dikenal istilah sanad, rawi dan matan. Secara sederhana, sanad mengandung makna keterkaitan informan dari informasi sebelumnya. Rawi (periwayat) adalah sebutan bagi penyampai informasi.

Dalam konteks ini, kualitas individu yang saleh, terjaga lisan dan hatinya dari perbuatan bohong adalah syarat mutlak. Sementara matan adalah isi informasi yang disampaikan oleh periwayat. Oleh karena itu, referensi, siapa penyampai informasi dan isinya harus menjadi ukuran penilaian dalam menentukan apakah informasi itu benar atau bohong.

Ketiga, mampu menahan diri untuk menyebarkan semua informasi yang diterima. Tetaplah tenang dan hati-hati. Sikap teliti dan diam jika belum tahu sumber kebenaran informasi harus menjadi pilihan, agar terhindar dari kerusakan dan semakin menyebarnya informasi yang bohong.

Dengan demikian, banyaknya informasi di media sosial membuat redupnya kesalehan informasi masyarakat. Ruang maya yang riuh dan bebas menjadikan batasan-batasan perlu dibuat, agar peng tidak melakukan hal yang dapat melanggar norma di dunia nyata. Oleh karena itu, fungsi literasi menjadikan norma, membatasi gerak dan aktivitas pengguna agar bijak dan saleh bermain dalam lingkungan digital.

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Apakah Orang yang Terkonfirmasi Positif Covid-19 Tidak Wajib Berpuasa?

Islam merupakan agama penuh kebaikan dan rahmat. Hukum Islam selalu sejalan dengan kondisi manusia. Tidak menyusahkan para pemeluknya. Melainkan memudahkan mereka, khususnya…
Kolom

Milenial Bersatu Melawan Terorisme

Aksi bom bunuh diri yang terjadi beberapa waktu lalu di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu (28/03/2025) lalu menandakan paham ekstremisme masih hidup bebas di sekitar kita. Peristiwa kemarin, akan menambah sejarah kelam tragedi mengerikan terorisme di negeri ini. Maka dari itu, untuk mencegah terjadinya kembali peristiwa serupa, kaum milenial harus mengambil peran dalam melakukan hal-hal baik. Karena milenial adalah kekuatan negara yang nantinya memegang teguh tongkat estafet kepemimpinan masa depan bangsa yang akan menuju ke peradaban lebih baik. Untuk itu, kaum milenial harus bersatu padu melawan terorisme agar ideologi tersebut tidak hidup bebas.
Kolom

Keistimewaan Bulan Ramadhan

Ramadhan adalah bulan suci yang selalu dinantikan umat Islam. Pada waktu ini, Muslim yang mampu, diwajibkan untuk menunaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Bulan suci umat Islam ini menawarkan berlipat-lipat pahala dan pengampunan dosa bagi seluruh Muslim. Seseorang yang beribadah saat Ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya, karena Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia. Memperbanyak ibadah di bulan yang penuh berkah ini tentunya menjadi sebuah keharusan bagi umat Islam.