Sektor pertanian, khususnya padi, jagung, dan garam menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini, karena wacana pemerintah yang ingin mengimpor beras. Terlepas pro dan kontra terkait impor beras, ada yang lebih penting dari semua itu sebenarnya. Apalagi, jika bukan masa depan petani? Petani kian hari, kian menemukan masa terpuruknya, di samping kurangnya keberpihakan pemerintah, pun karena minimnya minat para generasi muda dalam melanjutkan estafet dalam bertani. Padahal, persoalan sandang, papan, dan pangan merupakan mati hidupnya bangsa.
Era globalisasi merupakan babak baru dalam kehidupan manusia. Sebab, telah membawa tatanan dunia secara radikal dan revolusioner, sehingga mempengaruhi sendi-sendi kehidupan baik secara sosial maupun ekonomi, khususnya dalam sektor pertanian. Prof. Rhenald kasali dalam bukunya Tomorrow Is Today (2017) menyebut kondisi ini dengan istilah Disruption.
Kondisi, di mana terjadi perubahan yang mendadak dan cepat. Kondisi ini berdampak pada produksi ekonomi yang berbasis tenaga manusia, secara pasti digantikan dengan mesin dan kecanggihan teknologi. Akibatnya, banyak manusia kehilangan mata pencahariannya. Di lain sisi, minimnya inovasi dan refleksi para produsen dalam menjalankan roda perekonomian. Dampaknya, cita-cita berdikari dalam ekonomi yang digagas dalam Trisakti Bung Karno tidak tercapai, karena kita terlalu nyaman menjadi konsumen digitalisasi.
Bung Karno mengatakan, bahwa “ekonomi kita nanti, kita akan buat atas kemampuan kita sendiri, dengan modal kita sendiri, dengan tenaga kita sendiri, dengan kepandaian kita sendiri”. Dalam artian, Bung Karno ingin menjelaskan kepada kita, bahwa kepercayaan diri bangsa Indonesia harus tinggi. Sama halnya tatkala meraih kemerdekaan dengan kekuatan kita, perekonomian juga harus disusun dengan kekuatan yang dimiliki Indonesia.
Era globalisasi, sebenarnya dapat menjadi jembatan emas untuk kita menjadi kekuatan besar dalam segala hal, khususnya dalam industri pertanian. Namun, sayangnya, kesempatan ini tidak dapat disadari betul oleh kita, khususnya pemuda. Pemuda lebih memilih menjadi pekerja kantoran di kota-kota. Kenyataan Indonesia sebagai negara agraris mulai dilupakan oleh generasi yang akan datang. Dwi Andreas Santosa, pengamat Pertanian IPB mengatakan, generasi muda yang terjun ke pertanian terus menurun. Bahkan, sekarang tinggal 8%, dengan komposisi umur petani.
Padahal, Indonesia sebagai negara agraris, mestinya dapat menjadi penyuplai hasil pertanian terbesar. Memang, kita pernah berada di fase itu, sebagaimana dikatakan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (2005), Pulau Jawa merupakan penghasil beras terbesar di asia Tenggara sampai abad XIX. Sedangkan, Sumatera menjadi eksportir lada yang paling diminati dari abad XV sampai abad XVII. Namun, kenyataan itu hanya menjadi sejarah. Sekarang, kita hanya menjadi bangsa penikmat bahan-bahan pangan hasil impor.
Cepat atau lambat, kesadaran tentang pentingnya stabilitas pertanian harus disadari betul oleh masyarakat, pemerintah, dan khususnya pemuda sebagai regenerasi bangsa. Globalisasi bukan menjadi halangan kita untuk kembali pada ladang. Sebaliknya, globalisasi harus menjadi landasan untuk kita dapat berinovasi.
Artinya, kemajuan teknologi di era globalisasi dapat dimanfaatkan sebagai jembatan emas untuk kita menjadi petani sukses. Menjadi petani tidak sekadar dipandang sebagai sebuah profesi, tetapi menjadi petani harus dipandang sebagai pejuang, merawat kepribadian budaya, dan bentuk dedikasi nyata dalam menjaga stabilitas Negara. Sebab, petani memproduksi kebutuhan pangan masyarakat dan berkontribusi dalam menjaga tatanan Negara, tanpa petani Negara tentu akan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya.
Itulah mengapa Bung Karno mengatakan, bahwa petani merupakan Penyangga Tatanan Negara Indonesia dan soal pangan adalah soal hidup matinya suatu bangsa. Kemampuan dalam berinovasi, harus dapat melahirkan petani masa depan yang unggul dan berintegritas. Petani yang dapat mempersiapkan pertaniannya secara sistematis, sehingga menghasilkan hasil pertanian yang lebih menarik, menguntungkan, dan juga berkelanjutan. Kesadaran ini, tentu tidak akan terealisasi jika tanpa dibarengi kesadaran dari para pemudanya. Sebab, pemuda merupakan harapan regenerasi petani di masa depan.